Kader Membelot, PDIP Tuding Ada Politik Adu Domba di Pilkada Surabaya

Kamis, 19 November 2020 21:01 Reporter : Erwin Yohanes
Kader Membelot, PDIP Tuding Ada Politik Adu Domba di Pilkada Surabaya Kongres V PDI Perjuangan. ©2019 Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Merdeka.com - Gerah dengan kader yang membelot ke kubu lawan, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menuding ada pihak yang sengaja membuat strategi adu domba atau devide et impera di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Surabaya. Hal ini disampaikan oleh Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi DPP PDIP, Djarot Syaiful Hidayat.

Ia menyatakan, fenomena kader PDIP di Surabaya yang membelot dengan mendukung lawan di Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Surabaya, disebutnya sebagai bagian dari strategi lawan. Strategi tersebut adalah, adanya upaya adu domba atau memecah belah suara dari kader PDIP yang dilakukan oleh lawan politiknya.

Ia bahkan menuding, pihak lawan dengan sengaja mendekati para kader banteng bermoncong putih tersebut, dengan tujuan untuk membelotkan dukungannya. Ia pun menyebut nama paslon nomor urut 2 Mahfud Arifin (MA) yang dianggap kurang begitu paham pemerintahan yang baik, dan memakai strategi memecah belah. Ia pun mencontohkan, adanya upaya mendekati Jagad Hari Suseno, anak almarhum Pak Sutjipto (mantan Sekjen PDIP) yang juga kader PDIP.

"MA telah melakukan politik devide et empire ala kolonialisme Belanda. Politik pemecah belah selama masa kolonial selalu dilawan oleh seluruh anak bangsa, termasuk NU, Muhammadiyah, dan PNI saat itu. Jadi rasanya kurang elok kalau tim MA menjalankan politik adu domba, termasuk apa yang dilakukan oleh Mat Mochtar. Sebab itu cara kolonial yang ditentang arek-arek Surabaya," ujarnya, Kamis (19/11).

Atas dasar hal tersebut, Djarot meyakini ketika Eri-Armudji dikepung, serta lawan memiliki begitu banyak logistik dan dana, Surabaya justru semakin bersatu.

"Eri semakin kuat justru karena gemblengan dan kepungan. Apa yang terjadi justru membuktikan bagaimana masyarakat Surabaya memiliki keberanian untuk memilih pemimpin muda yang jujur, berpengalaman, dan visioner. Jadi ketika Surabaya dikepung, seperti halnya ketika Sekutu mengepung Surabaya, perlawanan rakyat untuk mendukung pemimpin yang baik akan semakin kuat," pungkasnya.

Baca Selanjutnya: Tanggapan Kubu Machfud Arifin...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini