Hot Issue

Semak Belukar Jalan PKS dan PDIP

Jumat, 30 April 2021 07:47 Reporter : Muhammad Genantan Saputra, Raynaldo Ghiffari Lubabah
Semak Belukar Jalan PKS dan PDIP PDIP Terima Rombongan PKS. ©2021 Istimewa

Merdeka.com - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melakukan serangkaian safari politik ke partai-partai politik. Salah satu yang menyita perhatian adalah kunjungan partai pimpinan Ahmad Syaikhu ke PDIP.

Momen yang terbilang langka karena mempertemukan dua poros politik nasional yang berseberangan antara oposisi dan penguasa. Ini menjadi kali pertama PKS bertemu PDIP sejak Joko Widodo menjabat sebagai Presiden 2014 silam.

Pertemuan PDIP-PKS digelar tanpa kehadiran ketua umum masing-masing, yaitu Megawati Soekarnoputri dan Ahmad Syaikhu. Rombongan PKS yang dipimpin Sekjen Aboe Bakar Alhabsyi. Sementara tuan rumah, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto memimpin pertemuan.

Syaikhu absen karena menghadiri pemakaman Sekretaris Majelis Syuro PKS, Untung Wahono. Sementara Mega tidak hadir karena menjalankan protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19.

Pertemuan PKS-PDIP Penjajakan Koalisi?

Pertemuan tersebut dinilai upaya PKS untuk membuka koalisi di 2024. Pemilu 2024 akan jadi ajang 'tarung bebas' lantaran tak ada calon Presiden petahana. Kondisi itu membuat peta koalisi menjadi luas.

PKS dan PDIP dinilai bisa saling melengkapi antara kekuatan nasionalis dan Islam. Pertemuan tersebut juga bisa menurunkan tensi politik karena PDIP dan PKS seringkali berlawanan sikap.

"Ini cara PKS membabat semak belukar mengaspal jalan panjang menuju koalisi 2024," kata Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno.

Pengamat Politik dari LIPI Lili Romli juga mengamini ada peluang poros PDIP-PKS terwujud untuk 2024. Meski pertemuan hanya sebatas level Sekjen, Romli menduga komunikasi elite keduanya sudah pasti atas seizin Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri maupun Majelis Syuro PKS.

Romli meyakini arah pertemuan antara partai politik saat ini untuk kepentingan Pilpres 2024. Meskipun dibungkus dengan membahas permasalahan kebangsaan.

"Sekarang melakukan penjajakan itulah bagian dari politik praktis meskipun bungkusnya dalam rangka Covid dan ekonomi itu, tetapi the end nya adalah 2024," ucapnya.

Menurutnya, mendekati pemilu nasional 2024, pertemuan lanjutan antara PKS dan PDIP dengan dihadiri Megawati Soekarnoputri dan Ahmad Syaikhu bisa terjadi. Terlebih, PKS punya sosok Anies Baswedan yang menurutnya punya elektabilitas dan popularitas tinggi.

"Bisa saja PKS mengusung gubernur Anies, bagaimana dapat dukungan dari PDIP untuk memasangkan dengan apa, kan gitu kan," ucapnya.

Tetapi, Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari, menilai berbeda. Dia melihat tak akan ada kelanjutan yang lebih istimewa dari pertemuan PKS dan PDIP. Apalagi jika dikaitkan dengan koalisi di 2024.

Qodari berpandangan, koalisi PDIP-PKS bakal berat terbentuk tanpa kesediaan Megawati bertemu pimpinan PKS. Ditambah lagi, jarak antara PKS dan PDIP selama ini selalu jauh, berbeda, dan bertentangan.

Jika pun punya tujuan sama, tampaknya sebatas pencalonan kepala daerah yang notabenenya tidak terlalu rumit. Serta asal mencukupi syarat mengajukan calon maju.

"Dan itu sebabnya pertemuan hanya sebatas Sekjen, saya kira bu Mega masih belum bersedia atau mau. Apalagi memang belum ada agenda yang sangat besar karena bu Meganya belum bisa dan mau maka otomatis di PKS pun Presiden Partai enggak datang," katanya.

"Jadi kalau ditanya apakah bisa bersatu dalam Pilpres rasanya sih enggak. Kalau Pilkada sering. Tapi kalau Pilpres rasanya enggak," tgas Qodari.

Koalisi PKS-PDIP di Tangan Megawati

Ketidakhadiran Megawati dan Syaikhu menambah daftar Presiden PKS yang gagal bertemu putri proklamator Soekarno itu. Sejak rezim Jokowi, tercatat belum ada Presiden PKS yang bertemu Megawati. Mulai Anis Matta, Sohibul Iman sampai Syaikhu pernah berupaya sowan ke Megawati. Tak ada satupun yang berhasil menemui Presiden ke-5 RI.

Suatu waktu jelang Pemilu 2014, Anis Matta pernah melakukan melakukan penjajakan ke ketum partai. Hampir seluruh ketum partai ditemui. Anis telah mengutarakan keinginan bertemu Megawati tapi pertemuan urung terjadi.

"Kita juga mau ketemu Bu Mega. Kita harus ubah politik sekarang dari dangerous game jadi atraktif. Lucu, seru, tapi nggak membahayakan. Jadinya asyik-asyik saja, menang-kalah biasa," terang Anis pada 28 Januari 2014 lalu.

Karena hal ini PKS dan PDIP tidak satu kubu di Pemilu 2014. PKS akhirnya merapat ke Gerindra membentuk koalisi merah putih bersama Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Bulan Bintang dan Partai Golkar. Koalisi ini mengusung pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Begitupun Sohibul yang menyebut Megawati adalah satu-satunya ketua umum partai politik di Indonesia yang belum pernah dia temui secara empat mata. Pada November 2019, Sohibul berkesempatan bertemu Megawati di perayaan ulang tahun Partai NasDem di Jiexpo, Kemayoran.

Sohibul sudah meminta waktu untuk mengunjungi Megawati. Puan Maharani yang menjawab permintaan Sohibul dengan berjanji mengatur waktu pertemuan. Tetapi, lagi-lagi Sohibul gagal menemui Megawati.

"Yang merespons Mbak Puan. 'Iya mas, kita udah lama enggak ketemu'. Kalau dengan Mbak Puan kan saya sering ketemu. Saya bilang, saya menunggu dari Ibu Mega kapan ada waktu. 'Iya nanti kita cari waktu' (kata Puan)," ujar Sohibul bercerita seperti dikutip Tempo.co. [lia]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini