Masyarakat berubah pilihan jika capresnya korupsi

Senin, 2 Desember 2013 03:05 Reporter : Islahudin
Masyarakat berubah pilihan jika capresnya korupsi ilustrasi korupsi. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Saat ini masyarakat sudah sepenuhnya sadar semua partai korup. Masyarakat mengharapkan tokoh calon presiden yang betul-betul bersih dari korupsi.

"Jawaban masyarakat ini bisa dijadikan alasan untuk menyandera elite partai. Partai harus mau membuka diri. Memberikan peluang pada tokoh-tokoh yang bersih dan mendapatkan dukungan publik," kata Kepala Departemen Politik dan Hubungan Internasional Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Philips Vermonte, di Kantor CSIS, Jalan Tanah Abang III, Jakarta Pusat, Minggu (1/12).

Philips mengungkapkan, keinginan kuat masyarakat itu tampak dalam survei CSIS yang dilakukan November kemarin. Hasil survei menyebutkan, satu-satunya alasan responden mengubah pilihannya capresnya jika terkena kasus korupsi.

"Saat responden ditanyakan apa yang mengubah pilihan pada 2014 jika sudah memiliki figur pilihan? Ada 50,2 persen menjawab korupsi, 12,8 persen menjawab pasangan tidak pas, dan 8 persen menjawab menjawab sejarah buruh tokoh akan HAM dan yang lainnya," papar Philips.

Namun, jawaban tidak memilih tokoh figur capres yang bersih itu tidak diikuti hukuman yang setimpal kepada partai-partai yang juga membela kadernya yang jelas-jelas korupsi. Philips mencontohkan bagaimana Partai Demokrat yang tidak membela kadernya yang korup tapi tetap dihukum oleh masyarakat.

"Kurang dekat apa coba Andi Mallarangeng dengan Presiden SBY. Kita lihat Partai Demokrat tidak membela kadernya yang korup. Bandingkan dengan PKS yang sebagian kadernya menilai kasus korupsi yang menimpa pimpinannya sebagai rekayasa. Demikian juga partai-partai lain yang jelas-jelas membela kadernya yang kena kasus korupsi, tapi hukuman yang diberikan masyarakat lebih kecil efeknya," papar Philips.

Survei yang dirilis CSIS itu dilakukan di 33 provinsi dan berlangsung pada 13 sampai 20 November 2013 dengan wawancara tatap muka. Jumlah sampel 1180 responden dengan tingkat kesalahan 2,85 persen dan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen.

Pemilihan responden dilakukan secara acak bertingkat dan proporsi kelamin 50:50 persen untuk laki-laki dan perempuan. Proporsi responden untuk desa dan kota juga sama 50:50 persen dengan data BPS 2011. [ren]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Capres 2014
  3. Kasus Korupsi
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini