Sekjen PAN nilai pidato SBY soal pemimpin baru amanah bermakna ganda

Selasa, 24 April 2018 15:15 Reporter : Hari Ariyanti
Sekjen PAN nilai pidato SBY soal pemimpin baru amanah bermakna ganda sekjen PAN Eddy Soeparno. ©2017 Merdeka.com/eddysoeparno.com

Merdeka.com - Akhir pekan kemarin, Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berpidato di Cilegon, Banten. Dalam pidatonya, Presiden keenam RI itu menyinggung soal pemimpin baru. Pidato itu dinilai cukup menarik jika dihubungkan dengan persiapan jelang kontestasi politik 2019. Apalagi hingga saat ini Partai Demokrat belum menetapkan dukungan dalam Pilpres mendatang.

"Pernyataan tersebut menarik untuk disimak lebih lanjut. Mengingat PD (Partai Demokrat) belum menentukan arah politiknya," terang Sekretaris Jenderal DPP Partai Amanat Nasional (PAN), Eddy Soeparno kepada merdeka.com, Selasa (24/4).

Kendati dalam pidato itu SBY tidak menyebutkan secara gamblang siapa pemimpin baru yang dikriteriakan harus cerdas, amanah dan memikirkan rakyat, menurut Eddy, pidato itu bisa saja bermakna ganda. Ia mengatakan, kemungkinan itu sebagai optimisme Demokrat dapat membentuk koalisi baru atau poros ketiga. Selain itu juga, dapat bermakna arah politik Demokrat ialah memperkuat koalisi salah satu bakal capres.

"Mampu membangun koalisi baru untuk mengusung capres versi poros ketiga, ataupun memperkuat barisan koalisi salah satu bakal capres," jelasnya.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal PKB Daniel Johan mengatakan, poros baru dapat terbentuk tergantung dari Demokrat. Demokrat menjadi kunci terwujudnya poros ketiga dalam peta perpolitikan Pilpres 2019.

"Poros baru terbentuk atau tidak kuncennya ada di Demokrat. Sebagai juru kunci Demokrat yang menentukan," jelasnya, Selasa (24/4).

Saat ini upaya PKB belum mengarah pada pembentukan poros ketiga. Daniel mengatakan pihaknya sedang fokus dalam upaya terwujudnya pasangan JOIN (Jokowi-Muhaimin Iskandar).

Sebelumnya, Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan menjelaskan perihal pidato SBY tersebut. Menurutnya dalam pidato itu SBY tak menyebut pemimpin baru adalah sosok baru dalam Pilpres 2019.

Pernyataan SBY itu konteksnya menjawab pertanyaan seorang warga, Supandi Harsono yang menyampaikan keinginannya agar SBY mencalonkan diri kembali sebagai Presiden.

SBY kemudian menjawab bahwa konstitusi tidak mengizinkan dirinya maju kembali sebagai Presiden Indonesia setelah memimpin selama dua periode. "Selanjutnya SBY menjelaskan, 'Insyaallah, Partai Demokrat, saya SBY akan mencalonkan nanti pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden yang, Insya Allah, mengerti yang diharapkan rakyat'," jelas Hinca, Senin (23/4). [rnd]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini