Pilkada di Kukar dan Cilegon ?Fenomenal?

Senin, 6 Juni 2005 15:20 Sumber :
Pilkada di Kukar dan Cilegon ?Fenomenal?
Kapanlagi.com

Merdeka.com - Kapanlagi.com - Pelaksanaan Pilkada I (Pemilihan Kepala Daerah) langsung di Kutai Kartanegera (Kukar), dianggap sukses karena berjalan lancar tanpa kerusuhan. Demikian pula dengan Pilkada di Cilegon, secara umum juga dinyatakan berjalan mulus.

Namun di balik itu, pesta demokrasi akbar tingkat daerah itu diwarnai pelanggaran dan kecurangan, mulai dari politik uang sampai intimidasi dan penggandaan kartu suara.

National Democratic Insitute for International Affair (NDI) bekerjasama dengan LSM lokal Pokja 30 melaporkan di Samarinda, Senin (6/6), paling tidak ditemukan 30 kasus pelanggaran mulai politik uang sampai intimidasi.

NDI-Pokja 30 yang terlibat dalam metode perhitungan cepat (quick count) dan voter attitude survey (prilaku pemilih) menemukan puluhan indikasi pelanggaran dan kecurangan.

Sejak awal banyak pihak yang terlibat dalam pelbagai kecurangan dalam proses pelaksanaan Pilkada tersebut, indikasi itu terlihat dari banyaknya kartu pemilih ganda.

Namun, LSM tersebut masih mengumpulkan data dan mengakui, mengalami hambatan terkait dengan sulitnya mencari saksi yang mau berbicara.

Indikasi lain, yakni jumlah pemilih tetap melonjak sangat drastis, misalnya pada Pilpres lalu jumlah pemilih di Kukar sekitar 350.000 orang.

Namun dalam Pilkada ini, naik menjadi 370.000 orang. Kenaikan 20.000 pemilih itu dianggap sangat fantastis, karena pertambahan penduduk dalam satu tahun sebesar itu sangat tidak wajar.

Sedangkan pada proses pemilihan Walikota Cilegon, Minggu (5/6), di sejumlah tempat sempat terjadi kecurangan seperti adanya iming-iming imbalan dan data pemilih ganda.

Seperti yang dikemukakan Dedi Susandi (27), petugas TPS setempat yang mengaku sangat heran melihat daftar jumlah pemilih yang membengkak melampaui jumlah warga setempat yang memiliki hak pilih.

Selain itu, sebagian besar nama yang ada dalam daftar itu tidak dikenal di daerah pemilihan tersebut dan banyak sekali terdapat data yang sangat aneh misalnya sejumlah alamat dan tanggal lahirnya sama seragam, sehingga jelas-jelas itu merupakan data fiktif

Misalnya, di TPS 18 Kampung Serangan Lama, Desa Rawa Arum, Kecamatan Grogol, petugas TPS terpaksa mencoret 211 nama pemilih yang dirasa janggal dan tak dikenal oleh warga setempat sehingga dari 528 nama yang tertera dalam daftar hanya 317 warga yang diberi hak untuk memilih.

Setelah dicek lebih jauh, ternyata data dari pemilih fiktif itu diisi secara serampangan saja misalnya ada pemilih yang diberi nama "So", "Bi" dan "Ho" padahal nama-nama seperti itu jelas cukup asing untuk warga setempat.

Data tersebut jelas merupakan hasil terbitan Dinas Kependudukan, yang seharusnya sudah di uji ulang, melalui proses pencocokan dan penelitian (Coklit) oleh pihak KPUD Cilegon.

Tetapi, kenapa banyak data pemilih fiktif, sementara di lain pihak banyak pemilih, yang mempunyai hak pilih, tidak diberi kartu suara.

Hal ini mungkin bisa sebagai bahan bagi Panwasda, KPUD dan bahkan mungkin Mahkamah Institusi. Agar dalam pelaksanaan Pilkada yang masih akan berlangsung, hal-hal seperti di atas bisa diantisipasi.

Sehingga, apa yang dihasilkan dalam Pilkada tersebut benar-benar murni dan konsekwen. Dan akhirnya, proses untuk menuju pendewasaan masyarakat akan demokrasi, makin cepat terwujud. (rew/bun)

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini