Gatot Bicara Manuver Moeldoko: Bukan Representasi Etika & Kehormatan Prajurit TNI

Selasa, 16 Maret 2021 15:39 Reporter : Muhammad Genantan Saputra
Gatot Bicara Manuver Moeldoko: Bukan Representasi Etika & Kehormatan Prajurit TNI Gatot Nurmantyo dan Moeldoko. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo berbicara soal manuver Moeldoko terkait pengambil alihan Partai Demokrat. Gatot menyebut, ada bekas prajurit yang dianggap melanggar moral dan etika.

"Ada mantan prajurit yang kebetulan mantan panglima TNI yang mendapat sorotan publik yang luas, baik dari dalam maupun luar negeri karena tindakannya yang dianggap melanggar moral dan etika," katanya dalam akun Instagramnya seperti dikutip merdeka.com, Selasa (16/3).

Gatot sempat tidak percaya bila Kongres Luar Biasa (KLB) Demokrat terjadi dan Moeldoko mau menjadi Ketua Umum versi KLB itu. Dia bilang, bahwa Moeldoko adalah seniornya di akademi militer.

Moeldoko, kata dia, juga punya andil terhadapnya sebagai junior di militer saat itu. Terlebih, lanjut Gatot, Moeldoko pernah meraih penghargaan Adhi Makayaksa terbaik.

"Dan saya pernah jadi anak buahnya, pada saat beliau Kasad saya anak buahnya, pada saat beliau Panglima saya Kasad anak buahnya juga," ucapnya.

"Sangat susah bagi saya untuk menduga bahwa yang bersangkutan akan melakukan tindakan sebagaimana telah kita saksikan bersama pada tanggal 5 Maret 2021 di Sibolangit," jelas Gatot.

Gatot menegaskan, bahwa dirinya enggan mencampuri sisi politik dari KLB tersebut. Tetapi, dia ingin menggarisbawahi bahwa apa yang Moeldoko perbuat sama sekali tidak mencerminkan kualitas etika, moral dan kehormatan yang dimiliki seorang prajurit.

"Apa yang dilakukan bukan representasi dari kualitas etika moral dan kehormatan prajurit TNI. Ingat ini, bukan representasi. Kekhususan saja hanya beliau. Ini penting, karena, kalau tidak, bagaimana etika, moral dan kehormatan prajurit selama ini. Mereka berjuang tanpa apapun juga. Mengorbankan nyawa, biasa itu sebagai seorang prajurit," tuturnya.

Gatot tidak ingin masyarakat menganggap TNI tercemar. Karena ada perilaku vulgar dan terbuka yang melewati batas etika moral serta kehormatan yang dilakukan mantan prajurit TNI.

"Saya mencegah terjadinya karena nila setitik rusak susu sebelanga. Karena adanya perilaku vulgar dan terbuka yang melewati batas etika moral dan kehormatan yang dilakukan mantan prajurit TNI, semua atau prajurit dan purn TNI dianggap memiliki karakter dan perilaku yang melewati batas. Itu jangan sampai kondisi moral prajurit ini menjadi terdegradasi karena tindakan seorang mantan panglima TNI," katanya. [rhm]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini