Langkah Demokrat Merapat ke Jokowi Terganjal 'Luka Lama' Mega dan SBY?

Selasa, 7 Mei 2019 10:56 Reporter : Merdeka
Langkah Demokrat Merapat ke Jokowi Terganjal 'Luka Lama' Mega dan SBY? SBY salaman dengan Mega di HUT RI ke 72. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Spekulasi Demokrat akan meninggalkan koalisi Prabowo-Sandiaga muncul usai pertemuan Ketua Kogasma AHY bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi). Namun, luka lama antara Ketum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri sebagai pengusung utama Jokowi di Pilpres masih mengganjal.

SBY sebelum kontestasi Pilpres mengakui, hubungannya dengan Megawati belum baik. Hubungan keduanya renggang pasca SBY mundur dari kabinet Megawati dan memutuskan maju di Pemilu 2004. Selama 10 tahun SBY berkuasa, selama itu pula Mega membawa PDIP berada di garis oposisi. Selama itu pula Mega yang juga Presiden kelima RI itu, tak pernah hadir upacara Kemerdekaan di Istana. Setelah SBY turun takhta, digantikan Jokowi, Mega barulah terlihat sering mondar mandir Istana.

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Indria Samego, mengatakan, perlu ada rekonsiliasi antara keduanya.

"Demokrasi kita itu patrimonial sifatnya. Peran pemimpin sangat menentukan di dalamnya. Jika kita sepakat dengan demokrasi dan kemajuan bangsa, tak ada kata lain yang paling pas untuk dilakukan semua tokoh selain rekonsiliasi," kata Indria kepada Liputan6.com, Selasa (7/50).

Namun, rekannya di LIPI, Syamsuddin Haris, berpendapat berbeda. Menurutnya, faktor penentu Demokrat berada di koalisi bukan di Megawati lagi.

"Saya kira faktor kuncinya tidak sepenuhnya di Mega lagi, tapi di Jokowi. Jadi pertemuan SBY-Mega menurut saya bukan lagi satu-satunya faktor penentu," kata Syamsuddin.

Dia menegaskan, mungkin saja baik Megawati maupun PDIP tak rela putra mahkota SBY, AHY, masuk dalam kabinet. Tapi, jika dirasa Jokowi memerlukan mereka, maka peluang Demokrat besar berada di koalisi.

"Mega dan PDIP mungkin tidak rela AHY masuk kabinet Jokowi, tapi kalau Jokowi merasa membutuhkan Demokrat untuk meredam oposisi, maka Jokowi tidak perlu restu Mega lagi," jelas Syamsuddin.

Senada, Peneliti departemen politik dan perubahan sosial dari lembaga CSIS, Arya Fernandes, juga berpandangan, untuk koalisi semua kuncinya ada di Jokowi. Karena hak prerogatif menentukan siapa saja yang masuk di kabinet adalah Presiden.

"Penentuan koalisi itu sebenarnya atau penentuan posisi menteri, itu kan hak prerogatifnya Presiden, jadi sebenarnya, bolanya ada di tangan Presiden," kata Arya.

Dia tak menampik, jika Jokowi nanti tentu akan meminta masukan dari para Ketum parpol koalisi, termasuk Megawati, untuk melihat siapa saja yang berada di dalam kabinetnya nanti.

"Tentu dia (Jokowi) butuh komunikasi dengan Ketum-ketum partai koalisi, dan perlu tahu juga siapa yang diusulkan oleh partai-partai koalisi. Tapi dalam konteks Demokrat, end usernya Jokowi," tegas Arya.

Di lain kesempatan, ditemui 22 April 2019 lalu di Jakarta, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, mengatakan, seharusnya semua pihak bisa menjaga Demokrasi agar tetap sehat.

"Demokrasi yang sehat itu setia akan pilihannya. Ketika sejak awal mendukung Pak Jokowi, kemudian mendukung Pak Prabowo, konsistensi ini perlu dijaga. Demokrasi itu perlu kontrol," jelas Hasto.

Dia menegaskan, ini berbeda dengan 2014. Dimana total koalisi sekarang sudah mencapai 60 persen. Meskipun, Hasto tak menepis, kebijakan koalisi ada di tangan Presiden.

"Kebijakan koalisi Presiden yang menentukan. Tapi mekanisme yang kami bangun, ketika ada perubahan kebijakan koalisi, Presiden berkomunikasi dengan seluruh ketua umum partai politik," kata Hasto.

Dia menepis jika pihaknya akan membuka pintu koalisi selebar-lebarnya.

"Bukan selebar mungkin, kami bukan koalisi yang pragmatis, kami koalisi yang ingin mendorong pemerintah yang efektif, pemerintah yang solid. Untuk mereka yang bergabung bersama PDI Perjuangan, yang telah berkeringat, untuk dukung Pak Jokowi dan Pak Kiai Ma'ruf Amin, ini harus kita apresiasi juga dalam bekerja sama. Maka dalam demokrasi yang sehat, ini yang harus kia hormati, posisi politik yang sejak awal ini untuk bersama-sama mengelola pemerintahan itu," pungkasnya.

Sementara itu, Wasekjen Demokrat Rachland Nashidik telah mengklarifikasi pertemuan AHY dan Jokowi. Dia menegaskan, pertemuan itu atas undangan Jokowi sebagai kepala negara kepada SBY.

Jokowi dan SBY disebut Rachland belum berkomunikasi lagi setelah pertemuan di Singapura saat menjenguk Ani Yudhoyono. Dia juga menekankan, Demokrat tak akan meninggalkan kawan yang sedang susah.

Reporter: Putu Merta Surya Putra
Sumber: Liputan6.com [rnd]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini