Performa Demokrat 2014: Jeblok karena tersandung korupsi

Sabtu, 12 April 2014 06:38 Reporter : Randy Ferdi Firdaus, Yulistyo Pratomo
Performa Demokrat 2014: Jeblok karena tersandung korupsi Kampanye Demokrat di Sidoarjo. ©Rumgapres/Abror Rizki

Merdeka.com - Sejak disahkan menjadi partai politik oleh Kementerian Hukum dan HAM pada 27 Agustus 2003. Keberadaan Partai Demokrat sempat menjadi fenomena baru dalam peta perpolitikan Tanah Air. Namanya makin menjulang sejak membawa nama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai figur sekaligus calon presiden.

Keikutsertaan pertamanya pada Pemilu 2004, belum memberikan hasil signifikan bagi partai berlambang bintang mercy ini. Demokrat berada di posisi kelima dengan perolehan 8.437.868 suara (7,46 persen) dan mendapat jatah 55 kursi di DPR RI.

Namun, koalisinya bersama Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) berhasil membawa pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK) ke kursi kepresidenan. Pasangan ini meraup 69.266.350 suara (60,62 persen), dalam dua putaran dan menggeser Megawati dan Hasyim Muzadi yang diusung PDIP yang meraih 44.990.704 suara (39,38 persen).

5 Tahun pertama kepemimpinan SBY memberikan berkah yang luar biasa bagi Demokrat. Sebab, pada Pemilu 2009, partai ini melesat menjadi pemenang pemilu legislatif dengan perolehan 21.655.295 suara (20,81 persen). Alhasil, partai ini mendapatkan jatah 148 kursi di DPR RI.

Dalam Pilpres 2009, Partai Demokrat percaya diri mengusung pasangan capres-cawapres dari internal, yakni SBY - Boediono dan berhasil menang dengan 60,80 persen, mengungguli dua pasangan lainnya yakni Mega - Prabowo 26,79 persen dan JK - Wiranto 12,41 persen.

Perolehan suara Partai Demokrat versi hitung cepat di Pemilu Legislatif 2014 runtuh, setelah periode sebelumnya merajai pemilu. Partai besutan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hanya memperoleh suara sekitar 10 persen, atau terjun bebas dari target 15 persen.

Pengamat Politik dari Charta Politika, Yunarto Wijaya melihat apa yang dicapai Demokrat saat ini sudah terpantau dalam dua tahun terakhir. Apalagi, menjelang lengsernya SBY sebagai presiden membuat tidak ada lagi sosok yang dapat menggantikannya untuk menjadi salah satu tokoh besar dalam partai.

"Partai ini seakan menjadi fans club buat seorang SBY, sehingga ketiadaan seorang SBY untuk menjadi capres tidak dapat menaikkan elektoral mereka dalam pemilu," ujar Yunarto saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (11/4) kemarin.

Tak hanya itu, isu korupsi yang mendera partai sejak ditangkapnya Nazaruddin, berlanjut pada Angelina Sondakh dan penetapan status tersangka terhadap mantan Ketum Demokrat Anas Urbaningrum membuat kemerosotan tajam bagi perolehan suara mereka.

"Faktor isu korupsi yang menerpa Demokrat dalam dua tahun terakhir membuat critical voters di kota-kota berkurang tajam. Dalam survei partai politik yang tidak disukai Demokrat berada dalam peringkat pertama," tandasnya.

Tak hanya itu, pasca penetapan Anas sebagai tersangka dalam kasus Hambalang membuat soliditas partai ini terpecah. Sehingga membuat pemilihnya pada Pemilu 2009 lalu ke partai lain menjadi terbuka. [tyo]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini