Sekjen PAN Sebut Belum Ada Obrolan Soal Reshuffle Kabinet

Sabtu, 4 Juli 2020 06:36 Reporter : Muhammad Genantan Saputra
Sekjen PAN Sebut Belum Ada Obrolan Soal Reshuffle Kabinet sekjen PAN Eddy Soeparno. ©2017 Merdeka.com/eddysoeparno.com

Merdeka.com - Sekjen PAN Eddy Soeparno mengungkapkan ,bahwa saat ini belum ada obrolan di internal partainya mengenai reshuffle kabinet dan kemungkinan PAN bakal di ajak bergabung ke pemerintah. Dia bilang, PAN saat ini fokus bantu menangani Covid-19.

"Belum ada (obrolan reshuffle dan gabung kabinet). PAN sampai sekarang masih fokus untuk penanganan Covid-19 di Dapil-Dapil, di mana kita meminta anggota DPR untuk turun secara serius dan intens untuk menangani masyarakat yang terkena dampak Covid-19, khususnya mereka-mereka yang terdampak ekonomi," kata Eddy, Jumat (3/7).

Eddy enggan menjawab bila PAN mau bergabung jika diajak Presiden Jokowi masuk kabinet. Dia bilang, ranah tersebut biar menjadi keputusan Ketum PAN Zulkifli Hasan.

"Yang bisa menjawab itu, yang kompeten menjawab itu adalah Ketua Umum. Dan saya kira biarkanlah jawaban tersebut ada di tangan Ketum, apakah PAN terbuka untuk menerima tawaran Presiden jika memang hal itu terjadi," ucapnya.

Tetapi, lanjut dia, pada prinsipnya untuk hal-hal yang sifatnya positif, kebaikan, dan kebijakan-kebijakan yang bisa menunjang kesejahteraan rakyat PAN pasti mendukung. Apalagi sekarang dalam kondisi Covid-19 di mana perekonomian rakyat itu terpuruk.

"Ya untuk hal-hal yang bisa membangkitkan perekonomian dan kesejahteraan rakyat tentu PAN akan mendukung (pemerintah)," ucapnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi marah, jengkel, melihat kinerja menteri di kabinetnya. Jokowi belum melihat para menteri bekerja ekstra. Padahal, situasi sedang sulit, krisis, akibat pandemi Covid-19. Kemarahan itu dilakukan dalam rapat kabinet 18 Juni lalu.

Orang nomor satu di RI ini bahkan sampai mengeluarkan ancaman bakal mengganti, alias reshuffle menteri yang dianggap bekerja tak sesuai ekspektasi. Bukan cuma itu, Jokowi rela kehilangan reputasi politik demi 267 rakyat Indonesia yang kini kondisi sedang sulit.

"Langkah apapun yang extraordinary akan saya lakukan. Untuk 267 juta rakyat kita. Untuk negara. Bisa saja, membubarkan lembaga. Bisa saja reshuffle. Udah kepikiran ke mana-mana saya," ujar Jokowi dalam video dari Sekretariat Presiden, Minggu (28/6).

Jokowi meminta para menterinya lebih bekerja keras menghadapi krisis tersebut. Menurut dia, saat ini bukan lagi situasi normal yang hanya bekerja seperti biasa.

"Kita harus ngerti ini. Jangan biasa-biasa saja, jangan linear, jangan menganggap ini normal. Bahaya sekali kita. Saya lihat masih banyak kita yang menganggap ini normal," jelas Jokowi.

Atas kemarahan tersebut, sejumlah kinerja menteri pun menjadi sorotan. Baik oleh partai politik pendukung pemerintah maupun para analis politik. [gil]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini