Ketua Divisi Demokrat pilih walkout saat Jokowi pidato di Rapimnas

Selasa, 13 Maret 2018 07:26 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
pengacara SBY Ferdinan Hutahaen. ©2018 Merdeka.com/nuh habibie

Merdeka.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuka acara Rapimnas Partai Demokrat di Sentul, Bogor pada Sabtu (10/3) lalu. Rupanya, pada saat Jokowi memberikan pidatonya di depan Ketum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ada kader partai yang memilih keluar ruangan alias 'walkout'.

Dia adalah Ketua Divisi Advokasi dan Hukum DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean. Ferdinand pun kaget, aksi walkout ini akhirnya diketahui oleh media massa.

"Inilah bentuk protes saya. Dan itu protes terbaik menurut saya daripada saya acungkan kartu kuning atau kartu merah. Kan tidak elok. Saya keluar dengan diam dan tidak teriak-teriak. Saya pun kaget kebapa hal ini harus ramai," kata Ferdinand saat dihubungi merdeka.com, Selasa (13/3).

Ferdinand pun memberikan alasan kenapa pilih keluar ruangan saat Jokowi pidato. Menurut dia, ada sejumlah hal yang membuatnya kecewa dengan kepemimpinan Jokowi.

"Saya memilih keluar ketika Pak Jokowi akan menyampaikan pidato adalah sebagai bentuk ekspresi kekecewaan saya atas banyak janji yang tidak terealisasi. Salah satunya terkait dengan utang luar negeri," kata Ferdinand yang juga mantan relawan Jokowi, Bara JP pada Pilpres 2014 lalu.

Menurut dia, dulu Jokowi bilang akan menolak utang luar negeri dan akan mempersulit asing. Faktanya sekarang bertolak belakang dan berbalik 180 derajat. Kata dia, Jokowi malah menafikan utang sebagai poros utama pembangunan dan APBN serta membuka seluruh pintu negara untuk asing. Kita lihat betapa isu tenaga kerja asing meresahkan publik.

jokowi buka rapimnas partai demokrat 2018 Liputan6.com/Angga Yuniar


Ferdinan melanjutkan, kedua adalah pencabutan subsidi dari rakyat. Baginya, ini sama saja pemerintah lari dari kewajibannya untuk memelihara rakyatnya. Padahal subsidi itu adalah bentuk kewajiban negara memelihara rakyatnya.

Itu hak rakyat, rakyat berhak menerima subsidi sebagai bagian dari pembagian hasil sumber daya alam yang kita miliki. Tapi pemerintah malah menyatakan subsidi tidak mendidik. Ini bukan soal mendidik atau tidak mendidik, tapi soal perut rakyat.

"Hal-hal seperti ini membuat saya merasa kecewa dan merasa tidak perlu mendengar apapun dari Presiden Jokowi, karena yang diucapkan dulu waktu kampanye sebagai janji politik tidak ditepati," kata Ferdinand yang juga pengacara SBY ini. [rnd]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini