Ini Analisa Mengapa Jokowi Terapkan Strategi Menyerang di Pilpres 2019

Selasa, 4 Desember 2018 14:54 Reporter : Muhammad Genantan Saputra
Ini Analisa Mengapa Jokowi Terapkan Strategi Menyerang di Pilpres 2019 Diskusi Carut Marut Komunikasi Kebijakan Jokowi. ©2018 Merdeka.com/Muhammad Genantan Saputra

Merdeka.com - Capres nomor 01 Joko Widodo (Jokowi) sering melontarkan ucapan yang cenderung menyerang, belakangan ini. Pengamat Politik Asal Universitas Paramadina Hendri Satrio menganalisa ada beberapa faktor yang membuat Jokowi bertindak seperti itu.

"2014 Pak Jokowi memiliki relawan yang sedemikian banyak yang bisa diandalkan untuk meraih suara, nah kalau 2019 ini kan relawannya banyak yang sudah menjadi komisisaris jadi memang beliau sulit juga mengharapkan relawan itu. Makanya kasian juga Pak Jokowi," kata Hendri saat diskusi 'Carut Marut Komunikasi Kebijakan Jokowi: Konsistensi, Inkonsistensi dan Ambivalensi' di Seknas Prabowo-Sandi, Jl HOS Cokroaminoto No 93, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (4/12).

Selain Hendri Satrio dan Herman Khaeron, diskusi yang digelar secara rutin setiap minggu itu juga menghadirkan pembicara lainnya. Direktur Sumber Daya dan Sumber Daya Hukum, Satya Zulfanitra dan Pakar Semiotika ITB, Acep Iwan Sandi.

Faktor kedua adalah sosok Jusuf Kalla yang sudah tidak menjadi cawapresnya. Hendri mengatakan, Jusuf Kalla dipandang sebagai teknokrat yang secara tidak langsung bisa memberi nasihat kepada Jokowi.

Sementara di Pilpres 2019, kemampuan Ma'ruf Amin untuk menyampaikan isu masih diragukan. Dia menilai Jokowi seperti bertarung sendiri mempertahankan prestasinya.

"Satu, relawan tadi. Kedua di 2014 dia punya JK. Mungkin dia agak kesal juga kok saya bertarung sendiri ini. Kenapa dia attacking, karena Dia harus melindungi prestasinya. Karena Ma'ruf Amin ini blunder juga, oktober dia bilang esemka, dia turun langsung maka dia ingin mempertahankan itu," tuturnya.

Jokowi juga tak mau kalah dengan kampanye lawannya yakni cawapres Sandiaga Uno yang kerap blusukan ke pasar tradisional dan menyebut harga harga naik. Maka dari itu, Jokowi melakukan gebrakan dengan kebijakan yang dikeluarkan.

"Mas Sandi dia pegang pete, Pak Jokowi pegang pete juga. Mas Sandi senang, Pak Jokowi senang juga. Pasti andalan terakhir beliau itu adalah kebijakan. Jadi jangan kaget, banyak bansos banyak gratisan yang akan dikeluarkan," pungkasnya.

Diketahui, beberapa waktu sebelumnya. Jokowi kesal dan melontarkan kalimat kalimat kontroversi yang mengundang perhatian. Mulai dari tabok, sontoloyo hingga genderuwo. [ded]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini