Gibran, Momentum PDIP, dan Kotak Kosong di Pilkada Solo

Jumat, 14 Februari 2020 08:43 Reporter : Iqbal Fadil, Arie Sunaryo
Gibran, Momentum PDIP, dan Kotak Kosong di Pilkada Solo Gibran daftar cawalkot Solo di PDIP Jateng. ©Liputan6.com/Gholib

Merdeka.com - Mengandalkan jaringan relawan, Gibran Rakabuming Raka mengumpulkan informasi daerah mana yang akan dia kunjungi dan siapa yang akan dia temui. Meninggalkan aktivitasnya di dunia bisnis, Gibran ingin mendengarkan aspirasi warga Solo.

Sejak memutuskan ikut bertarung di Pilkada Solo yang akan digelar September 2020, Gibran mulai rajin berkeliling. Hampir setiap hari dia mengunjungi warga di kampung-kampung, berkeliling pasar, hingga riding bareng komunitas motor. Blusukan menjadi cara Gibran untuk memperkenalkan diri sebagai bakal calon wali kota Solo.

Hasilnya pun positif. Survei internal bulanan yang dilakukan timnya, menunjukkan kenaikan elektabilitas dan popularitas. "Hasilnya jauh banget dibandingkan dulu," kata Gibran mengacu pada survei awal yang dilakukan Lembaga Kajian Publik Universitas Slamet Riyadi Solo.

Enggan mengungkapkan lembaga dan hasil surveinya, Gibran juga menolak mengungkapkan berapa angka elektabilitas pesaingnya, Achmad Purnomo. "Ya rahasia dong, nanti saja kalau waktunya sudah tepat, biar lembaga survei saja yang manggil teman-teman," ujarnya di Solo 6 Februari lalu.

Catatan merdeka.com, Gibran memang sangat merahasiakan siapa konsultan politik dan lembaga survei yang membantunya. Gibran juga belum membentuk tim sukses resmi. Dia beralasan menunggu rekomendasi turun.

Dalam kegiatannya, Gibran hanya dibantu sejumlah relawan. Meski begitu tercatat sudah ada 26 kelompok relawan yang menyatakan menjadi pendukung. Puluhan kelompok relawan tersebut merupakan simpul jaringan yang tergabung di bawah kendali induk organisasi relawan Kancane Gibran Gess (Kagege).

Setelah mengikuti fit and proper test di DPP PDIP awal pekan ini, Gibran menyatakan semakin optimistis mendapat rekomendasi. Dia pun akan melanjutkan kegiatan blusukan sambil menunggu pengumuman.

"Ya harus optimistis, pimpinan itu harus selalu optimistis. Kita tunggu saja, saya tidak tahu mungkin akhir bulan atau Maret. Kita tunggu saja keputusan dari Ibu Ketua Umum PDIP," ujarnya, Selasa 11 Februari lalu.

©2020 Merdeka.com

1 dari 2 halaman

Konsolidasi Internal PDIP

Belum diumumkannya rekomendasi pasangan calon yang diusung di Pilkada Solo oleh PDIP, termasuk pilkada di wilayah lainnya, dinilai karena PDIP sedang melakukan konsolidasi internal. Khusus untuk Solo, siapapun yang diusung, Gibran atau pasangan Purnomo-Teguh yang disodorkan DPC PDIP Solo, partai perlu menyatukan sikap dari pengurus pusat hingga ke daerah.

"Problem PDIP sendiri adalah menyolidkan DPP, DPD, maupun DPC," kata pengamat politik dari UGM Arie Sudjito kepada merdeka.com, Kamis (14/2).

Arie menambahkan, jika internal PDIP solid, rekomendasi itu bisa dikeluarkan dalam waktu secepatnya. "Kalau dinamika belum solid masih menunggu waktu-waktu terakhir. Masih ada lobi politik antar kelompok di partai di level Solo sendiri, maupun konsolidasi di level DPP," ujarnya.

Terkait konsolidasi internal ini, pengamat politik dari Universitas Padjadjaran Bandung, Muradi berharap PDIP cermat memutuskan siapa yang akan diusung. Kehadiran Gibran, putera sulung Presiden Jokowi, akan menjadi momentum bagi PDIP melanjutkan dominasinya di Kota Solo hingga 5 bahkan 10 tahun ke depan.

"Kalau melihat situasi politik yang ada Solo, butuh pendekatan yang lebih dinamis. Seperti dinamika memilih kader lama, tapi tidak punya elektabilitas tapi kemudian ada kader baru tapi punya potensi untuk memenangkan kontestasi," ujarnya kepada merdeka.com, Kamis (14/2).

Apalagi, lanjut Muradi, PDIP butuh regenerasi kadernya setelah FX Hadi Rudyatmo. Mengusung Gibran akan menjadi political benefit jangka panjang bagi PDIP merangkul pemilih-pemilih milenial ketimbang menjaga keharmonisan internalnya dengan mengusung Purnomo-Teguh.

"Publik sekarang butuh kreativitas, hal-hal agresif yang baru yang bisa memberikan efek kejut positif bahwa orang ini lebih baik. PDIP harus melihat ini sebagai proses transisi dari orang-orang lama, mau tidak mau, suka tidak suka, akan digeser orang muda. Dan peluang untuk membangun satu pendekatan yang lebih ideologis dengan target massa di Solo. Ya saya kira mereka harus berani mengusung nama Gibran sebagai wali kota Solo," papar Muradi.

"Kalau PDIP ingin lompatan, ya pilih Gibran, kalau PDIP ingin normal seperti ini ya pilih Pak Purnomo. Ini satu kesempatan yang tidak datang dua kali. Kalau tidak diolah dengan baik maka PDIP akan kehilangan momentum buat 2024. Solo dan Jawa Tengah itu basisnya, jantungnya PDIP dan kelompok nasionalis. Jangan sampai itu jadi blunder," imbuh Muradi.

Senada, pengamat politik dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Agus Riewanto juga menilai, jika Gibran dipilih, regenerasi di DPC PDIP Solo akan terjadi. Apalagi kepengurusan saat ini didominasi oleh tokoh-tokoh yang sudah senior.

"Harus ada regenerasi. Pengurus saat ini sudah generasi X alias Baby Boomers. Harus diganti generasi Y," tukasnya.

2 dari 2 halaman

Lawan Kotak Kosong

Dengan dominasi PDIP dan 'pasrahnya' parpol-parpol lain, peluang melawan kotak kosong di Pilkada Solo akan cukup tinggi. Siapapun yang mendapatkan rekomendasi DPP PDIP, sang pasangan calon kemungkinan besar tak mendapatkan lawan.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu dan Pemilukada DPD PKS Solo Sugeng Riyanto, mengaku akan sangat sulit menyatukan partai di luar PDIP untuk berkoalisi mengusung pasangan calon penantang.

"Meski jumlah kursi PKS terbesar kedua, tidak cukup. Dan membangun kapal koalisi saat ini tidak mudah. (kotak kosong) Itu yang PKS tidak kehendaki. Karena sama dengan matinya demokrasi dan PKS akan terus berusaha sampai titik terakhir untuk itu," katanya.

Menanggapi peluang melawan kotak kosong, Ketua DPP PDIP Bidang Pemenangan Pemilu, Bambang Wuryanto menyatakan tidak terlalu khawatir.

"Ini kan fakta di lapangan, kalau memang tidak ada lawan kita mau ngomong apa. Kalau enggak ada lawan tanding mau apa, wong kita enggak rekayasa. Tetapi kalau ada yang ingin bertanding lewat independen juga bisa. Khusus pilkada kabupaten dan provinsi bagi warga negara yang menginginkan jabatan wali kota Bupati gubernur, jalur independen tetap dibuka.

Pengamat Politik Universitas Paramadina Hendri Satrio justru mengingatkan, kotak kosong pernah mencatat sejarah menang di pilkada Kota Makassar 2018 lalu. PDIP tentu tidak mau dipermalukan kalah lawan kotak kosong.

"Makanya pekerjaan rumah Mas Gibran, kalau sudah dapat rekomendasi tetap menyolidkan PDIP," ujar Hendri.

Sementara pengamat politik dari Unpad Bandung, Muradi menilai, PDIP akan solid pada waktunya ketika rekomendasi diumumkan.

"Satu karakter unik dari PDIP adalah betapapun mereka cakar-cakaran sebelum penetapan rekomendasi, tapi setelah rekomendasi, semua kader taat asas kok. Itu yang terjadi di beberapa kasus, seperti zaman Pak Ganjar dengan Rustriningsih. Setelah ditetapkan itu terkonsolidasi dengan baik. Hal sama akan berlaku juga di Solo," yakin dia. [bal]

Baca juga:
Ramai-Ramai Dukung Gibran
Ulang Tahun ke-60, Ini Harapan Wali Kota Solo untuk Pilkada 2020
Purnomo Sebut PDIP Umumkan Calon Kepala Daerah pada 23 Februari
Sadar Minim Pengalaman Politik, Gibran Ingin Pasangan Matang di Pilkada Solo
Golkar Tetap Dukung Gibran di Pilkada Solo Meski Tak Dipilih PDIP

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini