Celoteh tak cerdas pengganti Anas

Jumat, 30 Maret 2012 11:42 Reporter : Laurencius Simanjuntak
Celoteh tak cerdas pengganti Anas Ketua FPD DPR, Jafar Hafsah (kanan). merdeka.com/dok

Merdeka.com - Memimpin fraksi terbesar di parlemen tentu bukan perkara mudah. Salah membuat keputusan, sang pemimpin bukan hanya bisa disemprot bos besar, tetapi juga dinonaktifkan dari jabatannya. Itulah yang dialami oleh Ketua Fraksi Partai Demokrat, Jafar Hafsah.

Kemarin Jafar menerima 'hukuman' serius lantaran pernyataannya. Kepada pers, mantan dirjen di Kementerian Pertanian itu mengungkapkan hasil pertemuan Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie (Ical) dengan bos besarnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Cikeas.

Seperti diungkapkan Jafar, Ical saat itu tidak hanya mengusulkan kenaikan harga BBM. "Dia (Ical) malah mengusulkan kenaikan BBM bisa Rp 1.500 atau lebih, malah bisa Rp 2.000," kata Jafar di Gedung DPR kemarin.

Beberapa jam setelah pernyataannya itu, Jafar dinonaktifkan dari jabatannya sebagai ketua Fraksi Demokrat. Tak tanggung-tanggung, penonaktifan itu langsung diumumkan Ketua Umum Anas Urbaningrum kepada pers.

"Untuk sementara tugas-tugas ketua fraksi saya ambil langsung. Saya dan sekjen bertanggung jawab langsung dalam proses ini," tegas Anas dalam jumpa pers di DPR semalam.

Sebelum menonaktifkan Jafar, Anas juga meralat celoteh 'Rp 2000' yang diungkap Jafar.

"Partai Demokrat mengoreksi ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR yang menyatakan ketua umum Golkar mengusulkan kenaikan BBM. Saya ketua umum dan sekjen katakan itu tidak benar," kata Anas yang ditemani Sekjen Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas).

Spekulasi atas tindakan Anas itu pun muncul. Sikap tegas Anas itu diduga kuat karena ucapan Jafar telah mempengaruhi sikap Ical soal kenaikan harga BBM. Setelah pernyataan Jafar itu, Ical yang sebelumnya mengisyaratkan setuju kenaikan harga BBM, memang balik badan menolak rencana pemerintah itu.

Blunder Jafar bukan kali ini terjadi. Pengganti Anas sebagai ketua fraksi partai penguasa itu, juga pernah melakukan kesalahan saat merotasi anggotanya di DPR.

Saat hiruk-pikuk Angelina Sondakh ditetapkan sebagai tersangka korupsi, Jafar justru menempatkan anggota Fraksi Partai Demokrat itu ke Komisi III DPR yang membidangi masalah hukum. Setelah menjadi polemik, barulah Jafar mengembalikan mantan Putri Indonesia itu ke Komisi X DPR.

Keputusan yang mendapat kecaman dari publik itu juga membuat kuping SBY sebagai ketua dewan pembina panas. Lewat Sekretaris Dewan Pembina Andi Mallarangeng, SBY menilai keputusan Jafar itu tidak cerdas.

"Komentar beliau (SBY), itu sama sekali tidak cerdas. Angie yang sedang bermasalah hukum tidak sepatutnya ditempatkan di komisi yang membidangi masalah hukum,” ujar Andi.

Mengetahui SBY marah besar terhadap dirinya, Jafar saat itu mengakui dan menerimanya. Sedangkan untuk penonaktifannya kali ini, mantan anggota tim sukses Megawati-Hasyim Muzadi pada Pilpres 2004 itu belum berkomentar. Apa pun nanti komentar Jafar, yang jelas dua sentilan dari dua bosnya itu adalah sebuah perkara besar. [ren]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini