Hanura yakin elektabilitas Jokowi di atas 50 persen akhir tahun 2017

Jumat, 6 Oktober 2017 14:15 Reporter : Raynaldo Ghiffari Lubabah
Hanura yakin elektabilitas Jokowi di atas 50 persen akhir tahun 2017 Jokowi. ©2017 Merdeka.com/Istimewa

Merdeka.com - Hasil survei yang dirilis Lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyebut elektabilitas Presiden Joko Widodo masih berada di atas Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Jokowi meraup dukungan sekitar 38,9 persen, menyusul Prabowo 12 persen.

Wasekjen Partai Hanura Dadang Rusdiana mengatakan, hasil survei itu cukup menggambarkan peta dukungan di Pilpres 2019. Dia meyakini Jokowi akan kembali menang jika merujuk pada hasil survei SMRC.

"Tapi kalau kita lihat bahwa pesaing terdekat Jokowi, Pak Prabowo justru jauh sekali, tinggal 12 persen. Jadi kalau kalkulasi hasil survei ini, kita orientasikan untuk menghadapi Pilpres 2019, Pak Jokowi masih leading," kata Dadang saat dihubungi merdeka.com, Jumat (6/10).

Sejumlah pihak menilai, seharusnya elektabilitas Jokowi sebagai incumbent bisa di atas angka 50 persen. Dadang menilai, tren elektabilitas Jokowi yang dirilis SMRC sifatnya masih sementara.

Dia menyebut, elektabilitas merupakan sesuatu yang dinamis dan biasanya dipengaruhi oleh momentum politik atau masalah nasional.

"Biasanya ada disebabkan oleh momentum politik tertentu atau ada masalah yang berhubungan dengan perekonomian, seperti masalah harga bahan pokok, listrik dan lain-lain. Tetapi itu pergerakannya tidak statis," terangnya.

Elektabilitas Jokowi, kata dia, akan kembali meningkat setelah pembanguna infrastruktur mencapai 90 persen. Hal ini akan berimbas pada kestabilan ekonomi serta daya beli masyarakat meningkat. Dia memprediksi elektabilitas Jokowi akan naik hingga di atas 50 persen pada akhir tahun 2017.

"Bisa jadi di akhir tahun ketika pembangunan di tahun anggaran yang berjalan angka serapan mendekati angka 90 prosen lebih maka biasanya elektabilitas presiden akan meningkat kembali. Ini sejalan dengan penyerapan tenaga kerja maupun stabilitas ekonomi karena daya beli masyarakat meningkat," kata Dadang.

Untuk merealisasikan itu, Partai Hanura meminta kepada menteri Kabinet Kerja untuk selalu menjaga kekompakan dan tidak membuat pernyataan yang kontraproduktif.

"Ya kabinet harus menjaga kekompakan. Menteri-menteri harus fokus pada target kinerja, jangan banyak memberikan pernyataan-pernyataan yang tidak produktif," tukasnya.

Lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) membeberkan hasil survei menjelang pemilihan presiden (Pilpres) 2019. Posisi Presiden Joko Widodo sebagai petahana berada di atas Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Dukungan untuk Jokowi pada September 2017 ini sebesar 38,9% dan Prabowo 12%. nama-nama lain di bawah 2%. Dalam bentuk pertanyaan semi terbuka, dukungan kepada Jokowi sebesar 45,6%, disusul Prabowo 18,7%, SBY 3,9%. Nama-nama lain di bawah 2%.

"Dalam 3 tahun terakhir, bagaimanapun simulasinya, elektabilitas Jokowi cenderung naik, dan belum ada penantang cukup berarti selain Prabowo. Prabowo pun cenderung tidak mengalami kemajuan," ujar Direktur Eksekutif SMRC, Djayadi Hanan dikutip dari www.saifulmujani.com, Kamis (5/10). [rnd]

Topik berita Terkait:
  1. Pemilu 2019
  2. Jokowi
  3. Hanura
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini