Di Balik Pertemuan PDIP dan PKS

Rabu, 28 April 2021 18:41 Reporter : Raynaldo Ghiffari Lubabah, Ahda Bayhaqi
Di Balik Pertemuan PDIP dan PKS PDIP Terima Rombongan PKS. ©2021 Istimewa

Merdeka.com - Dua kutub politik nasional yang saling bersebrangan, PKS dan PDIP bertemu. Rombongan PKS yang dipimpin Sekjen Aboe Bakar Alhabsyi disambut elite PDIP di markas Banteng, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Selasa (27/2).

Petinggi PDIP berjejer di depan pintu masuk aula DPP, lantai 5. Satu persatu menyalami rombongan DPP PKS yang datang berjas putih. Suasana hangat sudah terasa sebelum pertemuan dimulai.

Di ruangan aula, segala kebutuhan sudah dipersiapkan. Tuan rumah duduk di sebelah kiri, tamunya di sebelah kanan. Di meja depan, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto membuka pertemuan. Sesekali bernostalgia dengan kawan lamanya di DPR, Aboe Bakar yang duduk di sebelahnya.

"Ini kawan saya saat DPR, kita sering berkomunikasi," kata Hasto yang disambut gelak tawa kedua pihak.

Aboe membalas sambutan Hasto. Dia mengatakan datang ke PDIP seperti berada di rumah sendiri. Bahagia dan penuh berkah.

Selain itu, kedatangannya ke PDIP untuk belajar mengurus negara. Selain mengenalkan pengurus baru PKS dipimpin Presiden PKS Ahmad Syaikhu.

Pertemuan poros oposisi dan penguasa ternyata diinisiasi oleh PKS. Kunjungan ke PDIP merupakan rangkaian silaturahmi PKS ke partai-partai. Sebelum ke PDIP, PKS lebih dulu berkunjung ke PPP dan Demokrat.

"Silaturahim ke PDIP merupakan rangkaian acara silaturahim kebangsaan yang dilakukan PKS dengan berbagai elemen bangsa," kata Ketua Bidang Ekonomi dan Keuangan Anis Byarwati kepada merdeka.com, Rabu (28/4).

Anis yang hadir dalam pertemuan mengamini pertemuan berlangsung cair dan kekeluargaan. Kedua kubu tanpa canggung melempar gagasan, terutama terkait dampak pandemi Covid-19 dan pemulihannya.

Kedua partai juga membahas soal penelitian vaksin Covid-19 dalam negeri hingga peran negara memberikan insentif pajak penghasilan dan kendaraan bagi masyarakat.

"Secara umum membahas kepentingan bangsa," ujar Anis.

Pertemuan kedua partai diakui Ketua DPP PKS Bukhori Yusuf diatur oleh Sekjen Aboe Bakar Alhabsy dan Sekjen PDIP Hasto. Kedua mengatur waktu pertemuan sejak jauh hari.

"Yap (Diatur Sekjen PKS dan Sekjen PDIP). Saya kira Sekjen PKS adalah sosok yang humble dan komunikatif dengan siapapun," ungkap Bukhori.

Presiden PKS absen hadir ke dalam pertemuan karena acara pemakaman Sekretaris Majelis Syuro PKS, Untung Wahono. Sementara Mega tidak hadir karena menjalankan protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19. Presiden ke-5 RI itu disebut tidak keluar rumah kecuali bertemu Presiden Jokowi.

"Presiden PKS berduka dan bertakziyah karena kemarin sekertaria Majelis Syura PKS wafat," jelas Anis.

Kans Koalisi PKS-PDIP di Pemilu 2024

Bukhori mengatakan peluang PKS-PDIP membangun kerja sama jangka panjang di Pemilu 2024 sangat terbuka. Lagipula, menurut dia, PKS banyak bekerjasama dengan PDIP di beberapa daerah saat Pilkada meskipun di level nasional berbeda sikap.

"Dalam politik semua kemungkinan sah-sah saja. PKS banyak koalisi dengan pdip di berbagai pilkada seperti di kota Semarang, PKS dukung calon wali kota PDIP," terang dia.

Pertemuan tersebut juga dinilai upaya PKS untuk membuka koalisi di 2024. Pengamat politik Ujang Komarudin melihat, PKS agresif menjalin komunikasi politik. Pertemuan beda koalisi dilakukan. Semuanya demi persiapan menuju 2024.

"Pertemuan silang partai koalisi pemerintah dengan non-pemerintah. Silaturahmi politik untuk penjajakan dan pemanasan mesin politik masing-masing menuju 2024," ujar Ujang.

Pada Pemilu 2024 nanti, tidak ada calon presiden inkumben. Koalisi dengan partai manapun sangat dimungkinkan. Sehingga bukan mustahil PKS bisa berkoalisi dengan PDIP.

Ujang menilai, perpaduan antara partai nasionalis-religius antara PDIP dan PKS bisa saling mengisi.

"Apalagi keduanya beda baju, satu baju partai nasionalis, satu baju lagi partai Islam. Jika mereka bertemu dan bisa berkoalisi, itu bisa saling mengisi," katanya.

Ditambah, PKS juga ingin melebarkan segmen pemilih dengan mendekati partai nasionalis. PKS dinilai tidak hanya ingin bergantung kepada pemilih muslim. Apakah berhasil atau tidak tergantung bagaimana mesin partai.

"Ingin menambah dukungan dan melebarkan segmen pemilih. Yang tadinya hanya berkutat di pemilih Islam, PKS ingin merambah ke pemilih lain," kata Ujang. [ray]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini