Pilgub Jatim, pertaruhan terakhir jago Demokrat di Jawa

Kamis, 29 Agustus 2013 01:00 Reporter : Mohamad Taufik
Pilgub Jatim, pertaruhan terakhir jago Demokrat di Jawa soekarwo. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Selama ini Partai Demokrat kurang beruntung dalam pertarungan memperebutkan kursi gubernur di Jawa. Setidaknya itu tercatat dalam 4 kali pilgub, di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Banten. Padahal, secara geografis Pulau Jawa ini memiliki 6 provinsi dengan basis utama pemilih untuk pemilu nasional, termasuk pemilu 2014 mendatang.

Dalam kompetisi 4 pilgub terakhir, kekuatan partai politik di Pulau Jawa masih didominasi PDI Perjuangan yang memenangi 2 kali pilgub, memenangkan Joko Widodo (Jokowi) di DKI Jakarta dan Ganjar Pranowo di Jawa Tengah. Golkar juga menguasai dua daerah, mendudukkan Ratu Atut di Banten dan Sultan Hamengkubuwono di Yogyakarta (Jabatan Gubernur Yogyakarta sesuai UU memang milik keluarga sultan). Sementara PKS lebih baik dari Demokrat, partai ini bisa memenangkan Ahmad Heryawan di Jawa Barat.

Dari enam provinsi di Jawa, sekarang hanya tersisa satu kompetisi, yakni di Jawa Timur (Jatim) yang baru Kamis hari ini (29/8) menggelar pilgub. Di Pulau Jawa, basis massa pemilih di Jatim ini merupakan yang terbesar kedua dengan Daftar Pemilih Tetap (DPT) pilgub 2013 sebesar 30.034.249 jiwa, kalah dari DPT Jabar 32.536.980 jiwa, tapi lebih besar dari DPT Jateng sebesar 27.385.985 jiwa.

Dengan basis masa pemilih sebesar itu, Jawa Timur menjadi salah satu wilayah yang dibidik oleh parpol untuk meraup suara pada 2014 mendatang. Bagi partai politik, kontes pilgub itu bisa disebut sebagai ajang pemanasan mesin partai jelang 2014 nanti.

Jatim juga memiliki kultur berbeda dengan daerah lain. Di daerah ini basis massa kaum sarungan, santri atau massa 'ijo' yang diidentikkan dengan massa Nahdliyin, sedikit lebih besar dibanding dengan basis massa lain, misalnya kelompok abangan atau traditional jawa di wilayah Matraman. Oleh sebab itu, selalu ada kejutan dalam Pilgub Jatim, sebab dewasa ini konstelasi politik telah memburamkan sekat kelompok sosial masyarakat itu.

Demokrat misalnya, bersama PKS berhasil merangsek masuk dalam radar politik yang harus diperhitungkan. Itu bisa dilihat pada pilgub 2008 lalu. Dua partai itu berhasil menghantarkan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) menang pada putaran kedua Pilgub Jatim. Meski sebelumnya, tiga lembaga survei memprediksi KarSa kalah dari pasangan Khofifah-Mudjiono (KaJi) di putaran kedua.

Bahkan hasil hitung cepat (quick count) waktu itu juga menandaskan bahwa KarSa kalah. Lembaga Survei Indonesia (LSI) misalnya menyebut KaJi menang 50, 44 persen dan KarSa mendapat 49,56 persen. Sementara Lingkaran Survei Nasional (LSN) menyebut KaJi unggul 50,76 persen dan KarSa 49,24 persen. Lembaga Survei Nasional (LSN) pun merilis hasil mirip, KaJi memperoleh 50,71 persen, sedangan KarSa 49, 29 persen.

Waktu itu, pada putaran kedua KarSa mendapat limpahan suara dari PKB. Sebelumnya, pada putaran pertama PKB mendukung pasangan Achmadi-Suhartono, tapi kalah. Sementara seteru KarSa, pasangan KaJi diusung oleh PPP, pada putaran kedua mendapat limpahan suara dari PDIP, setelah calon yang diusung partai berlogo banteng itu, Sutjipto-Ridwan Hisjam tersisih pada putaran pertama.

Setelah head to head di putaran kedua, KarSa menang dari KaJi. Tiga tahun kemudian, Demokrat merangkul Soekarwo. Dia diangkat sebagai Ketua DPD Demokrat Jatim melalui Musyawarah Daerah Partai pada Juni 2011 lalu. Ketokohan Soekarwo dibidik untuk melanggengkan pamor Demokrat di Jatim. Sayangnya, bandul politik Demokrat di pusat berubah arah, pamor partai itu jeblok. Dalam berbagai survei, citra Demokrat dan SBY merosot.

Penyebab kemerosotan Demokrat banyak, salah satunya karena kasus korupsi yang menjerat sejumlah pengurus teras partai, mulai dari nama Nazaruddin, kemudian menyeret Angelina Sondakh, Andi Mallarangeng, dan Anas Urbaningrum. Di tengah kondisi Demokrat yang terseok-seok itu, partai ini juga terbukti selalu gagal mendudukkan kadernya di kursi gubernur. Padahal, calon yang diusung rata-rata pasangan incumbent.

Dalam Pilgub DKI Jakarta Agustus 2012 lalu misalnya, Demokrat gagal mengangkat kembali Fauzi Bowo sebagai gubernur. Padahal Foke, sapaan gaulnya, waktu itu merupakan calon incumbent yang didukung partai besar dengan dana besar pula.

Demokrat kembali sial dalam pilgub Jabar pada Januari 2013 lalu. Mengusung Dede Yusuf, kader asli yang sebelumnya menjabat wakil gubernur, juga kembali gagal. Bahkan di luar perkiraan banyak survei, perolehan suara yang didulang Dede justru kalah dari perolehan suara Rieke-Teten Masduki yang diusung PDI Perjuangan.

Terakhir adalah Pilgub Jateng pada Mei 2013 lalu. Demokrat yang mengusung Bibit Waluyo sebagai pasangan incumbent juga terperosok. Perolehan suara Bibit kalah dari Ganjar Pranowo, calon dari PDI Perjuangan. Lalu bagaimana di Jatim, kemerosotan pamor Demokrat memang belum terasa di Jatim. Hal itu mungkin baru terasa pada pilgub nanti, apakah Demokrat masih digdaya mengusung Soekarwo-Saifullah sebagai pasangan incumbent.

Kalkulasi politik tidak selalu tepat. Meskipun kedigdayaan KarSa didukung sejumlah lembaga survei, misalnya survei Proximity yang menyebut elektabilitas KarSa 54 persen, sementara Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyebut 49,8 persen, tapi hasil akhir masih bisa berubah. Yang pasti, Pilgub Jatim ini menjadi ajang pertaruhan terakhir jago Demokrat di Jawa.

Wakil Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Marzuki Alie, sempat berkomentar soal kegagalan para calon kepala daerah yang diusung Demokrat. Dia mengatakan, Demokrat selalu salah pilih calon saban pilkada. "Ya kesimpulannya, kita salah pilih calon saja," kata dia singkat beberapa waktu lalu. Lalu bagaimana dengan Jatim, akankah Demokrat salah pilih lagi? [mtf]

Topik berita Terkait:
  1. Pilgub Jatim
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini