Pidato Prabowo Dinilai Hanya Daur Ulang Gagasan Usang

Rabu, 16 Januari 2019 12:56 Reporter : Merdeka
Pidato Prabowo Dinilai Hanya Daur Ulang Gagasan Usang Pidato Kebangsaan Prabowo-Sandiaga. ©2019 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Merdeka.com - Calon presiden Prabowo Subianto tampil dengan jas dan peci hitam, Senin (14/1). Di hadapan pimpinan parpol koalisi dan pendukungnya, Prabowo menyampaikan gagasan sebagai calon presiden, demi menarik simpati masyarakat.

Sekretaris Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Hasto Kristiyanto menuturkan, awal dia menduga yang dihadirkan adalah prolog persiapan debat perdana. Namun, justru gagasan lama.

"Tapi yang ditampilkan adalah gagasan lama. Kalau kita lihat kemarin, disampaikan itu hal yang berulang-ulang," kata Hasto di Posko Cemara, Jakarta, Rabu (16/1).

Hal senada juga dipandang sejumlah pengamat. Yang disampaikan Prabowo dinilai hanya sekadar daur ulang gagasan.

"Ini hanya sebagai daur ulang gagasan-gagasan Prabowo tentang pemerintah Jokowi yang dianggap gagal ucap Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, Rabu (16/1).

Dia melihat, gagasan yang ditawarkan Prabowo masih mencerminkan solusi persoalan bangsa. Misalnya, soal BUMN yang disebut ambruk. Tidak dijelaskan secara gamblang akar persoalan dan solusi yang ditawarkan.

"Dia men-downgrade dan medelegitimasi semua pencapaian Jokowi, tapi contoh-contohnya tidak pernah kongkret. Mestinya kalau disertai contoh dan bukti-bukti, tentu rakyat percaya ini bukan hanya retoris," jelasnya.

Bukan hanya itu saja, kata dia, dalam pidato tersebut harusnya Sandiaga juga bisa diberi ruang. Bukan hanya Prabowo. Jelas ini mempengaruhi massa mengambang atau swing voters, dan pemilih yang belum menentukan pilihan atau undecided voters.

"Kalau begini kondisinya, Sandi ini seakan-akan hanya sebagai pelengkap," jelas Adi.

Dia mengingatkan, pemilih-pemilih seperti itu tak bisa terus dihajar dengan istilah yang bombastis. Harus ada data yang terukur untuk ditawarkan.

"Undecided voter ini tidak bisa diprovokasi dengan istilah-istlah yang bombastis, tidak bisa didekati dengan narasi-narasi yang retoris dan tanpa bukti. Mereka ini akan melihat apa yang disampaikan itu terukur. Apa ukurannya adalah bukti," ucapnya.

Sebelumnya, Peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes, menyayangkan pidato calon presiden Prabowo Subianto semalam, terlalu emosional. Bahkan penuh kritik. "Pidatonya sangat emosional gitu. Punya penuh kritik kepada pemerintah begitu," ucap Arya di kantornya.

Dia menegaskan, apa yang disampaikan Prabowo, tak berpengaruh besar untuk swing voters atau pemilihan yang menentukan pilihannya. "Kalau dari sisi efek, bagi pemilih yang swing atau yang belum menentukan pilihan, efek pidato itu tidak terlalu besar," jelas Arya.

Salah satunya, karena isu yang dipilih. Menurutnya, apa yang disampaikan Prabowo adalah isu Pemilu 2014.

"Karena pertama isu-isunya lebih banyak isu-isu yang digunakan pada pemilu sebelumnya. Soal hutang, soal sumber daya dan isu-isu lainnya. Nah bagi pemilih yang dua tipikal, pemilih baru dan masih mungkin berubah dan yang belum menentukan pilihan, mereka sudah dengar itu juga sebelumnya. Dan mereka mungkin kurang tertarik," kata Arya.

Reporter: Putu Merta Surya Putra [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini