Analisa Dedi Mulyadi soal kekalahan di Pilgub Jabar

Senin, 2 Juli 2018 14:49 Reporter : Intan Umbari Prihatin
Analisa Dedi Mulyadi soal kekalahan di Pilgub Jabar Debat Pilgub Jabar. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Calon Wakil Gubernur Jawa Barat nomor urut empat, Dedi Mulyadi menuding kedekatan pasangannya, Deddy Mizwar dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Gerindra jadi salah satu anjloknya perolehan suara di Pilgub Jawa Barat. Dia menjelaskan Deddy memiliki perbedaan haluan dan arah pemikiran dalam Pilkada Jawa Barat.

"Saya dengan Pak Deddy Mizwar itu dua irisan yang berbeda. Deddy Mizwar itu kan memiliki sejarah yang cukup dekat dengan Partai Keadilan Sejahtera," kata Dedi Mulyadi di DPP Partai Golkar, Jalan Anggrek Nelly, Jakarta Barat, Senin (2/7).

Semula kata Dedi kedekatan tersebut diprediksi akan membantu untuk mendulang suara dari para pendukung tagar 2019 Ganti Presiden. Tetapi hal tersebut tidak sesuai, terlihat dari di TPS tempat Deddy Mizwar mencoblos perolehan suara lebih tinggi didapat oleh Pasangan nomor urut 1 Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum.

Padahal dia sudah meminta kepada Deddy agar menetap di Bekasi untuk bisa memfokuskan suara-suara di wilayah Bekasi dan Bogor. Hal tersebut sudah disampaikan Dedi pada saat pendeklarasian.

"Sudah disampaikan. Bahkan saya sudah minta beliau untuk tidak lagi tinggal di rumahnya di Bandung. Tetapi untuk fokus di kota Bekasi di tempat beliau dan tidak usah ke mana-mana," papar Dedi.

Tetapi kata Dedi, konsultan Deddy menganggap arahannya tidak terlalu penting. Dan Deddy memilih untuk tinggal di Bandung.

"Tetapi konsultan beliau mengatakan itu tidak terlalu penting. Ini sudah lama, sudah punya analisis. Karena kan saya tiap hari keliling di Lapangan. Mengerti apa sih yang jadi problem, dan apa yang jadi isu di setiap masyarakat," papar Dedi.

Dedi melanjutkan, emosi pemilih jadi terbawa karena melihat latar belakangan Deddy Mizwar tersebut. "Keputusan ideologisnya menginginkan terhadap hastag #2019GantiPresiden dan itu bisa dilihat dari wilayah domisilinya," katanya.

"Terjadi migrasi pemilih di wilayah itu. Bogor, Bekasi, Depok dan Sukabumi sampai Cianjur. masuk lagi ke garis wilayah selatan kan, Priangan timur. Di situ kan ada Ciamis, Banjar, Pangandaran, Garut. Itu basis pemilih ideologis sehingga basis tradisi yang dipertahankan itu yang basis saya saja. Purwakarta, Subang, Karawang," tuturnya. [eko]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini