Naman Sanip kecewa tindakannya adang Djarot diganjar bui 2 bulan

Rabu, 21 Desember 2016 13:45 Reporter : Adriana Megawati
Naman Sanip kecewa tindakannya adang Djarot diganjar bui 2 bulan Djarot jadi saksi dalam sidang kasus pengadangan kampanye. ©2016 Merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman

Merdeka.com - Hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Barat menjatuhkan vonis dua bulan penjara untuk Naman Sanip (52), pengadangan Djarot Saiful Hidayat, saat kampanye di kawasan Kembangan, Jakarta Barat, beberapa waktu lalu. Naman mengaku kecewa dengan vonis yang dijatuhkan hakim.

"Saya pikir-pikir dulu (banding), kecewa ya pasti," kata Naman usai menjalani persidangan, Jakarta, Rabu (21/12).

Naman merasa tindakannya mengadang Djarot bukan kesalahan berat sampai harus berakhir di meja hijau. Dia tidak berbuat anarkis ataupun meneriakkan yel-yel di anggap telah menyudutkan Djarot.

"Itu pandangan Majelis Hakim, dari kronologi saya tidak bersalah. Karena saya tidak melakukan apa-apa. Tidak anarkis, yel-yel tidak ada," lanjutnya.

Dia kembali mengatakan, hanya ingin menyampaikan aspirasi pribadi terkait kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta nonaktif, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dan Djarot ada pasangan Ahok di Pilgub DKI.

"Saya hanya menyampaikan aspirasi. Saya juga bukan komandan. Saya tukang bubur enggak mungkin jadi komandan demo," tegas Naman.

Dalam kesempatan yang sama, kuasa hukum Naman Sanip, Abdul Haris, menilai vonis yang dijatuhkan hakim untuk kliennya tidak sesuai fakta persidangan. Dia memastikan Naman tidak menghalangi ataupun mengganggu kampanye Djarot.

"Enggak sesuai fakta persidangan. Apa yang dilakukan Pak Ustaz tidak menghalangi apalagi mengganggu, karena kampanye Pak Djarot itu sudah selesai, sudah finish," tutur Abdul.

Menurutnya, pada saat itu Djarot hendak bergeser ke lokasi lain. Ketika akan masuk ke mobil pribadinya, Djarot sempat mengajak dialog dengan Naman dan menganggap telah mengganggu jalannya kampanye.

"Dia akan lanjut ke titik lain. Ketika mau masuk mobil ada demo, di situ ada dialog. Dan Pak Ustaz dianggap mengganggu kampanye," lanjutnya.

Terkait rencana akan banding atau tidak, pihaknya masih meminta waktu untuk berpikir.

"Kita mau istikharah dulu, saya beri waktu Pak Ustaz untuk istikharah. Mau banding atau terima putusan," pungkas Abdul. [lia]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini