Pecat 7 Kader Senior, Demokrat Dianggap Pertontonkan Gaya Dinasti

Minggu, 28 Februari 2021 13:24 Reporter : Ahda Bayhaqi
Pecat 7 Kader Senior, Demokrat Dianggap Pertontonkan Gaya Dinasti Ilustrasi Partai Demokrat. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Mantan politikus Partai Demokrat Ahmad Yahya menilai, pemecatan tujuh kader senior Demokrat menunjukkan gaya dinasti dan oligarki Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono dan ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono. Ahmad menyebut ini merupakan titik terendah Partai Demokrat.

"Gaya dinasti dan oligarki di partai Demokrat dipertontonkan secara terang-terangan tanpa rasa malu oleh Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan ayahnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)," ujar Ahmad kepada wartawan, Minggu (28/2).

Ia mengatakan, nepotisme dan kesewenang-wenangan sudah terlalu telanjang meski dikelabui buzzer di berbagai media.

SBY sebagai ahli strategi peran, kata Ahmad, terlalu terburu-buru melakukan pemecatan kader senior yang pernah membantunya.

"Hanya karena kekhawatiran sang putra pertama kehilangan jabatan menjadi Ketua Umum di partai yang membesarkannya setelah mengundurkan diri dari militer," tuturnya.

Wajar SBY bersikap demikian, menurut Ahmad, karena AHY masih anak kemarin sore di Demokrat. AHY dinilai sangat dipaksakan menjadi calon Gubernur DKI Jakarta 2017 lalu, ia juga tidak menang. Menjadi Ketua Kogasma malah membuktikan AHAY gagal karena tidak berhasil menaikkan persentase suara dari 10 persen di 2014 malah turun 7,7 persen di 2019.

"Hal ini mungkin wajar saja karena sesungguhnya AHY memang anak kemarin sore di partai Demokrat," kata dia.

Ahmad mengatakan, para senior berupaya membangunkan SBY dari mimpi masa lalu dengan seruan Kongres Luar Biasa (KLB) agar Demokrat tidak semakin hancur. Responnya, malah senior ini dipecat.

"SBY lupa bahwa pemecatan ini malah membuka mata para kader di seluruh Indonesia bahwa Demokrasi telah mati di Partai Demokrat. SBY juga mungkin tidak menghitung bahwa momen ini malah menjadi titik balik, malah menjadi momen dimana mata masyarakat seluruh Indonesia seluruh kader partai Demokrat di seluruh Indonesia terbuka lebar serta menyuarakan Jihad Politik untuk menyelamatkan partai yang sedang menuju karam ini," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, Partai Demokrat memecat tujuh orang kadernya yang diduga terlibat dalam gerakan kudeta kepemimpinan Ketum AHY. Demokrat memutuskan memberikan sanksi pemberhentian tidak hormat.

"Demokrat memutuskan untuk memberikan sanksi pemberhentian tetap dengan tidak hormat sebagai anggota Partai Demokrat terhadap nama-nama berikut Darmizal, Yus Sudarso, Tri Yulianto, Jhoni Allen Marbun, Syofwatillah Mohzaib dan Ahmad Yahya," kata Kepala Bakomstra DPP Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra, Jumat (26/2).

Mereka, kata Herzaky, tebukti melakukan perbuatan tingkah laku buruk yang merugikan Partai Demokrat dengan cara mendiskreditkan, mengancam, menghasut, mengadu domba, melakukan bujuk rayu dengan imbalan uang dan jabatan.

"Menyebarluaskan kabar bohong dan fitnah serta hoaks dengan menyampaikan kepada kader dan pengurus Partai Demokrat di tingkat Pusat dan daerah, baik secara langsung tidak langsung bahwa Partai Demokrat dinilai gagal," ujar dia.

"Dan karenanya kepengurusan Partai Demokrat hasil Kongres V PD 2020 harus diturunkan melalui Kongres Luar Biasa (KLB) secara ilegal dan inkonstitusional dengan melibatkan pihak eksternal," sambungnya.

Selain keenam orang di atas, Partai Demokrat juga memberikan sanksi pemberhentian tetap dengan tidak hormat kepada Marzuki Alie. Menurut Herzaky, Marzuki terbukti melakukan pelanggaran etika Partai Demokrat sebagaimana rekomendasi Dewan Kehormatan DPP Partai Demokrat.

"Marzuki Alie terbukti bersalah melakukan tingkah laku buruk dengan tindakan dan ucapannya yakni menyatakan secara terbuka di media massa dengan maksud agar diketahui publik secara luas tentang kebencian dan permusuhan kepada Partai Demokrat, terkait organisasi, kepemimpinan dan kepengurusan yang sah," tuturnya. [cob]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini