Pengamat: Jokowi Kecolongan, Mendag dan Menteri Investasi Perlu Direshuffle

Senin, 19 Juli 2021 14:54 Reporter : Dwi Aditya Putra
Pengamat: Jokowi Kecolongan, Mendag dan Menteri Investasi Perlu Direshuffle Jokowi Pimpin Rapat Kabinet Paripurna Perdana di Istana. ©2019 Liputan6.com/Angga Yuniar

Merdeka.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) marah besar saat rapat terbatas dengan para pembantunya beberapa waktu lalu. Kemarahan itu muncul ketika Jokowi mengetahui dua menterinya, yakni Menteri Perdagangan M Luthfi dan Menteri Investasi Bahlil berada di luar negeri saat krisis pandemi Covid-19.

Menteri Luthfi dan Bahlil berada di Amerika Serikat selama sembilan hari dengan membawa agenda penguatan hubungan ekonomi. Misi keduanya dikabarkan berhasil membawa pulang investasi USD350 juta atau setara Rp5,068 triliun. Tapi bukan itu yang Jokowi mau.

Pengamat Hukum Indigo Network, Radian Syam mengatakan, Presiden Jokowi telah 'kecolongan' dengan perginya dua menter tersebut di tengah kondisi PPKM Darurat. Dia menilai, jika memang kepergian kedua menteri itu mendapatkan restu dari Jokowi, maka tidak akan menjadi masalah besar.

Dia mengatakan, di dalam tugas kenegaraan atau kunjungan diplomatik ke negara-negara tujuan, tentu ada mekanismenya. Harus ada komunikasi administratif. Atau paling tidak diketahui dan sudah mendapatkan persetujuan dari Kepala Negara.

"Kalau misalkan ternyata terbukti ini dalam sekali lagi 'kecolongan' tanpa izin ya presiden harus evaluasi. Kalau memang dalam bahasa (politik) perlu pergantian atau di-reshuffle. Karena ini penting harus dilakukan, karena itu juga kewenangan presiden," kata dia saat dihubungi merdeka.com, Senin (19/7).

Dia melihat, kemarahan Presiden Jokowi kepada anak buahnya tersebut harus diacungi jempol dan diapresiasi. Karena presiden betul-betul melakukan evaluasi menyeluruh kepada para menterinya yang memang tidak senapas dengannya.

"Jadi kalau misalkan ada menteri yang nakal kewenangan presiden sekali lagi untuk mengevaluasi kepada menterinya," jelas dia.

Soal Investasi

Radian melanjutkan, jika memang kepergian kedua menteri dalam rangka agenda penguatan ekonomi, utamanya untuk mengerek investasi, juga sangat tidak tepat sekalipun ada nilai investasinya. Karena kepergian tersebut dilakukan di tengah kondisi krisis pandemi Covid-19 di Indonesia.

Dia menambahkan, jika memang ada nilai investasinya juga setra merta tidak ada di depan mata. Karena pencairannya pun butuh proses. Artinya tidak hanya dalam satu hari dua hari, bahkan dalam hitungan bulan investasi tersebut juga belum tentu cair.

"Jadi artinya harus dilihat tingkat urgensinya di mana keberangkatan mereka ini," tandasnya.

Diketahui, Suasana tegang dalam rapat kabinet terbatas, Jumat (16/7). Hanya dihadiri beberapa orang Menteri Kabinet Indonesia Maju. Dipimpin langsung Presiden Joko Widodo. Pria yang akrab disapa Jokowi itu tidak bisa lagi menahan kekecewaannya. Tak ada lagi kompromi. Melihat perilaku anggota kabinetnya.

Laporan masuk ke meja Presiden. Dua orang menteri melawat ke luar negeri. Dikabarkan berada di Amerika Serikat. Terlibat dalam sebuah rekaman video berdurasi delapan detik. Menteri Perdagangan Muhammad Luthfi dan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia. Mereka berjalan bersama. Sambil bersendau gurau dan tertawa lepas.

"Jokowi marah saat ratas tadi. Karena ada dua menteri yang ke luar negeri. Ya dua menteri itu," ujar sumber merdeka.com dari balik tembok istana, Jumat (16/7).

Kunjungan ke luar negeri dilakukan tidak pada waktunya. Kondisi di tanah air tengah genting. Lonjakan kasus Covid-19 terjadi. PPKM Darurat diterapkan untuk membatasi aktivitas. Sementara menterinya, justru terbang ke belahan benua lain.

"Jokowi marah banget sama dua menteri itu," lanjut sumber tersebut.

Sekretaris Kabinet Pramono Anung salah satu yang hadir dalam ratas. Presiden langsung melarang semua menterinya ke luar negeri. Ada pengecualian untuk Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Jika ada menteri yang harus ke luar negeri, wajib mendapat izin dari Kepala Negara. Tidak bisa ditawar lagi.

"Untuk itu seluruh menteri, kepala kementerian lembaga dilarang bepergian keluar negeri," kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung dalam akun Youtube Sekretariat Presiden. [rnd]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini