Sutio Utomo, tukang patri yang jadi caleg

Selasa, 11 Februari 2014 12:18 Reporter : Anwar Khumaini
Sutio Utomo, tukang patri yang jadi caleg Sutio Utomo, tukang patri yang jadi caleg. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Dua tiang melebihi tinggi rumah, terpasang menjulang di kanan dan kiri depan rumah Sutio Utomo. Bendera partai ukuran jumbo, sekitar 4 X 3 M pun terus berkibar di bambu yang terikat kokoh antara rumah dan kios tempatnya bekerja.

Sementara di ruang tamu, terpasang banner gambarnya yang mengenakan baju warna biru berpeci hitam. Seperti caleg lain, pria berkaca mata itu berpose pasang muka ramah menyapa, namun tetap menjaga wibawa.

Utomo duduk santai sambil menikmati kopi didampingi tiga pria yang menjadi tim suksesnya.

Bermodal semangat, kerja keras dan doa, Utomo mengusung idealismenya untuk menjadi wakil rakyat DPRD Kabupaten Malang. Dia menyimpan keyakinan akan merebut kursi, dan ingin menyampaikan aspirasi masyarakat kecil yang selama ini terpinggirkan.

"Wong cilik masih banyak yang susah, mereka bingung menyekolahkan anak. Ada dana pendidikan, tapi tidak sampai pada mereka, bahkan dikorup oknum-oknum di sekolah," ucap Utomo dengan mimik serius di rumahnya di Pujon Lor, Kecamatan Pujon, Malang, Sabtu (8/2).

Sehari-hari, Utomo berprofesi sebagai tukang patri, khusus untuk peralatan sprayer panggul. Profesi Utomo ini memang sudah hampir punah. Dia sendiri kebingungan saat ditanya pesaing seprofesinya itu.

Tukang patri biasanya berkeliling kampung menjual jasa menambalan panci dan peralatan dapur dengan menggunakan timah yang dipanaskan. Namun Utomo, khusus hanya menambal sprayer panggul, yakni alat pertanian yang biasanya untuk menyemprotkan pestisida ke tanaman.

Karena bahan sprayer yang tipis terbuat dari aluminium mengharuskan penambalan dengan patri. "Harus dengan patri mas, kalau menggunakan las pasti bahannya meleleh," ungkap ayah tiga anak yang pernah menjadi guru SMP Swasta itu.

Di petak berukuran 2 X 3 M di depan rumahnya, Utomo melayani 'pasien' yang rata-rata dari empat kecamatan dari enam kecamatan yang menjadi dapilnya. Dibantu anak pertamanya, Muhamad Syafii Setiawan (26), menerima sekitar 10 sampai 15 pelanggan sehari. Biaya servis yang dipungutnya berkisar antara Rp 10.000 sampai Rp 50.000,-, tergantung tingkat kerusakan atau banyaknya lubang yang harus dipatri.

Sambil menyervis, Utomo tidak segan ngobrol politik dan membagikan alat peraga kampanyenya berupa kartu nama dan stiker. Karena itu, dia tahu betul dengan persoalan para petani kecil dan buruh tani. "Jika terpilih doakan saya bisa amanah. Saya ingin mendorong dan mengawasi pemerintah untuk meringankan beban wong cilik," katanya.

Utomo mencalonkan diri dari Partai Amanat Nasional (PAN) di daerah pemilihan (Dapil) 7 Kabupaten malang dengan nomor urut 5 (Lima). Persaingan di dapilnya memang berat, namun tidak menyurutkan niatnya untuk bertarung pada 9 April mendatang.

Selama kampanye, dia dibantu dua orang tim suksesnya yang terus berkoordinasi menggalang massa dukungan. Sejak enam bulan lalu, dia sudah bekerja diawali meminta restu kerabat dan saudara. Siapapun, baginya potensi menjadi sumber suaranya.

"Selama mengunjungi rumah-rumah, mereka belum tahu calon yang akan mereka pilih, saya menawarkan alternatif, saya kasih stiker saya," katanya.

Mujahidin, salah satu tim sukses yang sekaligus mantan murid Utomo, mengaku ikhlas membantu. Dia sepeser pun tidak dibayar, namun merasa ada kedekatan saat diskusi. Dia mengaku berbagi pekerjaan dengan teman-temannya untuk sosialisasi ke rumah-rumah, yang rata-rata di lereng-lereng gunung.

"Rumah Pak Utomo ini tempat banyak orang kumpul. Di sini kita diskusi, ada rokok ya dirokok bareng-bareng. Kalau mau berkunjung ya bawa bismillah, malah justru kita yang pasti disuguhi kopi," ungkap Mujahidin.

Laporan: Darmadi (Malang) [tts]

Topik berita Terkait:
  1. Pemilu 2014
  2. Sosok Caleg
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini