Grace Natalie tegaskan PSI beda dengan partai milik Sutan Sjahrir

Jumat, 27 Maret 2015 10:44 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
Grace Natalie tegaskan PSI beda dengan partai milik Sutan Sjahrir Grace Natalie. ©instagram.com/gracenat

Merdeka.com - Mantan presenter televisi Grace Natalie mendeklarasikan diri sebagai ketua umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Namun Grace menegaskan, PSI ini berbeda dengan Partai Sosialis Indonesia (PSI) milik Sutan Sjahrir, partai yang selalu berseberangan dengan Soekarno.

"Hehehe sama sekali enggak ada hubungannya," kata Grace dalam pesan singkat kepada merdeka.com, Jumat (27/3).

Grace mengakui memang ada kesamaan nama antara PSI Sjahrir dan partai yang baru ia dirikan ini. Namun sekali lagi, dia tegaskan bahwa partai ini berbeda dengan milik Sjahrir yang berideologi sosialis itu. Dia pun tak takut jika PSI nantinya diidentikan dengan PSI Sjahrir yang dibubarkan oleh Soekarno tahun 1960.

Wanita berdarah Tionghoa ini juga menjelaskan, mengapa namanya Partai Solidaritas Indonesia, karena memang pembentukan partai ini berdasarkan semangat solidaritas. Khususnya untuk kesetaraan gender, terlebih dirinya yang langsung menjadi ketua umum PSI.

"Karena semangatnya memang solidaritas ini meliputi kesetaraan gender. Pengurus kami 70 persen perempuan, lintas agama ada yang Islam, Kristen, Katolik, sampai Hindu," terang dia.

Sekedar informasi, Partai Sosialis Indonesia milik Sutan Sjahrir didirikan pada tanggal 12 Februari 1948. Partai ini berhaluan kiri dan menganut ideologi sosialisme. Partai ini selalu berseberangan dengan pemerintahan Soekarno saat itu.

Dikutip dari wikipedia, PSI berlandaskan sosialisme yang disandarkan pada ajaran Karl Marx dan Friedrich Engels untuk menuju masyarakat sosialis yang berdasarkan kerakyatan. Partai ini menentang sistem diktatur proletariat yang diterapkan di Uni Soviet dan negara-negara sosialis lainnya.

Sosialisme kerakyatan yang dimaksudkan PSI adalah sosialisme yang menjunjung tinggi derajat kemanusiaan dengan mengakui dan menjunjung persamaan derajat setiap manusia yang menghargai pribadi seseorang dalam pikiran serta dalam pelaksanaan sosialisme.

Pada tahun 1950-an, PSI melalui salah seorang anggotanya, Soemitro Djojohadikusumo (ayah Prabowo Subianto), memberi penekanan pada program pembangunan daerah, industri kecil, dan koperasi. Akan tetapi, karena Soemitro mendukung PRRI, PSI dianggap turut serta melawan pemerintah. Pada bulan Agustus 1960, PSI bersama Masyumi dibubarkan oleh Presiden Soekarno atas pertimbangan Mahkamah Agung melalui Penetapan Presiden No. 7/1960. [rnd]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini