Politikus PDIP Ribka Tjiptaning Kembali Kecam Bio Farma Tak Mau Rugi buat Rakyat

Rabu, 13 Januari 2021 18:45 Reporter : Ahda Bayhaqi
Politikus PDIP Ribka Tjiptaning Kembali Kecam Bio Farma Tak Mau Rugi buat Rakyat Calon menteri di Kabinet Rakyat 2014. ©2014 merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Ribka Tjiptaning mengkritik keras Bio Farma yang bicara untung rugi dalam pengadaan vaksin Covid-19.

Ia menanggapi penjelasan Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir yang memaparkan skema business to business dengan Sinovac. Sementara, untuk Pfizer meminta skema pengadaan business to government.

"Saya cuma mau mempertegas business to business, business to government, dari awal saya sudah ngomong negara tidak boleh berbisnis dengan rakyatnya," ujar Ribka dalam rapat di Komisi IX DPR RI, Rabu (13/1).

Ribka mengecam Bio Farma seolah tidak mau rugi dalam pengadaan vaksin Covid-19 dengan Sinovac. Menurutnya tidak pantas Bio Farma bicara untung rugi dalam persoalan untuk kepentingan masyarakat. Apalagi, Bio Farma disokong APN.

"Tadi statement Bio Farma jelas, Bio Farma tidak mau rugi. Loh saya agak kaget dikit. Ini kan Bio Farma punyanya negara, kok itung-itungan enggak mau rugi," ujar Ribka.

"Bila perlu celana dalam kita jual untuk rakyat kalau udah enggak punya apa-apa. Enggak ada cerita rugi merugi buat rakyat. Nah itu jadi seperti itu kuping saya jadi geli," tegas Ribka.

Dalam rapat ini, Dirut Bio Farma Honesti Basyir menjelaskan skema bisnis dengan perusahaan produsen vaksin seperti Sinovac, Pfizer, dan lainnya. Honesti menjelaskan, skema business to business dengan Sinovac, Bio Farma berbisnis menjalankan fungsi sebagai perusahaan plat merah.

"Seandainya business to business pun kami dari Bio Farma menjalankan fungsi BUMN agent development," kata Honesti.

Dalam proses bisnis itu, Bio Farma didampingi BPKP. Honesti mengatakan, jika Bio Farma mendapat keuntungan bukan untuk bisnis.

"Seandainya kami dapat margin pun bukan dalam pengertian margin untuk bisnis. Tapi margin adalah karena kami butuh working capital untuk itu. Kami butuh riset, kami butuh kapasitas produksi untuk itu," tegasnya. [rhm]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini