Satu keluarga dibakar jaringan narkoba, DPR minta pelaku dihukum mati

Rabu, 15 Agustus 2018 12:02 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
Satu keluarga dibakar jaringan narkoba, DPR minta pelaku dihukum mati Pembakar rumah tewaskan 6 orang. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Wakil Ketua DPR RI Taufik Kurniawan meminta Kepolisian untuk mengusut tuntas kasus satu keluarga di Makassar, Sulawesi Selatan yang dibakar hidup-hidup oleh jaringan bandar narkoba. Menurutnya, aksi ini merupakan tindakan yang sadis dan mengarah ke tindakan persekusi.

"Tindakan ini sudah biadab dan tak bisa ditoleransi. Bukan hanya kasus kebakarannya saja yang diusut, tapi juga bandar narkoba. Bahkan bandar narkoba dari pimpinan sampai ke akar-akarnya harus diberantas," tegas Taufik kepada wartawan, Rabu (15/8).

Taufik meminta, jaringan narkoba dimanapun harus diberantas. Pasalnya, peredaran narkoba ini sudah sangat mengkhawatirkan. Ia meminta petugas untuk tidak bermain-main terkait pemberantasan narkoba. Apalagi, banyak gembong narkoba masih dibiarkan hidup di dalam penjara.

"Eksekusi mati kepada para gembong narkoba ini harus disegerakan, ini dalam kaitan pemberantasan narkoba. Karena gembong narkoba kadang masih mengendalikan narkoba dari penjara. Hukuman seumur hidup rasanya sudah tidak ampuh. Sepertinya eksekusi mati bisa lebih memberikan efek jera," tegas Waketum PAN itu.

Dalam kasus itu, lima pelaku telah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka. Kini dalam pengembangan penyidik untuk mengejar beberapa orang lagi ditetapkan sebagai buronan.

Kapolrestabes Makassar, Kombes Irwan Anwar menyebutkan, pelaku ditangkap itu masing-masing Akbar Ampuh, (32), Andi Ilham Agsari, (23), Wandi, (23), Haidir Muttalib, (25) dan Riswan Idris, (23).

Kejadian berawal saat Akbar Ampuh memberikan narkoba sebanyak sembilan paket ke Muhammad Fahri melalui salah seorang rekannya. Tapi uang hasil penjualan tidak diserahkan Muhammad Fahri sehingga Akbar Ampuh menugasi Andi Ilham Agsari untuk menagih.

Kemudian pada Sabtu (4/8) malam, Andi Ilham Agsari bersama Rahman alias Appang mendatangi Fahri di rumahnya untuk menagih. Namun yang bersangkutan mengelak sehingga dianiaya.

Fahri kemudian bersembunyi ke rumah kakeknya, Haji Sanusi yang tidak jauh dari rumah. Akhirnya terjadilah peristiwa mengenaskan, Senin (6/8) dini hari itu.

6 Orang tewas terbakar di dalam rumah, yaitu pasangan suami-istri Sanusi (70) dan Bondeng (65), anaknya, Musdalifa (30), Fahril (24), dan Namira (24), serta cucunya, Hijas, yang masih berusia 2,5 tahun. [rnd]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini