Hanura sayangkan lawan politik manfaatkan pernikahan Kahiyang buat serang Jokowi

Rabu, 8 November 2017 11:16 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
Hanura sayangkan lawan politik manfaatkan pernikahan Kahiyang buat serang Jokowi Ijab kabul Kahiyang-Bobby. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Wasekjen Hanura Tridianto membela kritik yang disampaikan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah soal pernikahan putri Jokowi, Kahiyang Ayu yang dianggap mewah. Menurut dia, mewah atau tidaknya suatu pernikahan, tergantung sudut padang masing-masing orang.

Tri mengatakan, wajar jika pernikahan putri Jokowi dianggap mewah kalau dibandingkan dengan resepsi rakyat biasa. Namun kalau dibandingkan dengan sesama presiden, kata Tri, tentu tidak terlalu mewah.

"Biasa saja. Malah lebih sederhana kok. Coba lihat lokasi resepsinya saja di Solo. Kan Pak Jokowi bisa pakai istana Bogor atau Cipanas atau di hotel mewah di Jakarta misalnya. Tapi kan miliknya di Graha Saba Solo yg relatif sederhana," kata Tri saat dihubungi merdeka.com, Rabu (8/11).

Tri pun menyayangkan jika lawan politik justru mengambil kesempatan acara sakral pernikahan Kahiyang untuk menyerang Jokowi. Menurut dia, hal tersebut tak etis dilakukan.

"Kalau mau mengkritik Pak Jokowi ya cari hal lain yang lebih penting. Apa kurang bahan? Kok urusan pernikahan anak saja diserang," kata dia.

Dalam kesempatan ini, Tri pun mengucapkan selamat kepada pasangan Bobby Nasution dan Kahiyang Ayu yang telah resmi menjadi pasangan suami istri. Menurut dia, rakyat ikut berbahagia dan turut mendoakan yang terbaik buat pasangan Bobby dan Kahiyang.

Sebelumnya, Di tengah kebahagiaan yang tengah dirasakan Presiden Jokowi dan keluarga, pernikahan Kahiyang rupanya mendapatkan perhatian tersendiri oleh Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah. Menurut politikus PKS itu, pernikahan putri Jokowi berlebihan.

Dia mengingatkan soal semangat revolusi mental yang didengungkan sejak awal pemerintahan Jokowi. Dalam Surat Edaran 13 Tahun 2014 itu menjelaskan tentang Gerakan Hidup Sederhana.

Isi dari SE nomor 13 tahun 2014 tersebut memuat beberapa poin penting, di antaranya mulai 1 Januari 2015, aparatur sipil negara (ASN) dan pejabat negara diimbau membatasi jumlah undangan resepsi penyelenggaraan acara. Seperti pernikahan, tasyakuran, dan acara sejenis lainnya dengan maksimal 400 undangan, serta membatasi jumlah peserta yang hadir tidak boleh lebih dari 1.000 orang.

"Cuma kan dulu katanya enggak boleh ngundang pejabat lebih dari 400. Ada katanya dulu revolusi mental, bikin pesta kecil-kecilan saja. Kalau sekarang itu kayak lebih gitu lho," kata Fahri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (7/11).

Menurut Fahri, seharusnya Jokowi membuat pesta sederhana. "Saya mohon maaf ya, saya bukan tidak menghormati adat dan budaya, tapi menurut saya mbok ya sederhana saja lah. Sederhana lah, bikin pesta kecil di rumah, teman teman. Sekarang kan ada Twitter, ada Vlog, pakai itu saja lah," kritik Fahri lagi. [rnd]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini