Mengintip cawapres potensial buat Jokowi

Kamis, 15 Februari 2018 07:01 Reporter : Mardani
Presiden Jokowi berulang tahun. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden tinggal setahun lagi. Sesuai keputusan MK pada 2014 lalu, pelaksanaan pemilu pada 2019 mendatang bakal dilakukan secara serentak. Artinya, pemilu legislatif dan pemilihan presiden bakal dilaksanakan bersamaan dalam satu waktu, tak ada tenggang waktu seperti pemilu sebelumnya.

Jika tak ada arang melintang, Pemilu Legislatif dan Pilpres bakal digelar pada 17 April 2019. Pendaftaran capres cawapres bakal dilakukan Agustus 2018. Sementara penetapan capres cawapres bakal dilakukan September 2018.

Sejauh ini, baru Joko Widodo (Jokowi) yang bisa dipastikan bakal kembali mencalonkan diri sebagai presiden di 2019. Di atas kertas, kesempatan Jokowi buat mempertahankan kursi RI 1 tak akan sulit. Sebab, berdasarkan hasil survei sejumlah lembaga survei, elektabilitas Jokowi jauh berada di atas nama-nama yang disebut-sebut berpotensi mencalonkan diri, salah satunya Prabowo Subianto.

Nama-nama bakal cawapres Jokowi pun mulai santer bermunculan. Dari nama Ketua Umum PPP Romahurmuziy hingga Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Lantas siapa yang berpotensi menjadi pendamping Jokowi di 2019?

Pengamat politik LIPI, Siti Zuhro menilai, untuk periode kedua kepemimpinannya, Jokowi bakal memilih cawapres berdasarkan pertimbangannya sendiri ketimbang ditentukan elite-elite parpol. Menurutnya, masing-masing nama cawapres yang beredar memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing.

"Karena itu Jokowi akan menimbang-nimbang siapa yang tepat mendampingi dirinya di Pilpres 2019," katanya kepada merdeka.com, Rabu (14/2).

Sementara itu, pengamat politik Unpad, Muradi mengatakan, ada tiga opsi kriteria cawapres bagi Jokowi. Pertama berlatar belakang ekonom, kedua berlatar belakang TNI/Polri, lalu kemudian terakhir berasal dari parpol.

Untuk opsi pertama, Jokowi bakal melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua. Jika berada di atas lima persen, maka kemungkinan Jokowi bakal melirik cawapres dari ekonom. Salah satu nama yang punya kemungkinan jadi cawapres Jokowi adalah Sri Mulyani.

"Lalu opsi kedua dari TNI-Polri bisa jadi opsi jika ada kebutuhan misal ada kondisi politik yang mengganggu, rame isu seperti di DKI kemarin, dan lainnya," katanya.

Opsi ketiga dari kalangan parpol. Dia menyebut sejumlah nama belakangan ramai beredar sebagai cawapres Jokowi. Mulai dari nama Puan Maharani, Romahurmuziy, hingga Cak Imin.

Dia mengatakan, cawapres dari parpol bisa dipilih Jokowi jika kondisi ekonomi, politik dan keamanan stabil. Selain itu, kondisi parpol koalisi juga kondusif, tak ada yang protes.

Meski demikian, dia menduga Jokowi bakal melihat kondisi politik di Pilkada 2018. Menurutnya, konstelasi politik di Pilkada 2018 bakal jadi pertimbangan Jokowi buat memilih cawapres dari latar belakang apa.

"Opsi parpol bisa jadi terakhir, karena berisiko kalau ambil dari parpol kalau enggak ada alasan kuat kalau diambil satu (calon dari salah satu parpol) pasti (parpol) yang lain teriak. Tapi semua tergantung kondisi politik di Pilkada 2018. Kalau ada perubahan isu itu jadi pertimbangan," katanya.

Hasil kajian Lembaga Survei Independen Nusantara (LSIN) yang dirilis Minggu (11/2) lalu, ada tiga nama cawapres yang berpotensi mendampingi Jokowi, yakni Romahurmuziy, Muhaimin Iskandar, dan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Zainul Majdi.

Selain ketiga nama tersebut, ada sejumlah sosok lain yang juga dijagokan mendampingi Jokowi. Mereka adalah; Jenderal Pol Budi Gunawan yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Inteligen Negara (BIN), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, hingga Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan.

Direktur Eksekutif LSIN, Yasin Mohammad mengatakan syarat cawapres diusulkan dari kalangan santri, religius dan nasionalis, agar Jokowi tidak diserang dengan isu SARA. Dia menilai ada tiga kekurangan Jokowi. Pertama, dianggap kurang religius dan kurang dekat dengan santri. Kedua, mudah diserang isu Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA). Ke tiga, dianggap belum memenuhi janji kampanye (Tri Sakti-Nawacita).

"Dari ke tiga aspek kekurangan itu, religiusitas dan isu SARA bisa menggerus elektabilitas Jokowi," katanya.

Sementara itu, tokoh Muda NU, Zuhairi Misrawi menilai Romahurmuziy alias Gus Romi dan Muhaimin alias Cak Imin berpotensi mendampingi Jokowi. Keduanya dinilai bisa mendulang dukungan para santri dan generasi millennial.

Namun, dibanding PKB, PPP sudah menyatakan dukungannya kepada Jokowi untuk maju Pilpres 2019. Sementara, PKB belum menyatakan dukungan. Karenanya, jika PKB tak juga bersedia memberikan dukungan, besar kemungkinan Jokowi akan memilih Romi yang akan menjadi cawapresnya.

"Kalau dilihat dari sikap politik, PPP sudah memberikan dukungan terhadap Pak Jokowi. Itu artinya chemistry secara politik sudah dibangun terlebih dahulu oleh Gus Romi," kata dia. [dan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini