Sandiaga Potensial, Tapi Gerindra Tetap Ngotot Capreskan Prabowo di 2024

Selasa, 12 Oktober 2021 18:06 Reporter : Muhammad Genantan Saputra
Sandiaga Potensial, Tapi Gerindra Tetap Ngotot Capreskan Prabowo di 2024 Deklarasi Prabowo-Sandiaga Uno. ©2018 Merdeka.com/Iqbal S. Nugroho

Merdeka.com - Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP Partai Gerindra Kawendra Lukistian mengatakan, bahwa seluruh kader Gerindra ingin Ketum Prabowo Subianto maju jadi capres 2024. Menurutnya, para kader sudah menitipkan harapan kepada Prabowo. Sinyal Prabowo bakal kembali diusung jadi capres disampaikan oleh Sekjen Gerindra Ahmad Muzani.

"Tentu hal itu menjadi harapan besar kita semua sebagai Kader Gerindra, ingi Pak Prabowo maju kembali," katanya lewat pesan, Selasa (12/10).

Prabowo menjadi tokoh dari Gerindra yang mondar mandir masuk survei Capres. Elektabilitasnya berada di 5 besar bursa capres. Bersama sejumlah tokoh muda lain seperti Ganjar Pranowo, Sandiaga Uno, Anies Baswedan dan Ridwan Kamil.

Kawendra enggan berbicara lebih jauh apakah peluang menangnya Prabowo akan lebih sulit jika maju capres ketimbang tokoh muda seperti Sandiaga Uno. Menurutnya, keputusan Gerindra sudah bulat mendukung Prabowo.

"Termasuk saya sebagai wasekjen, tentunya akan mengikuti apa yang yang telah menjadi keputusan partai. Nantinya," ucapnya.

Kawendra berharap, eks Danjen Kopassus tetap sehat mengabdi kepada negara. Terlebih, saat ini Prabowo sedang menjabat Menteri Pertahanan.

"Doakan Pak Prabowo agar senantiasa sehat. Terlebih saat ini sedang mengemban amanah besar dari Pak Presiden," tutupnya.

Mencari Capres Ideal

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menilai, Gerindra realistis mengusung Prabowo jadi capres 2024 karena elektabilitasnya masih unggul. Sementara, calon lain terutama non parpol masih kesulitan cari kendaraan politik meski elektabilitasnya bagus.

"Sepertinya Gerindra berpikir realistis. Pertama, dari segi elektabilitas calon, Prabowo masih unggul. Sementara calon lain yang elektabilitasnya relatif bagus kesulitan cari partai macam Anies, RK (Ridwan Kamil), bahkan Ganjar. Begitupun calon dari ketum parpol atau elit parpol elektabilitasnya masih jauh dari Prabowo," kata Adi.

Selain itu, Gerindra ingin mengamankan suara pileg dengan cottail effect. Hal itu terbukti Gerindra selalu kuat dalam sepuluh tahun terakhir karena Prabowo maju pilpres.

" Meski elektabilitas Prabowo paling atas, tapi tak aman untuk memang pilpres. Butuh kerja keras. Untuk ukuran Prabowo yang 2 (pasang) capres (2024), elektabilitasnya minimal 45 persen biar sukit dibalap lawan lain," jelasnya.

Disisi lain, menurut Adi, langkah Gerindra positif. Tetapi disisi lain menyisakan lubang besar karena tak ada regenerasi calon. Padahal di Gerindra banyak kader muda potensial yang layak diusung capres seperti Sandiaga Uno, Ahmad Muzani, Sufmi Dasco Ahmad dan lainnya.

"Satu sisi langkah Gerindra positif, tapi sisi lain menyisakan lubang besar karena tak ada regenerasi calon. Padahal di Gerindra banyak juga kader muda potensial layak diusung macam Sandiaga, sekjend Ahmad Muzani, Dasco, dan lainnya," ujar dia.

Dilema Gerindra

Gerindra jugua dinilai belum aman mengusung Prabowo Subianto sebagai capres 2024. Meski elektabilitas Prabowo paling tinggi, tetapi tidak aman untuk memenangkan pertarungan.

"Terlalu dini menentukan Prabowo sebagai kandidat Capres dari Gerindra, perlu lebih banyak membaca data riset dan kajian tren pilihan publik. Sejauh ini, tren itu menunjukkan elektabilitas Prabowo semakin surut," kata Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion Dedi Kurnia Syah.

Menurutnya, pernyataan pengusungan Prabowo di 2024 lebih pada upaya menguji publik. Kata dia, terlalu dini jika itu sebuah keputusan final mengingat ada dilema antara lain Gerindra memiliki tokoh potensial di luar Prabowo dan sama elitenya yakni Sandiaga Uno.

"Tentu ini persoalan, meskipun Prabowo-Sandiaga sama-sama populer dan elektabilitas keduanya tinggi, tetapi Sandiaga miliki tingkat kesukaan publik yang jauh lebih tinggi dibanding Prabowo, juga tren penurunan elektabilitas Prabowo yang cenderung menurun, berbeda dengan Sandiaga yang miliki peluang meningkat," tuturnya.

Dilema kedua, Prabowo dalam prespektif publik alami kelelahan pemilih dimana ia tidak lagi potensi untuk dijual dalam pemasaran politik. Serta perolehan suara Prabowo sudah memuncak.

"Juga, pengalaman kalah secara berturut mempengaruhi pilihan di mana ia bisa saja diyakini akan kalah kembali, dan ini membuat Prabowo dihindari untuk dipilih," kata Dedi.

Dia melanjutkan, di luar skema itu, tren pilihan capres 2024 adalah tokoh-tokoh baru. Menurut Dedi, Prabowo akan semakin kesulitan menghadapi performa kelompok baru ini.

"Sehingga pilihan bijak Gerindra seharusnya melihat peluang Sandiaga," jelasnya. [ray]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini