PDIP Jamin Tak akan PAW Riezky Aprilia

Senin, 13 Januari 2020 14:40 Reporter : Ahda Bayhaqi
PDIP Jamin Tak akan PAW Riezky Aprilia Kongres V PDI Perjuangan. ©2019 Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Merdeka.com - Ketua DPP PDI Perjuangan Djarot Saiful Hidayat memastikan tidak akan mengganti Riezky Aprilia, sebagai anggota DPR. Riezky disebut dalam kasus suap Komisioner KPU Wahyu Setiawan. Riezky hendak di PAW oleh Harun Masuki dengan cara menyuap Wahyu.

"Enggak (tak akan PAW Riezky)," kata Djarot di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (13/1).

PDIP, kata Djarot, memastikan tidak akan melakukan PAW karena upaya mereka telah ditolak KPU. Dia bilang Riezky bakal tetap menjadi anggota DPR.

"Selesai. Kan udah ditolak (KPU), tidak ada upaya lagi. Jadi tetap kita jamin bahwa si Riezky tetap," kata dia.

1 dari 2 halaman

Sebelumnya, KPK menetapkan Komisioner KPU Wahyu Setiawan (WSE) sebagai tersangka suap pengurusan Pergantian Antarwaktu (PAW) anggota DPR. Meski kalah jumlah suara di Pemilu 2019, eks Caleg PDIP Harun Masiku (HAR) ingin dilantik dengan cara menyuap Wahyu. Untuk muluskan niat jahat itu, Wahyu diduga meminta Rp900 juta.

Kasus ini bermula ketika almarhum Nazarudin Kiemas di Dapil Sumsel I menang sebagai anggota DPR. Karena sudah meninggal, suara kedua terbanyak yakni Riezky Aprilia yang dilantik jadi anggota legislatif oleh KPU. Nah, dari sini 'mengakali' proses demokrasi hendak dilakukan Wahyu dan Harun.

"Persekongkolan antara oknum penyelenggara pemilu dengan politisi dapat disebut sebagai pengkhianatan terhadap proses demokrasi yang telah dibangun dengan susah payah dan biaya yang sangat mahal," kata Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Siregar saat jumpa pers di KPK, Kamis (9/1).

Awal Juli 2019, salah satu pengurus DPP PDIP yang masih misterius, memerintahkan Doni (DON), seorang pengacara, mengajukan gugatan uji materi Pasal 54 Peraturan KPU Nomor 3 Tahun 2019 Tentang Pemungutan dan Penghitungan Suara. Pengajuan gugatan materi ini terkait dengan meninggalnya Nazarudin Kiemas pada Maret 2019 (satu bulan sebelum pencoblosan).

Gugatan Doni kemudian dikabulkan Mahkamah Agung (MA) pada 19 Juli 2019. MA menetapkan partai adalah penentu suara dan pengganti antarwaktu (PAW). Penetapan MA ini kemudian menjadi dasar PDIP berkirim surat kepada KPU untuk menetapkan Harun sebagai pengganti caleg yang meninggal tersebut.

2 dari 2 halaman

Namun, 31 Agustus 2019, KPU menggelar rapat pleno dan menetapkan Riezky Aprilia sebagai pengganti Nazarudin Kiemas, bukan Harun seperti keinginan PDIP.

Selanjutnya, 13 September 2019, PDIP kembali mengajukan permohonan fatwa MA dan pada 23 September mengirimkan surat kepada KPU berisi penetapan caleg. Saeful (SAE) yang ditulis sebagai pihak swasta oleh KPK, menghubungi Agustiani Tio Fridelina (ATF), orang kepercayaan Wahyu yang juga mantan Caleg PDIP dan melakukan lobi untuk mengabulkan Harun sebagai PAW.

Selanjutnya, Agustiani mengirimkan dokumen dan fatwa MA yang didapat dari Saeful kepada Wahyu untuk membantu proses penetapan Harun.

"WSE menyanggupi membantu dengan membalas 'Siap, mainkan!" lanjut Lili menjelaskan kronologi kasus ini. [rnd]

Baca juga:
Djarot: PDIP Butuhkan Keahlian Harun Masiku
Pentas Budaya Meriahkan Penutupan Rakernas PDI Perjuangan
Mega Beri Sinyal ke Gibran, Purnomo Tetap Optimistis Dapat Rekomendasi PDIP
Lawakan Cak Lontong dan Puisi Ganjar Pranowo Mewarnai Rakernas PDIP
KPK Ultimatum Harun Masuki: Segera Menghadap atau Masuk DPO

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini