Kegelisahan Buya Syafii Lihat Ujaran Kebencian dan Hoaks Marak di Medsos

Kamis, 24 Januari 2019 09:02 Reporter : Merdeka
Kegelisahan Buya Syafii Lihat Ujaran Kebencian dan Hoaks Marak di Medsos Buya Syafii. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Di awal tahun politik, hiruk pikuk Pemilu 2019 menjadi sorotan masyarakat. Mulai dari debat kandidat sampai soal 'contekan' masing-masing kandidat calon presiden dan wakil presiden.

Teranyar, terkait maju mundurnya pembebasan narapidana terorisme Abu Bakar Baasyir, kemudian kemunculan bebasnya tokoh fenomenal Basuki Tjahaja Purnama usai menjalani masa tahanan selama 1 Tahun 8 Bulan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Deretan peristiwa itu tak membuat tokoh senior Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif atau akrab dikenal dengan sapaan Buya Syafii risau. Ada hal lain yang menarik perhatian Buya.

Anggota Dewan etik Mahkamah Konstitusi, itu mengaku gelisah melihat fenomena hoaks dan ujaran kebencian media sosial. Menurutnya, media sosial telah banyak dipakai untuk sesuatu yang salah oleh orang-orang tak bertanggungjawab.

Dampak ujaran-ujaran kebencian itu sangat fatal yakni membawa Indonesia ke arah perpecahan.

"Ujaran-ujaran itu orang tak bertanggungjawab tidak melihat akibatnya. Karena terlalu bebas dan tidak ada yang merasakan punya tanggungjawab moral. Saya rasa itu saja menurut saya," kata Syafii di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Rabu (23/1).

Dia mengutarakan, aturan tentang penggunaan media sosial secara bijak bagi sebagian orang hanya angin lalu saja.

"Aturan siapa yang mau mendengar. Yang punya hati nurani mau ikut aturan itu, kalau tidak? Politik segala-galanya sekarang," tuturnya.

Dia menegaskan, tak ada cara yang ampuh mengatasi perilaku orang-orang yang tidak bertanggungjawab di media sosial. Semuanya harus dimulai dari diri sendiri yang merasa media sosial harus digunakan secara baik.

"Enggak ada cara yang ampuh. Begini saja, orang yang waras jangan hanya diam. Harus bergerak," ucap Syafii.

Menurut dia, orang waras ini jangan hanya bergerak saat tahun politik semata saja. Sampai pertarungan kekuasaan bakal selesai, lalu ditinggalkan dan tak membenahinya lagi.

"Bukan hanya di tahun politik, selanjutnya kita harus begitu," jelasnya.

Dia mengingatkan, seluruh warga negara harus mulai bergerak menghadapi bahaya ancaman media sosial agar NKRI tetap utuh.

"Negara ini harus bertahan lama dan itu tergantung kepada warga negara kita. Kalau mereka tidak mau menghiraukan kesopanan, Undang-Undang Dasar, masa depan kita itu dalam tanda tanya besar," ungkap Syafii.

Meski begitu, dia melihat orang-orang waras sudah perlahan mulai bergerak. Tinggal bagaimana memobilisasinya dengan baik.

"Sudah mulai, tapi belum terkoordinasi dengan baik. Ya (harus dikencangkan lagi)," tutupnya.

Reporter: Putu Merta Surya Putra

Sumber : Liputan6.com [ray]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini