Perketat syarat independen, DPR tak ingin kedaulatan bisa dibeli

Senin, 6 Juni 2016 14:18 Reporter : Dieqy Hasbi Widhana
Perketat syarat independen, DPR tak ingin kedaulatan bisa dibeli Ilustrasi Revisi UU Pilkada. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - UU Pilkada mengatur cara baru terkait syarat verifikasi faktual terhadap dukungan calon independen. Ketua Komisi II DPR Rambe Kamarulzaman menegaskan bahwa syarat calon independen harus mengantongi 6,5 hingga 10 persen suara dari Daftar Pemilih Tetap (DPT).

"Ini bentuk sensus oleh PPS dan ada petugas yang menanyakan dukungan itu. Karena itu dari DPT, maka basisnya NIK. Ada sistemnya," kata Rambe di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (6/6).

‎Politikus Partai Golkar ini menjelaskan, aturan yang lebih ketat tersebut untuk mendukung hak kedaulatan seseorang. ‎"Biar lebih legitimate dan demokrasinya lebih pas. Jadi kedaulatan yang digunakan benar-benar untuk kedaulatan bukan untuk uang," tuturnya.

Rambe mengungkapkan, nantinya akan memakai metode seperti sensus penduduk. Usulan tersebut merupakan usulan DPR dan pemerintah.

"Pemerintah dan DPR. Pemerintah yakin itu bisa dalam bentuk sensus," pungkasnya.

Seperti diketahui, ada dua jenis verifikasi yang diatur dalam pasal 48 UU Pilkada. Pertama adalah verifikasi administrasi yang dilakukan KPU tingkat provinsi/kabupaten/kota dibantu oleh Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Panitia Pemungutan Suara (PPS).

Kedua, adalah verifikasi faktual dengan metode sensus dengan menemui langsung setiap pendukung calon yang menyerahkan KTP-nya. Jika pendukung calon tak bisa ditemui, maka pasangan calon diberi kesempatan untuk menghadirkan mereka di Kantor PPS. Namun, jika pasangan calon tak bisa menghadirkan pendukung mereka ke Kantor PPS, maka dukungan calon dinyatakan tidak memenuhi syarat. [rnd]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini