Penjelasan AHY soal Surat SBY ke Petinggi Demokrat Terkait Kampanye Prabowo di GBK

Senin, 8 April 2019 10:03 Reporter : Intan Umbari Prihatin
Penjelasan AHY soal Surat SBY ke Petinggi Demokrat Terkait Kampanye Prabowo di GBK AHY di Rapat Akbar 02. ©2019 Merdeka.com/Nuryandi Abdurohman

Merdeka.com - Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono menepis kabar absennya di kampanye akbar Prabowo Subianto - Sandiaga Uno lantaran adanya surat Ketua Umum Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY terkait konsep kampanye yang digelar di Stadion Gelora Bung Karno. Putra Sulung SBY tersebut mengatakan tidak ada larangan untuk menghadiri kampanye tersebut.

"Tidak sama sekali. Saya ini adalah pribadi yang mandiri. Jadi tidak pernah ada larangan dari siapapun termasuk dari apalagi orangtua sendiri," kata AHY di Rumah Makan Taman Sari, Solo, Jawa Tengah, Senin (8/4).

Dia menjelaskan SBY sebagai orangtua tidak pernah melarang. Dan selalu memberikan keluasan anak-anaknya dalam mengambil keputusan serta melakukan apapun.

"Pak SBY itu selalu memberikan keluasan bagi anak-anaknya mengambil keputusan, dalam melakukan hal apapun. Karena beliau juga percaya kami semua punya pertimbangan yang baik," kata AHY.

AHY juga menjelaskan alasannya tidak hadir lantaran kurang sehat. Sebab setelah melakukan safari politik yang dilakukan di Yogyakarta pada Kamis (4/4), dan langsung terbang menuju ke Singapura untuk menengok kondisi Ibunya, Ani Yudhoyono yang sedang sakit.

"Padahal sebenarnya saya sudah mengejar untuk bisa hadir di kampanye akbar di Jakarta. Malam harinya saya terbang ke Jakarta last flight, tapi saya merasa badan saya kurang fit, akhirnya saya tidak bisa memaksakan diri," kata AHY.

Hal tersebut menjawab pernyataan Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto yang memahami kegelisahan SBY lantaran sosok Prabowo saat kampanye yang mudah emosional.

"Kalau gelisah mungkin tidak dalam konteks secara khusus style dari Pak Prabowo. Pak SBY tidak melihat itu sesuatu yang membuatnya gelisah," kata AHY.

Tetapi surat tersebut menurut Putra Sulung dari SBY adalah bentuk kontribusi dalam situasi politik saat ini. Surat tersebut adalah bentuk untuk mencegah agar tidak terjadi perpecahan. Sebab itu, Presiden ke-6 tersebut meminta agar para elit politik tidak saling serang serta membuat karakter masing-masing. Hal tersebut kata dia membuat masyarakat yang jadi korban.

Sebab itu, SBY kata AHY mengingatkan agar pertarungan politik tidak menyebabkan gesekan atau perbedaan antar agama maupun etnis dan lainnya. Karena itu, SBY meminta para elit politik atau paslon 01 atau 02 agar menyuarakan, menggunakan kata yang baik agar tidak memecah belah.

"Justru mengingatkan kepada semua, toh kalau dibaca secara utuh juga ada terkait mengingatkan bagaimana satu kubu dan kubu yang lain. Baik Pak Jokowi, Pak Prabowo sama-sama dan mengedepankan persatuan dan kesatuan serta kebersamaan dalam perbedaan yang kita miliki sebagai bangsa," kata AHY.

Dia juga mengatakan pernyataan SBY adalah bentuk positif yang selama ini dipelajari sewaktu menjadi TNI, Menteri hingga Presiden. Dan menginginkan semua berjalan baik dan damai.

"Pak SBY sudah baik mengingatkan kita semua, tidak mungkin beliau tidak lagi bisa jadi Presiden. Itu segala yang baik bisa dilanjutkan dan yang dulu pernah dirasakan pahit dicarikan solusinya jangan sampai terjadi lagi. Hari ini dan kedepan," ungkap AHY. [ded]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini