Peneliti SMRC: Golkar Bisa Berkoalisi dengan NasDem, Lawannya PDIP dan Gerindra

Senin, 25 Oktober 2021 09:24 Reporter : Merdeka
Peneliti SMRC: Golkar Bisa Berkoalisi dengan NasDem, Lawannya PDIP dan Gerindra jokowi-maruf tanggapi Hasil hitung cepat. ©Liputan6.com/Angga Yuniar

Merdeka.com - Peneliti politik dari SMRC Saidiman Ahmad mengatakan, Golkar berpeluang membangun koalisi dengan NasDem. Koalisi ini bisa jadi akan mengusung Airlangga Hartarto di Pemilu 2024.

"NasDem menjadi lebih mungkin (berkoalisi dengan Golkar). Misalnya NasDem mendorong orang seperti Ridwan Kamil berpasangan dengan Airlangga," kata Saidiman, dikutip Senin (25/10).

Dia menuturkan, Golkar di Pilpres 2024 ada kemungkinan untuk melanjutkan tradisi mereka untuk mengusung calon presiden atau wakil presiden dari internalnya. Karenanya, lanjut Saidiman, Airlangga Hartarto yang paling berpeluang didorong oleh partai berlambang pohon beringin itu di Pilpres 2024.

"Tantangannya dari sisi penerimaan publik, tetapi ada temuan mulai ada perkembangan," ungkap dia.

Sadiman mengatakan, partai Golkar juga dimungkinkan membangun koalisi dengan partai-partai lainnya yang eks -Golkar. Meski tidak bisa dipungkiri masih ada peluang berkoalisi dengan PDIP.

Namun itu kembali kepada PDIP dan Gerindra yang selama ini berpeluang mengusung pasangan Prabowo Subianto-Puan Maharani.

"Koalisi PDIP dan Gerindra justru ada peluang tetapi tidak besar. Karena kalau berkoalisi dengan Gerindra, pertanyaannya siapa yang akan dicalonkan sebagai presiden? Apakah Prabowo? Apakah PDIP sebagai partai terbesar, mau menerima partai lain menjadi calon presiden?" tambahnya.

2 dari 2 halaman

PDIP Usung Kader

Saidiman menilai, PDIP memiliki tradisi selalu mencalonkan kadernya menjadi presiden dan wakilnya dari NU. Karena itu, ia menduga PDIP lebih berpeluang berkoalisi dengan PKB daripada dengan partai Gerindra.

Saidiman mengakui ketiga partai besar yakni Partai PDIP, Gerindra dan Golkar menjadi yang terdepan dalam pencalonan presiden dan wakil presiden Pilpres 2024.

Namun, menurutnya, keputusan partai mendukung capres mungkin juga akan berpengaruh pada pilihan politik para kader.

"Di dalam survei kita, kalau suatu partai memutuskan calon yang tidak dikehendaki oleh pemilih partai itu, boleh jadi si pemilih partai ini pindah. Jadi loyalitas pemilih terhadap partai itu kan rendah," kata dia.

Reporter: Putu Merta Surya Putra
Sumber: Liputan6.com

[rnd]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini