SBY Sebut Soal Skenario Gelap, Demokrat Nilai Kritik Terhadap Kapitalisme

Selasa, 5 Oktober 2021 13:50 Reporter : Muhammad Genantan Saputra
SBY Sebut Soal Skenario Gelap, Demokrat Nilai Kritik Terhadap Kapitalisme Susilo Bambang Yudhoyono. ©Liputan6.com/Angga Yuniar

Merdeka.com - Presiden RI Keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan Indonesia dan dunia bakal terjadi skenario gelap bila tidak ada perubahan. SBY mendorong perubahan dengan pembangunan berkelanjutan.

Deputi Bappilu DPP Partai Demokrat Kamhar Lakumani memaknai yang disampaikan SBY tersebut sebagai bentuk kritik terhadap mazhab ekonomi mainstream saat ini.

"Apa yang disampaikan oleh Pak SBY tentang 'keserakahan' adalah sebagai bentuk kritik terhadap mazhab ekonomi mainstream saat ini. Ekonomi kapitalisme yang berwatak eksploitasi tanpa batas sehingga penggerusan terhadap sumberdaya menjadi tak terkendali," katanya, Selasa (5/10).

Kamhar mengakui memang banyak capaian dari kapitalisme, namun tak kurang pula mudharat yang ditimbulkannya. Menurutnya, kesenjangan ekonomi dan sosial semakin terbuka lebar. Serta adanya dampak efek rumah kaca dan global warming.

"Singkatnya ekonomi yang digerakkan keserakahan bukan kebutuhan," jelasnya.

Dia mengatakan, besarnya efek kerusakan yang ditimbulkan kapitalisme telah mendorong kesadaran dan konsep baru yakni green economy atau ekonomi hijau. Sehingga, kritik yang disampaikan oleh SBY adalah kritik substantif dan paradigmatik.

"Ini bukan persoalan suatu negara saja, melainkan persoalan global. Bagaimana mendorong dan mewujudkan cara pandang baru dalam kebijakan pembangunan untuk lebih arif dan memperhatikan aspek keberlanjutan. Menempatkan dimensi humanis dan ekologis dalam pembangunan," tuturnya.

"Tentunya kita sangat berharap kesadaran ini melandasi kebijakan pembangunan nasional kita, sebagai bentuk tanggung jawab global dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang," pungkasnya.

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebelumnya mengingatkan Indonesia dan dunia bakal terjadi skenario gelap bila tidak ada perubahan. SBY mendorong perubahan dengan pembangunan berkelanjutan.

"Skenario gelap akan terjadi mana kala kita tidak melakukan apa-apa, tidak melakukan perubahan yang diperlukan, business as usual," ujarnya dalam Internasional Conference of Islamic Studies yang digelar Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh secara virtual, Senin (4/10).

SBY mengingatkan kekhawatirannya itu melihat angka kemiskinan penduduk hari ini. Kata dia, ada 30 persen penduduk dunia atau setara 2,4 miliar manusia yang tergolong miskin. Sementara di Indonesia, jumlah masyarakat miskin mencapai 10 persen penduduk.

Dia mencontohkan, skenario gelap itu terjadi jika pertumbuhan ekonomi hanya mengejar hidup serakah.

"Misalnya ekonomi kita hanya mengejar pertumbuhan semata-mata atau kita mempertahankan gaya hidup serakah. Bukan kebutuhan kita kejar, tapi keserakahan. Not need but greed," kata Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu.

SBY mengingatkan, sumber daya alam semakin terkuras, bumi semakin panas. Jika tidak ada political will dari elite dan kebijakan nasional dan internasional lemah, maka masa depan suram.

"Kalau masa depan suram secara moral para pemimpin tidak bertanggunjawab tidak bermoral untuk anak cucunya. untuk generasi yang akan datang," kata dia.

SBY menuturkan, praktik ekonomi yang dianut sejak abad 17-18 memberikan dampak luar biasa terhadap alam. Revolusi industri, revolusi pertanian, hingga revolusi teknolgi terus menguras sumber kehidupan.

"Lingkungan tercemar, bumi makin panas, ketimpangan dan ketidakadilan juga semakin menganga. There is something wrong with our economy, with our development," ujar SBY.

Oleh karena itu, SBY mendorong pembangunan berkelanjutan. Ia mendukung dipilih praktik ekonomi hijau atau green economy. Sebab, ekonomi kapitalisme hanya mengejar pertumbuhan berdasarkan hukum dan mekanisme pasar yang absolute yang mengancam kehidupan manusia dan bumi.

Dia mengajak seluruh dunia untuk melakukan transformasi besar menuju green ekonomi atau pembangunan yang berkelanjutan. SBY bilang, yang tidak mampu bertransformasi akan tesisih dan tertinggal. Ia mengingatkan Indonesia juga harus ambil bagian.

"Oleh karena itu yang harus dilakukan kita semua kewajiban dunia adalah semua bangsa di dunia semua negara harus melakukan transformasi besar menuju green economy menuju sustainable development," ujarnya. [bal]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini