Kisah SBY dimusuhi ulama yang ngebet jadi cawapres

Minggu, 19 Januari 2014 06:29 Reporter : Mardani
Kisah SBY dimusuhi ulama yang ngebet jadi cawapres Buku SBY Selalu Ada Pilihan. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY ) banyak bercerita soal apa yang dialaminya dalam buku ' SBY Selalu Ada Pilihan.' Salah satunya soal proses politik dirinya terpilih menjadi Presiden RI pada 2004.

5 April 2004 diakui SBY sebagai salah satu hari bersejarah untuknya. Hari itu adalah pelaksanaan Pemilu Legislatif 2004. Usai hasil hitung cepat ( quick count) diumumkan, Partai Demokrat yang saat itu baru berumur jagung ternyata berhasil lolos parliementary threshold dengan perolehan suara 7,5 persen.

Kediaman SBY di Cikeas pun ramai kedatangan para tamu. Salah satunya adalah seorang tokoh yang sangat dihormati SBY . Orang itu datang untuk mengajak SBY maju mendampinginya sebagai cawapres di Pilpres 2004.

"Saya tidak menyangka sama sekali kalau saya diajak bicara tentang pasangan capres-cawapres 2004 itu. Terus terang saya belum siap. Terlalu dini. Dengan sopan dan hati-hati saya katakan bahwa barangkali terlalu awal untuk bicara seperti itu. Lebih baik kita lanjutkan komunikasi berikutnya. Demikian jawaban saya," kata SBY dalam bukunya.

Ternyata tak hanya itu, keesokan harinya yakni 6 April 2004, seorang 'ulama-politisi' juga mendatangi kediaman SBY di Cikeas. Tokoh tersebut ingin menjadi cawapres jika SBY maju sebagai capres. SBY pun memberi jawaban yang sama seperti jawaban yang diberikannya kepada tamu pertamanya.

"Saya minta untuk memelihara komunikasi. Sejarah menakdirkan bahwa akhirnya saya tidak berpasangan dengan yang bersangkutan sebagai cawapre, karena saya telah memilih Pak Jusuf Kalla sebagai pasangan saya," kata SBY .

SBY tak menyangka hubungannya dengan 'ulama-politisi' itu menjadi buruk karena tak dipilihnya menjadi cawapres. Yang bersangkutan menjadi berang. Sejak itu, dia menjadi sangat kritis kepada SBY , bahkan cenderung memusuhi hingga sekarang. Hal ini berbeda dengan tamu pertamanya yang tak menjadi marah karena gagal nyapres bersama SBY .

Topik pilihan: Presiden SBY | pilpres

Peristiwa itu seperti itu kembali terulang menjelang Pilpres 2009. Ada sejumlah tokoh yang sangat menginginkan menjadi cawapres SBY . Dari sisi kapasitas, mereka memiliki persyaratan untuk menjadi wapres.

"Tetapi jabatan itu (wapres) kan hanya satu. Karenanya saya harus memilih," kata SBY .

SBY mengamati para tokoh yang tak dipilihnya menjadi cawapresnya. Kebanyakan dari mereka tak masalah. Kecuali salah seorang yang kemungkinan sudah menempatkan dirinya sebagai tokoh besar dan merasa panas menjadi wapres.

Hubungan baik SBY dengan tokoh itu yang awalnya baik tiba-tiba berubah 180 derajat. Tokoh itu marah besar karena tak dipilih SBY sebagai cawapres.

"Selanjutnya dalam rangkaian Pilpres 2009 secara demonstratif menempatkan dirinya sebagai lawan. Hingga sekarang pun yang bersangkutan masih sengit terhadap saya," kata SBY .

SBY mengaku mengambil hikmah atas apa yang dialaminya itu. SBY mengaku tidak pernah menjanjikan kepada mereka untuk menjadi cawapres.

"Tentang siapa tokoh-tokoh itu lebih baik tidak saya sebutkan namanya. Tidak baik dan tidak bijak. Biarlah menjadi bagian dari serba-serbi perjalanan hidup saya," kata SBY .

Baca juga:
Cerita SBY 'ditolak' bupati di Bali karena Megawati
SBY: Gus Dur lebih reaktif, Megawati cenderung diam
Setiap salaman dengan Megawati, SBY terima banyak SMS
SBY: Saya sangat siap menjalin silaturahim dengan Ibu Megawati
Cerita SBY sakit dan sedih ketika gagal jadi wapres Mega
Cerita SBY didamprat gara-gara jatah kursi menteri
Ini komentar SBY soal blusukan yang dilakukan Jokowi [dan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini