Politisi Gerindra: Elektabilitas Prabowo turun karena menahan diri mengkritik

Kamis, 12 Oktober 2017 14:18 Reporter : Sania Mashabi
Jokowi dan Prabowo naik kuda. ©REUTERS/ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Merdeka.com - Beberapa lembaga survei melansir elektabilitas Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto turun dan jauh di bawah Joko Widodo dalam peta pertarungan Pilpres 2019. Lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) melansir, pada September 2017 dukungan untuk Joko Widodo mencapai 38,9 persen sedangkan Prabowo 12 persen. Lembaga Indikator merilis hasil survei jika simulasi head to head seperti Pilpres 2014. Jokowi mendapatkan 58,9 persen suara responden. Sementara Prabowo mendapatkan 31,3 persen.

Politisi Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad melihat, elektabilitas Prabowo turun lantaran saat ini cenderung menahan diri mengkritik pemerintah.

"Prabowo menahan diri untuk tidak terlalu banyak mengomentari jajaran pemerintahan ini untuk memberi kesempatan. Apa yang dilakukan Prabowo bukan tak berdampak, terbukti survei kemarin turun 12 persen karena diam saja," kata Dasco dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi III dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (12/10).

Dia menuturkan, Prabowo cenderung diam dan tidak mau mengomentari pemerintah. Namun para kadernya merasa kecewa karena pemerintah justru sering melontarkan tuduhan-tuduhan secara tidak langsung pada mantan Danjen Kopasus tersebut.

Semisal dalam kasus ujaran kebencian dengan tersangka Asma Dewi. Ada yang mengaitkan ujaran kebencian yang dilakukan Asma bermuatan politis terkait Pilpres 2019. Dia ditanya afiliasinya dengan Partai besutan Prabowo Subianto.

"Dalam kasus Asma Dewi kami mendapat info bahwa pada saat ditangkap beliau ditanya apakah anggota Gerindra kemudian ditanya juga apakah beliau menerima dana dari yayasan Pak Hasim Djojohadikusumo," ungkapnya.

Dia menyayangkan adanya tuduhan-tuduhan dari para penyidik Polri terhadap partai berlambang burung Garuda tersebut. Terutama dalam dugaan Asma terlibat dalam kepentingan Pilpres 2019.

"Penyidikan sampaikan ke media soal Asma Dewi yang jadi anggota WA (Whatsapp) grup gerakan merah putih, lalu menyatakan tak menutup kemungkinan tersangka memiliki peran penting dari rentetan kebencian yang dipersiapkan untuk Pilpres 2019. Hal ini kami sayangkan karena anggota Polri memberi umpan media berspekulasi dan menuduh tanpa dasar sama sekali," ucapnya. [noe]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.