Macam-macam makna keakraban Jokowi dan Cak Imin

Rabu, 3 Januari 2018 06:58 Reporter : Rizky Andwika
Macam-macam makna keakraban Jokowi dan Cak Imin Jokowi dan Muhaimin Iskandar. ©2018 Biro Pers Istana

Merdeka.com - Pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lili Romli mengatakan bahwa keakraban yang terjadi antara Presiden Joko Widodo ( Jokowi) dengan Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar (Cak Imin) bisa dimaknai bermacam-macam. Jokowi mengaku mengundang secara khusus Cak Imin dalam peresmian kereta bandara Soekarno-Hatta, Selasa (2/2) kemarin.

"Ini bisa dimaknai macam-macam. Bisa dimaknai juga karena memang untuk maju Pilpres, yang mana Pak Jokowi belum ada pendampingnya. Karena enggak mungkin sama Pak Jusuf Kalla lagi karena dari segi usia sudah tidak memungkinkan," ujarnya saat dihubungi, Rabu (3/1).

Ia mengatakan, dalam setiap agenda Jokowi bisa dianggap sebagai peristiwa politik menjelang Pilpres 2019, sehingga keakraban yang ditunjukkan Jokowi bersama Cak Imin tersebut bisa juga dimaknai dalam rangka untuk penjajakan. "Dan itu wajar saja dilakukan. Karena harus mendekati semua tokoh. Apalagi, Pak Muhaimin salah satu tokoh partai berbasis Islam yang selama ini berkoalisi dengan pemerintah," ucapnya.

Sementara, menurut dia, dua partai berbasis Islam, PKS dan PAN dianggap akan memberikan dukungannya kepada Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di 2019. Kemudian, PPP sendiri masih dihadapkan dengan masalah internalnya, sehingga satu-satunya partai berbasis Islam yang paling memungkinkan untuk dirangkul Jokowi adalah PKB yang saat ini masih solid.

"Daripada kekhawatiran dia (Cak Imin) menyeberang ke tempat lain, maka Jokowi merangkul supaya dia tidak ke tempat lain. Bisa dalam rangka penjajakan ke Pilpres 2019 itu, bisa dalam konteks merangkul, bisa untuk mempromosikan," katanya.

Apalagi, lanjut dia, Cak Imin sendiri jauh hari banyak mendapat dukungan dari para pendukungnya sebagai Cawapres, sehingga Jokowi sangat mungkin untuk mempromosikan Cak Imin dan menunjukkan kedekatan antarkeduanya. "Kemudian dia (Cak Imin) juga representasi dari kekuatan Islam. Dan satunya-satunya yang bisa didekati adalah Cak Imin," ujarnya.

Ia melihat sosok Cak Imin cukup pantas untuk mendampingi Jokowi. Sebab, Mantan Menakertrans itu mempunyai pengalaman politik yang panjang, di mana pernah menjadi pimpinan DPR termuda dan menteri di era SBY. Selain itu, kata dia, Cak Imin juga merupakan ketua salah satu partai lima besar di Indonesia.

Cak Imin juga dinilai akan lebih banyak diterima dari semua kalangan umat Islam dan juga kalangan nonIslam. "Terakhir dia juga bisa jadi tokoh yang lebih banyak diterima mungkin dari semua kekuatan Islam. Dan tidak ada resistensi dari Non Islamnya juga karena dianggap pluralis. Basis dukungan islam ini penting untuk mengurangi tensi politik identitas dan SARA," jelasnya.

Pada peresmian kereta bandara ada pemandangan tak biasa. Tampak di sebelah Jokowi 'menempel' Cak Imin. Biasanya, Jokowi hanya didampingi menteri kabinet kerja dan pimpinan lembaga terkait dalam suatu acara.

Usai peresmian, Jokowi menjelaskan alasan di balik kehadiran Cak Imin. Jokowi mengatakan, dirinya yang mengundang Cak Imin. Pada Senin (1/1) kemarin, Jokowi meminta Cak Imin menghadiri acara pengoperasian kereta api Bandara Soetta.

"Saya lama dengan beliau enggak ketemu. Terus kemarin saya telepon, saya bilang ketemu di bandara aja sambil naik kereta bandara," kata Jokowi di Stasiun Sudirman Baru, Jakarta, Selasa (2/1).

Disinggung apakah sosok Cak Imin cocok jadi pendamping di Pilpres 2019, Jokowi melempar senyuman. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini hanya mengatakan, Cak Imin sosok yang bagus.

"Bagus, bagus," ucapnya.

Selama mencoba kereta api dari Bandara Soetta ke Sudirman Baru, lanjut dia, keduanya membahas soal transportasi kereta. Sama sekali tidak membahas konsolidasi politik.

"Ngobrolin kereta," ujarnya. [rzk]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini