Hanura sebut politisasi isu PKI seperti mengoles sambal di atas luka

Senin, 25 September 2017 09:49 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
Hanura sebut politisasi isu PKI seperti mengoles sambal di atas luka wasekjen hanura tridianto di rakornas Hanura. ©2017 Merdeka.com/istimewa

Merdeka.com - Partai Hanura mendukung penuh usulan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang ingin film G30S/PKI dibuat ulang agar mudah dicerna oleh generasi milenial. Film G30S/PKI penting untuk memahami fakta sejarah.

Wasekjen Partai Hanura Tridianto mengatakan, film pengkhianatan G30S/PKI amat penting bagi pengetahuan sejarah. Perbaruan dalam film itu, katanya, dilakukan bukan untuk membelokan sejarah, melainkan mengobati luka sejarah atas kekejaman PKI.

"Pasti maksudnya bukan untuk merubah sejarah, tetapi agar nilai-nilai sejarah itu bisa lebih mudah dimengerti oleh generasi baru. Kan katanya sejarah harus jadi hikmah dan pelajaran. Kalau ada luka-luka dalam sejarah, itulah yang harus diobati dengan cara yang baik dan bijak."

"Jadi versi penyajian baru dari film-film sejarah adalah termasuk cara mengobati luka dan memperoleh hikmah dari peristiwa masa lalu yang pahit. Ini juga agar kita Jasmerah (Jangan lupakan sejarah), seperti pesan Bung Karno," kata Tri saat dihubungi di sela Rakornas Hanura di Banten, Senin (25/9).

Politisi senior PAN, Amien Rais menolak pembuatan versi baru film G30S/PKI. Dia bahkan menaruh curiga, jika pemerintah Jokowi memang benar akan membuat film versi baru nantinya.

Terkait hal itu, Tri menyayangkan jika ada pihak-pihak yang memanfaatkan atau politisasi isu PKI ini untuk mendiskreditkan pemerintah. Menurut dia, tidak bijak memainkan isu PKI yang sudah terang bahwa organisasi tersebut dilarang oleh pemerintah.

"Kalau ada yang ingin memainkan isu PKI untuk kepentingan politik 2019, itu ya jelas tidak bijak. Itu bukan mengobati luka, itu malah seperti mengoles sambel di atas luka," katanya.

Dia menilai, Indonesia harus tetap waspada terhadap ideologi komunisme, tapi caranya bukan dengan mempolitisasi isu PKI untuk napsu politik 2019. "Mari tetap berkompetisi politik yang demokratis dan ksatria, juga berpikir tentang keutuhan bangsa dalam bingkai NKRI dan Pancasila," tutup Tri. [rnd]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini