Perkembangan Teknologi jadi Salah Satu Tantangan di Pemilu 2019

Selasa, 15 Januari 2019 12:34 Reporter : Merdeka
Perkembangan Teknologi jadi Salah Satu Tantangan di Pemilu 2019 Moeldoko di Universitas Brawijaya. ©2018 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Pertama kalinya, Indonesia menggelar Pemilihan Presiden dan Anggota Legislatif berlangsung bersamaan. Sesuai jadwal, Pemilu digelar serentak 17 April mendatang.

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal Purnawirawan TNI Moeldoko dalam pidatonya yang dibacakan Deputi V Kantor Staf Presiden Jaleswari Pramodhawardani membeberkan tantangan Pemilu 2019. Meskipun pemilu bagi bangsa Indonesia bukan hal yang baru karena telah dilakukan sejak 1955.

"Penyelenggaraan Pemilu kini justru memiliki tantangannya sendiri. Penataan sistem Pemilu serentak yang masih terus disempurnakan, pejabat, kelembagaan parpol, politik transaksional, dan rendahnya kepercayaan publik terharap integritas calon-calon politik masih menjadi tantangan yang harus diselesaikan," ucapnya pada pembukaan diskusi publik bertajuk 'Pemilu, Hoaks dan Penegakan Hukum' di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Selasa (15/1).

Di sisi lain, perkembangan teknologi informasi juga menjadi tantangan tersendiri. Meski memiliki dampak positif di bidang komunikasi, teknologi informasi juga berdampak negatif dalam penyelenggaraan Pemilu.

Terutama, kata dia, dalam konteks banyaknya disinformasi, ujaran kebencian, dan konten-konten yang mengandung berita bohong yang bertebaran dan meresahkan, serta mengadu domba dan memecah belah. Oleh karena itu, kemunculan hoaks dan ujaran kebencian penting untuk diantisipasi.

"Hal ini agar masyarakat tidak terjebak dalam berita-berita politik yang tidak benar, yang juga berpotensi menjatuhkan kandidat-kandidat Pemilu, baik legislatif maupun eksekutif, sehingga bisa menciderai kehidupan demokrasi di Tanah Air," tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Moeldoko juga memberi contoh bagaimana hoaks berpengaruh signifikan dalam Pemilu Amerika Serikat beberapa tahun lalu. Menurutnya, saat itu banyak sekali situs yang dikelola relawan Donald Trump untuk menyerang lawan politik dengan hoaks dan konten negatuf lainnya.

Lebih lanjut, mantan Panglima TNI itu menegaskan, berita bohong dan hoaks sebetulnya bukan hal baru di Indonesia. Namun yang menjadi hal baru adalah kombinasi unik antara algoritma medsos, sistem periklanan, dan orang-orang yang siap mengarang cerita dengan motif uang, "Dan pemilu yang sedang berlangsung di suatu negara," ucapnya menandaskan.

Reporter: Nafiysul Qodar
Sumber: Liputan6.com [lia]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini