Golkar Kembali Terbelah Jelang Munas 2019

Rabu, 4 September 2019 11:03 Reporter : Raynaldo Ghiffari Lubabah
Golkar Kembali Terbelah Jelang Munas 2019 Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo. ©2019 Merdeka.com/ Liputan6.com/JohanTallo

Merdeka.com - Partai Golkar kembali terancam terbelah. Dua kubu yang berseteru di Munas 2019, yakni Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo kian panas. Manuver antarpendukung kian kencang dilakukan demi mengunci suara kader jelang Munas Golkar Desember nanti.

Kubu Airlangga mengklaim telah mengantongi kekuatan 90 persen DPD tingkat I dan II Golkar seluruh Indonesia. Belum lagi klaim didukung sesepuh partai sekaliber Akbar Tanjung, Agung Laksono hingga Aburizal Bakrie alias Ical. Plus organisasi-organisasi sayap partai diklaim sudah ikut gerbong.

Imbas pertarungan dua tokoh itu, kader partai terbelah mulai dari pusat hingga daerah. Mulai kader di struktur DPP hingga organisasi sayap partai. Teranyar, internal AMPG terjadi dualisme kepengurusan.

Tiga bulan jelang Munas, manuver antar kubu kian kencang dan keras. Demi memagari dukungan itu, para pendukung Airlangga berimprovisasi. Semisal, DPD I dan II Golkar Jawa Barat meminta kader untuk disumpah di bawah Alquran mendukung Airlangga. Video pengambilan sumpah itu beredar. Ketua DPD Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi yang mengambil sumpah para kader.

Langkah DPD Golkar Jabar ini menuai kritik keras dari kubu Bamsoet, sapaan Bambang Soesatyo. Loyalis Bambang Soesatyo, Nofel Saleh Hilabi menganggap adegan sumpah di bawah Alquran menunjukkan Airlangga sudah tahu dirinya bakal kalah. Sehingga menggunakan cara sumpah di bawah Alquran untuk mendapatkan dukungan di Munas Golkar.

"Itu cara-cara orang yang tahu dia bakal kalah, karena orang menyumpah, kapasitas dia sebagai apa, kecuali kita bersumpah terhadap rakyat itu boleh. Misal pimpinan negara bersumpah menjaga amanat rakyat, ini bersumpah laknat terus untuk mendukung pimpinan partai, itu zalim dan pemaksaan," jelas Nofel saat dihubungi merdeka.com, Selasa (3/9).

Bamsoet ikut bereaksi dan meradang. Ketua DPR ini menuding pesaingnya itu memakai agama sebagai alat pemuas kepentingan politik. Dia juga heran para anggota DPD itu rela bersumpah dan siap dilaknat jika tidak memenuhi janjinya. Padahal, menurutnya, Airlangga telah berkhianat pada anggaran dasar anggaran rumah tangga partai.

"Pada titik ini, jelas terlihat, bahwa Airlangga, para loyalis, dan pengikutnya hanya menjadikan agama sebagai perkakas politik. Padahal, agama itu simbol kejujuran yang harus tercermin dalam setiap jabatan yang diemban oleh pemeluk agama termasuk yang sedang menjabat sebagai ketua umum," kata Bamsoet.

Airlangga pun berkelit, hanya mengikuti apa yang menjadi acara DPD Golkar Jawa Barat. Dia menyebut, hal itu kebijakan dari pihak DPD.

"Lah kalau itu kan acaranya Jabar. Ya kita ikut saja. Masing-masing kan ada namanya kebijakan lokal dan acaranya lagi acara di Masjid, masa nyanyi di Masjid," kata Airlangga

Perpecahan Struktur

AMPG sebagai ormas sayap Golkar pertajam perpecahan. AMPG kubu Bamsoet mengawali dengan mencopot ketum AMPG Ilham Permana lewat rapat pleno di Pusat Komando BPPG, jl. Tulodong Bawah 4, Jakarta Selatan (3/9). Posisi ketum diisi oleh Andi Nursyam Halid dibantu Abdul Aziz sebagai sekretaris jenderal PP AMPG.

Keputusan rapat pleno tersebut akan segera kami ajukan kepada DPP Partai Golkar untuk disahkan. "Memberhentikan saudara Ilham Permana sebagai ketua umum PP AMPG," tegas dia.

Keputusan pleno AMPG kubu Bamsoet direspons cepat sehari setelahnya. Kini giliran, Ilham Permana selaku Ketum AMPG sekaligus pendukung Airlangga melakukan restrukturisasi.

Dilihat dari stuktur AMPG baru di bawah kepemimpinan Ilham, tak ada lagi nama Abdul Aziz dan Andi Nursyam Halid. Padahal keduanya merupakan Wakil Ketua Umum PP AMPG.

Pleno Tandingan

Gerah dengan sikap Airlangga yang tak menggelar pleno, Bamsoet memutuskan untuk membuat pleno tandingan. Bamsoet Cs berencana menggelar rapat pleno di DPP Golkar, Rabu (4/9). Ini lantaran desakan segera menggelar pleno tak digubris Airlangga.

Rapat pleno kubu Bamsoet akan digelar siang ini Pukul 13.30 WIB di DPP Golkar. Sementara DPP Golkar saat ini tengah dikuasai oleh kubu Airlangga Hartarto. Nofel belum mau menjawab, siapa yang akan pimpin pleno.

"Iya betul," kata Politikus Golkar kubu Bamsoet, Nofel Saleh Hilabi kepada merdeka.com.

Sementara itu, Kubu Airlangga akan menggelar Rapat Koordinator Bidang dimulai pada hari Jumat hingga Selasa, 6-10 September 2019 di Kantor DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta.

Rapat Koordinator Bidang (Korbid) ini akan dihadiri langsung oleh Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto dan Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, Lodewijk F Paulus.

"Semua pengurus DPP Partai Golkar, baik pengurus harian maupun pengurus pleno, akan diundang dalam rapat Korbid ini," kata Ketua DPP Partai Golkar bidang Media & Penggalangan Opini, Ace Hasan Syadzily di Jakarta, Rabu (4/9). [ray]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini