Demokrat Tuding Yusril Pindah Kubu Moeldoko Karena Tak Diberi Rp100 M

Rabu, 29 September 2021 10:52 Reporter : Merdeka
Demokrat Tuding Yusril Pindah Kubu Moeldoko Karena Tak Diberi Rp100 M Yusril Ihza Mahendra. ©2019 Liputan6.com

Merdeka.com - Politisi Partai Demokrat Andi Arief mengungkapkan, Yusril Ihza Mahendra pernah mengajukan penawaran bayaran Rp 100 miliar untuk bisa memakai jasanya. Menurut Andi Arief, Demokrat menolak tawaran tersebut. Ia pun tak menyangka hanya gegara hal itu Yusril justru merapat ke Kubu Moeldoko.

"Begini Prof @Yusrilihza_Mhd, soal gugatan JR pasti kami hadapi. Jangan khawatir. Kami cuma tidak menyangka karena Partai Demokrat tidak bisa membayar tawaran anda 100 Milyar sebagai pengacara, anda pindah haluan ke KLB Moeldoko," kata Andi Arief melalui akun Twitter pribadinya, Rabu (29/9).

Hal sama juga dikatakan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Partai Demokrat, Rachland Nashidik. Rachland mengaku tak akan berhenti mengungkap klaim palsu Yusril terkecuali dia mengaku menjual keahlian soal hukumnya tanya mengatasnamakan demokrasi. Dia pun mempertanyakan alasan Yusril merapat ke Moeldoko.

"Saya tak bakal stop membongkar klaim palsunya Yusril, kecuali dia mengakui menjual jasa profesionalnya tanpa embel-embel demokrasi. Tapi di situ juga ada pertanyaan: apa karena Demokrat tak sanggup bayar 100 Miliar maka Yusril pindah membela kubu Moeldoko? Dibayar lebih mahal?" tulis Rachland dalam unggahan di akun Twitter-nya, Rabu (29/9/2021).

Menanggapi hal tersebut, Yusril menyatakan keprihatinannya terkait sikap para politikus Demokrat yang terus menyerang pribadinya. Yusril menyebut sikapnya seperti foto SBY yang beredar tengah mengurut dadat dan bicara “saya prihatin”.

“Sama seperti (foto) Pak SBY. Saya juga prihatin sama omongan Rachland,” kata Yusril.

Yusril enggan menanggapi banyak soal tuduhan Rp100 miliar. Namun, dia meminta Politikus Demokrat berpikir jernih dan mau berperang di MA.

“Di PD ada tokoh-tokoh sekaliber Dr Amir Syamsudin dan Dr Benny K Harman yang sangat faham masalah hukum. Mengapa DPP PD tidak menyiapkan suatu "perlawanan hukum" ke Mahkamah Agung. Ayo peras otak dan cari jalan menghadapinya, bukan teriak-teriak seperti Rachland Nasidik. Dalam pengujian ke MA tersebut, saya bertindak profesional sebagai advokat. Saya tidak bertindak secara pribadi. Juga bukan sebagai Ketua Umum PBB,” ucapnya.

“Saya mengajak kader-kader PD untuk tetap menggunakan pikiran yang jernih dalam menghadapi setiap persoalan,” pungkasnya.

Reporter: Yopi Makdori dan Delvira Hutabarat/Liputan6.com [fik]

Baca juga:
Fahri Bachmid Diminta Yusril Sebagai Ahli Dalam Gugatan AD/ART Demokrat
Demokrat Sebut Pesan SBY Sebagai Pengingat, Hukum Untuk Keadilan
Benny K Harman: Gugatan AD/ART Demokrat ke MA Menjadi Teror di Siang Bolong
SBY: Mungkin Hukum Bisa Dibeli, Tapi Tidak Untuk Keadilan
Demokrat Heran Yusril Berubah Sikap Soal AD/ART Partai Usai Bertemu Moeldoko
Demokrat Sentil Yusril: PBB Partai Nol Koma, Karena Ketum Sibuk Urus Partai Lain

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini