Hendropriyono pilih mundur dari Ketua Umum PKPI

Kamis, 12 April 2018 12:40 Reporter : Merdeka, Liputan6.com
Hendropriyono pilih mundur dari Ketua Umum PKPI Hendropriyono. ©2017 Merdeka.com/Ahda

Merdeka.com - Majelis hakim PTUN Jakarta mengabulkan gugatan sengketa pemilu antara Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) dengan KPU dengan menyatakan PKPI memenuhi syarat untuk lolos menjadi peserta Pemilu 2019. Ketua Umum PKPI Hendropriyono bersyukur karena gugatannya dikabulkan seluruhnya.

"Kita dalam berkiprah, di dalam partai politik itu jujur saja, apa adanya, pasti keadilan akan datang. Saya instruksikan kepada seluruh pengurus di daerah-daerah, cabang-cabang, provinsi, kota, sampai kecamatan, agar tidak menggunakan cara-cara kotor. Sogok menyogok, kasih uang pelicin, enggak usah ada. Jadi jangan, lurus saja apa adanya. Karena kita sudah siap. Ini ada bukti, saksi, karena keadilan akhirnya datang terakhir di PTUN," ungkap Hendropriyono saat berbincang di kediamannya di Kawasan Senayan, Rabu (12/4).

Hendropriyono menginginkan PKPI tampil lebih solid dan kuat di Pemilu 2019. Jika perlu, lakukan bongkar pasang. Kader muda partai dimunculkan di depan. Alasannya, pemilih zaman now. Sehingga partai politik perlu dipoles. Perubahan dengan cara menampilkan figur-figur pemimpin muda yang berkualitas dan berintegritas sebagai daya tarik.

Tokoh senior bukan berarti hilang tapi di belakang. Ketika berbicara soal ini, Hendropriyono menyiratkan keinginannya untuk mundur dari kepemimpinan partai. Padahal dia baru terpilih menjadi Ketua Umum PKPI pada Agustus 2016. Artinya belum genap dua tahun Hendro menjadi nakhoda partai.

"Ketuanya dari generasi millenial. Misalnya di bawahnya, Pembina, atau sekretaris itu orang yang lebih pengalaman, yang lebih tua,"

Dia menginginkan posisi ketua umum partai tidak diisi oleh orang yang penurut dan tidak mampu membuat rencana serta strategi. Sebab, parpol ibarat kapal dengan nakhodanya ketum dan sekjen sebagai keneknya. Sedangkan kader lainnya adalah pembantu atau kru kapal, serta penumpang.

Berikut wawancara khusus Hendropriyono dengan liputan6.com dan merdeka.com terkait rencananya mundur dari kursi Ketum PKPI.

T: Apa langkah PKPI selanjutnya usai menang di PTUN?

J: Setelah kita melakukan konsolidasi, di mana beberapa tempat kita yang lemah, itu relatif, ada yang kuat, ada yang lemah. Yang lemah itu, bongkar untuk kemudian kita perkuat. Yang penting adalah penampilan keluar. Itu saya harapkan, generasi muda PKPI itu muncul di depan yang tua-tua bukan berarti hilang, di belakang. Misalnya, ketuanya dari generasi millenial. Misalnya di bawahnya, pembina atau sekretaris itu orang yang lebih pengalaman, yang lebih tua. Tapi yang penting, penampilan harus menarik, karena pemilih dari generasi now. Kedua dari intelektual, jadi jabatan itu jangan diisi oleh orang yang ingah ingih, sehingga tidak mampu membuat rencana. Dan ini masalah politik.

Partai politik cerminan dari negara, karena itu bisa memang nahkodanya Presiden Republik Indonesia di tataran negara, di tataran partai politik, nahkodanya ketua umum, dan keneknya sekjen. Yang lain itu penumpang. Nah penumpang itu harus mengurusi keadaannya sendiri, kesejahteraannya, masa minta kayak orang-per orang ke Presiden untuk makan keluarganya. Jadi kapal ini nahkodanya ketum dan dibantu sekjen, sedangkan yang lain-lain adalah pembantu-pembantu atau kru kapal, dan sisanya penumpang. Dan ini yang harus besar dan kuat. Besar dan kuat ini syaratnya punya kemampuan. Kemampuan yang berisi, susunan, kekuatan, dan juga gelar yang diplot pengurus.

Saya ringkasan, bahwa generasi muda harus segera tampil, orang seperti saya lemparkan ke forum, rakor tadi dan kongres luar biasa untuk dicari siapa pengganti saya. Karena saya tidak bisa terus-terusan, tidak punya lagi daya tarik. Barangkali yang diharapkan oleh seluruh anggota PKPI adalah saya zaman dulu, bukan saya zaman sekarang. Zaman sekarang tidak sadar, bahwa saya bukan lagi orang dulu. Jadi harus ada regenerasi, terutama di tataran nasional, sampai ke bawah.

T: Anda berarti sudah selesai mengantarkan ke kontestasi pemilu dan akan mencari figur. Strategi apa yang diterapkan untuk menggaet kaum muda?

J: Kita ingin partai politik juga begitu. Tuntutannya mengikuti dari para pemilih, selain muda banyak kelebihan. Yang kedua kita inginkan kaum intelektual memadai dan kejujuran. Kita ingin tampil. PKPI sejak awal sampai lolos sekarang, bersih. Kita tidak patpat gulipat, kita tidak ada esek-esek, tidak ada. Apa adanya saja. Dan ini anak muda nanti memegang pangkuh kepemimpinan di partai itu betul-betul kita seleksi bahwa dia harus kerja jujur, bersih dan apa adanya.

Kemenangan dia bagaimana mampu menerapkan strategi untuk mencapai sasaran. Sasarannya jelas kemenangan. Bergerak menuju kemenangan itu banyak strategi. Dan strategi itu yang tua-tua boleh membantu. Karenanya, jadi pembina, pakar, sebagai macem-macem banyak jabatan. Tapi biar yang muda yang execute, biar yang muda eksekutor, dia maju bagaimana merebut sasarannya.

Kita ingin terus terang. Sasaran kita sudah jelas, bahwa partai ini mendukung Jokowi dan kita ingin Jokowi kembali ke posisi memimpin negara dan pemerintahan. Saya lihat kecenderungan yang ditanyakan mengenai tentara, memang semua orang keinginan kesejahteraan, dan keamanan sekaligus. Seperti halnya dua sisi koin dalam logam yang sama.

Yang dilihat orang itu aman dulu. Dengan aman bisa menggali kesejahteraan. Tidak langsung sejahtera, tidak aman. Kaya raya tapi tidak aman untuk apa. Jadi bahaya terus tidak enak. Jadi orang menginginkan keamanan dulu baru kesejahteraan. Jadi untuk itu mereka melihat kepemimpinan atau manajemen yang paling jelas mendatangkan stabilitas keadaan, adalah manajemen militer. Karena itu, antusias dari anak muda itu, kepada kepemimpinan militer kelihatannya menonjol.

Saya pernah katakan waktu itu siapa saja tentara masih muda, cerdas, brilian, dicalonkan atasannya bukan maunya dia. Karena menilai seseorang itu harus orang lain, kalau tentara itu atasannya. Kalau ada orang seperti itu, kemudian sukarela resign, sukarela meletakkan jabatannya, meninggalkan tentara, dan run untuk presiden, menurut saya bisa menang. Itu waktu itu saya bicara tahun 2014. Saya kira ramalan itu kenapa bisa terjadi. Karena masyarakat ingin stabilitas, keadaan tidak goyah, ingin stabil. Supaya dia bisa kerja, supaya dia bisa sejahtera. Dan masyarakat nanti ini berangsur-angsur bahwa untuk sampai stabilitas itu tidak harus baju ijo atau baju cokelat, tidak harus tentara atau polisi. Karena kalau dia sudah keluar dari tentara dan polisi dia sama saja kan dengan yang lain. Hanya pola kepemimpinan yang mereka inginkan. Seperti yang saya katakan, mereka rindu stabilitas untuk mencapai kesejahteraan. Itu biasanya berlangsung di militer.

Tapi ini bukan harus orang militer, yang disebut prajurit. Orang sipil juga prajurit kalau dia patriotik, dia tegar, dia ngerti apa yang harus dilakukan. Dia pandai menerapkan siasat dia berani mengambil risiko, dan jujur. Prajurit itu adalah prasaja, jujur, dan irit. Jadi bukan orang tentara tapi sipil juga bisa. Kita kan 250 juta sipil, tentara cuma 500.000, polisi berapa. Sedangkan 250 juta sipil dan lebih banyak orang yang punya jiwa militan. Banyak di dalam hati orang Indonesia, sipil. Itu lebih bagus daripada militer (bergaya) sipil. Pakaian dinas, tapi pakai kupluk putih. Itu bukan militer itu merusak seragam, merusak seragam tentara. Itu diketawain orang, tapi di lain pihak ada pemimpin sipil, tokoh masyarakat yang ingin jadi tentara. Segala prop botol dipasang dibajunya, pakai tongkat, tongkat diambil dari pohon jambu. Jadi ini kelihatan dagelan, bohong-bohongin rakyat.

Sebetulnya rakyat inginkan, sanubari paling dalam adalah ingin satu sosok jiwanya militan, jiwa prajurit. Bukan luarnya, pakai seragam seperti orang main sandiwara. Yang paling perlu di dalam hatinya, sikapnya yang prasaja, jujur, dan irit. Itu sebagai langkah kepribadian dan langkah-langkahnya yang strategis. Langkah-langkah yang cerdas, langkah-langkah yang rakyat mau ikutin ke mana. Sasarannya jelas, prinsip-prinsip yang dipegang juga jelas dan sesuai lingkungan yang ada.

Q: Kenapa memilih PKPI tidak memilih yang lain?

J: Sejak kecil, cita-cita saya jadi tentara, saya juga pernah kuliah ke luar, dan masuk akademi militer, dan ada panggilan jadi seorang fighter yang saya pegang teguh. Jadi kenapa milih PKPI, yang bikin senior saya, Eddy Sudrajat. Dulu kita di bawah naungan beringin, Golkar. Semua dulu kan Golkar, saya juga kan selain panglima kodam jaya, juga anggota majelis permusyawaratan rakyat, waktu itu. Jadi ada kekaryaan dan menjalankan fungsi yang double.

Ketika Golkar pecah dan menurut beberapa tentara waktu itu, kayaknya sudah mulai akan terpengaruh aliran politik lain, liberalisme kapitalisme. Beberapa senior saya dari Golkar keluar dan mendirikan PKPI. Yang mendirikan itu Pak Eddy Sudrajat dan Pak Try Sutrisno, Saeful Sulum, dan lain-lain. Para senior saya. Mereka yang mendirikan, dan menginginkan, melanjutkan cita-cita seperti golkar sebelumnya.

Cita-citanya cuma satu saja yaitu mempertahankan kebhinekaan. Supaya masyarakat kita ini tidak didominasi kaum mayoritas sebagai diktator. Kita juga tidak mau kaum minoritas yang tirani. Jadi kita perlu partai yang mempertahankan ini. Setelah saya melihat, begini, saya melihat amandemen demi amandemen semakin lama, semakin jauh dari kitahnya, dari keinginan awal-awal dibentuknya republik ini. Kita semakin condong ke liberalisme kapitalisme yang condong adalah aliran pikiran barat yang kemudian mereka menyesal setelah aplikasinya juga memilih donal trump, tapi mereka rebut. Itu memang tidak sempurna, jita tidak mau terombang-ambing karena aliran politik yang tidak jelas. Kita harus kembali ke aliran sendiri. Kalau amandemen UUD dan diamandemen terus-terusan pasti bisa, tapi setiap amandemen harus diuji dengan filosofi bangsa, Pancasila. Kalau UU kita sudah sepakat selalu bisa direview, kalau UUD yang diamandemen siapa yang bisa menguji, kalau begini kita semakin jauh dari jati diri. Karena itu saya terima apa yang diamanatkan oleh para senior saya untuk memimpin PKPI.

T: Sudah ada calon pengganti?

J: Oh tidak boleh ada nama. Saya rasa semua pemuda yang potensial dan diinventarisir untuk dilemparkan ke kongres luar biasa yang saya minta segera digelar. Dan saya harapkan kader ikhlas, pikiran terbuka, terang, jangan nafsu saja. Dan harus bisa, bicara, diskusi, domain apa level apa, sehingga konteksnya jelas. Jangan ngawur saja, dan saya lihat debat publik itu hanya debat kusir dan membingunggkan rakyat. Sekarang waktunya generasi penerus yang pegang.

Q: Dari politikus, militer muda, atau dari mana?

J: Saya kira tak perlu bicara soal sumber. Selama 73 tahun ini tdak ada sumber menjamin kehebatan seseorang. Orang dari institusi terhomat, masuk KPK. Ada yang biasa-biasa saja, muncul orang yang bersih dan baik. Jadi sumber itu enggak ada pengaruhnya sangat sedikit. Saya memimpin 1 kali organisasi tinju dan 2 kali bela diri judo. Menurut pengalaman saya, lingkungan, pendidikan, itu hanya memberi pengaruh 30 persen. 70 Persen juara adalah born. Begitu pemimpin. 30 persen lingkungan 70 persen karena dilahirkan sebagai pemimpin. Kalau lingkungan itu sekolah, 30 persen karena sekolah. 70 persen itu maju sendiri. Saya punya 7 gelar kesarjanaan. Tapi bukan itu yang bikin ngerti. Tapi saya sendiri. Sumber dari militer dan non militer itu tidak ada urusan. Yang penting dia ada pribadi sebagai pemimpin. Dan kemudian dia memenuhi 3 syarat mental yang baik, fiisk yang kuat, dan intelegensia memadai

Q: Jadi tak dikancah politik lagi?

J: Enough is enough, cukup adalah cukup saya sudah duduk di kepemimpinan nasional 3 presiden bertutur-turut. Pak Harto (saya) sudah jadi menteri, Pak Habibie juga (jadi menteri), kemudian zaman ibu Megawati ditunjuk kepala BIN. Masa saya mau terus-terusan. Nanti diberhentikan Tuhan. Dan ini sudah waktunya karena menurut saya iklim politik semakin baik.

Kalau saya yang begitu senja berkecimpung di partai politik praktis, teman-teman saya jauh. Saya ingin dekat lagi dengan teman saya, seperti Megawati, Prabowo, dengan SBY sebagai teman dan bisa menasehati. Kalau saya berada di arena politik seperti mereka, bagaimana saya bisa menasehati. Kan sama-sama saja. Kalau saya di luar, sama saja di luar kabinet kan bebas memberikan nasehat dan saran. Tapi kalau saya ada di situ bagaimana memberikan nasehat. Saya rasa sudah cukup berada di dalam dan sekarang berada di luar. Dan ingin dengan kawan-kawan saya ini dekat.

Karena politik di Indonesia ini beda partai, jadi musuh-musuhan. Saya heran juga masak kayak gini. Mumpung saya masih sadar dan tidak pikun, saya masih ingin mengabdi untuk negeri ini. Saya ingin dekat dengan semua tokoh, elit politik yang dipercaya rakyat. Sekadar menyampaikan pengalaman yang saya miliki, mungkin ada manfaatnya. Banyak orang tidak belajar dari sejarah. Seperti orang bijak mengatakan yang paling dipelajari dari sejarah adalah orang enggak belajar dari sejarah. Ini masa mengulangi kesalahan yang sama. Berada di luar politik praktis, bisa memberikan masukan kepada penyelenggara negara tentang apa yang terjadi di negeri kita, supaya tidak terjadi lagi. Bukan saya atau senior saya itu lebih pinter, tdak. Hanya lebih pengalaman, karena lebih tua.

Saya ngerti. Saya bicara di partai pulang sidang (PTUN) ada pro dan kontra ada yang ingin saya memimpin partai ini terus. Jadi saya sampaikan bukan ke PKPI saja, tapi ke kawan-kawan saya yang lain, cepat menyadari sudah banyak pengalaman sudah saja. Lebih baik mundur saja dan menasehati yang belum punya pengalaman untuk maju dan mendukung dari belakang.

Reporter: Putu Merta, Andry Haryanto, Angga Yudha Pratomo [noe]

Baca juga:
Golkar gembira PKPI jadi peserta pemilu, perkuat barisan pendukung Jokowi
Ketua KPU kecewa PTUN kabulkan gugatan PKPI
PTUN menangkan PKPI, KPU gelar rapat pleno
Wapres JK ucapkan selamat ke PKPI lolos jadi peserta pemilu 2019
Hendropriyono
Ini pertimbangan PTUN loloskan PKPI sebagai peserta Pemilu 2019

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini