Kader Muda Golkar Serukan Duet Airlangga-Ganjar di Pemilu 2024

Selasa, 21 September 2021 17:09 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
Kader Muda Golkar Serukan Duet Airlangga-Ganjar di Pemilu 2024 Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. ©2021 Pemprov Jateng

Merdeka.com - Ketua Umum Organisasi Sayap Partai Golkar, Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), Dito Ariotedjo serukan duet Airlangga Hartarto (AH) dengan para tokoh yang memiliki elektabilitas tinggi versi survei opini publik.

Dito menilai, setidaknya ada 7 tokoh yang berpotensi menjadi calon wakil presiden mendampingi Airlangga. Namun, dia menilai hanya tiga orang yang pas.

"Dari 7 pilihan itu menurut saya Pak AH cocok didampingi Pak Anies, Pak Ganjar dan Sandiaga Uno," kata Dito saat dihubungi merdeka.com, Selasa (21/9). Empat lainnya yang dianggap potensial yakni Gibran Rakabuming Raka, Khofifah Indar Parawansa, Ridwan Kamil dan Muhaimin Iskandar.

Anies hingga kini belum memiliki partai politik. Peluangnya diusung parpol manapun masih terbuka lebar. Sementara Ganjar dan Sandiaga memiliki peluang kecil di parpolnya masing-masing. Ganjar harus bersaing dengan Puan Maharani dan Sandiaga dengan Prabowo Subianto.

Dito menjelaskan, ketiga calon tersebut menjadi pelengkap bagi kemampuan Airlangga saat ini. Menurut dia, Airlangga kuat di partai dan punya latarbelakang teknokrat.

“Walaupun beliau ketum partai, sisi teknokrat beliau sangat kental. Sangat profesional di bidang industri dan ekonomi,” kata Dito.

Kemudian sosok Anies, Ganjar dan Sandiaga Uno punya pengalaman sebagai kepala daerah. Hal ini yang diyakini sebagai paket lengkap untuk Pemilu 2024.

“Pak Anies , Pak Ganjar, Pak Sandi berpengalaman banyak sebagai kepala daerah yang notabene ahli menghadapi masyarakat luas dan komunikasi politik yang mengayomi. Kombinasinya sangat pas jika menjadi duet di pilpres berikutnya,” tegas Dito.

Dito yakin, Airlangga dan partai Golkar mampu melobi ketiga orang tersebut untuk bisa maju dalam kontestasi di Pemilu 2024. Meskipun dia mengakui, Ganjar dan Sandiaga merupakan kader parpol lain.

“Partai Golkar sebagai partai yang jam terbang tinggi pasti memiliki strategi-strategi melobi yang mumpuni,” katanya.

“Tapi saat ini pak AH sebagai ketua KC PEN akan fokus menangani Covid dan kebangkitan ekonomi Indonesia. Karena Pak AH pemimpin yang mementingkan Indonesia dan kesejahteraan masyarakat kita,” tambah Dito.

Langkah Politik Ganjar Harus Hati-hati

Sebelumnya, PDIP melarang seluruh kadernya untuk bicara calon presiden dan wakil presiden untuk Pemilu 2024. Bahkan, jika ada kader yang ketahuan terlibat relawan deklarasi dukung capres, akan dikenakan sanksi tegas.

Pengamat Politik dari LIPI, Aisah Putri Budiatri menilai, larangan yang dibuat PDIP tersebut menunjukkan peluang bagi Ganjar untuk bisa dicalonkan oleh PDIP sebagai presiden di Pemilu 2024.

"Sebenarnya ini justru menunjukan ada celah dari PDIP mempertimbangkan beberapa nama kadernya menjadi capres, termasuk Ganjar," kata Aisah saat dihubungi merdeka.com, Selasa (21/9).

Asalkan, kata dia, daya tawar Ganjar menjelang pemilu digelar masih konsisten kuat. popularitasnya terus menanjak. Lalu kepemimpinannya di Jawa Tengah terus menarik perhatian publik.

"Selain juga komunikasi politik antara Ganjar dan PDIP (terutama dengan Megawati) dipupuk baik, maka ada peluang Ganjar bisa maju dari PDIP,” jelas Aisah.

Dia menilai, sebagai politisi yang mengakar di PDIP, dan dengan posisi PDIP sebagai partai juara politik saat ini. Paling menguntungkan jika Ganjar maju dengan PDIP. “Dan konstelasi politik menuju pemilu 2024 masih sangat dinamis, sehingga apapun bisa saja terjadi,” tutur dia.

Peluang Ganjar Diusung non PDIP

Aisah menilai, bisa saja dalam perkembangannya nanti Ganjar malah balik badan dari PDIP dan diusung oleh parpol lain. Hal itu dinilai wajar karena seorang politisi pasti akan terus mencari peluang politik, termasuk mencari kendaraan politik untuk pemilu

Dengan kondisi Ganjar saat ini, kata dia, belum memiliki kepastian partai pengusung, dia menilai, komunikasi baik yang membuka peluang pencalonan patut dibuka ke siapapun.

"Tetapi langkahnya harus tetap hati-hati, karena harus juga tetap menjaga posisi politik saat ini sebagai kader PDIP yang menjadi kepala daerah dan juga tetap berpeluang menjadi kandidat dalam pilpres nantinya," terang Aisah.

Menurut Aisah, setiap partai pasti punya hitungan masing-masing. Siapa kandidat terbaik untuk dicalonkan. Baik itu untuk posisi capres atau cawapresnya.

"Dan dalam pemilu langsung, perhitungan politiknya adalah siapa yang berpeluang menarik pilihan publik dengan tentu melihat kompetisi calon yang diusung partai nantinya," jelas Aisah lagi. [rnd]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini