BPN Prabowo Sebut Impor Jagung Turun, Tapi Gandum Meningkat

Selasa, 19 Februari 2019 05:32 Reporter : Raynaldo Ghiffari Lubabah
BPN Prabowo Sebut Impor Jagung Turun, Tapi Gandum Meningkat Ilustasi jagung. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Juru Kampanye Nasional Prabowo-Sandiaga Anggawira mengatakan penurunan impor jagung yang dibanggakan Joko Widodo tak diikuti dengan gandum. Menurutnya, saat ini terjadi peningkatan impor gandum.

Dia berpendapat klaim penghentian impor jagung tersebut hanya merupakan bentuk pengalihan impor dari jagung ke gandum.

"Kebijakan penghentian impor jagung sejak 2016 sampai 2018 untuk keperluan industri pakan ternyata diikuti oleh peningkatan impor gandum untuk keperluan pakan rata-rata sekitar 2,7 juta ton per tahun atau sekitar Rp8,29 triliun," kata Anggawira melalui keterangan pers seperti dilansir Antara, Senin (18/2).

Dalam kebijakan itu, Anggawira melihat adanya keberpihakan Jokowi terhadap sekelompok perusahaan pengimpor gandum dan merugikan para peternak skala kecil dan menengah di Indonesia.

"Impor gandum ini hanya menguntungkan para pengimpor gandum yang dikuasai hanya beberapa perusahaan saja. Di sisi lain, para peternak semakin dirugikan karena penggunaan gandum untuk pakan jauh lebih mahal ketimbang menggunakan jagung," lanjutnya.

Alumni Institut Pertanian Bogot (IPB) itu juga mengkritik klaim swasembada beras dan jagung yang disampaikan oleh pemerintahan Jokowi.

"Secara teori, jika terjadi swasembada dan ketersediaan cukup harusnya harga akan turun namun faktanya di lapangan harga jagung di pasar domestik tetap tinggi artinya terjadi kelangkaan. Dan yang paling dirugikan adalah masyarakat," tutup calon legislatif dari Partai Gerindra itu.

Sebelumnya, dalam Debat Capres 2019 Putaran Kedua, Minggu (17/2), Jokowi menyebut pemerintahannya telah mampu menekan impor jagung sejak 2014. "2014 kita impor 3,5 juta ton jagung. Pada 2018 kita impor hanya 180 ribu ton jagung. Artinya ada produksi 3,3 juta ton jagung. Ini sebuah lompatan besar," kata Jokowi saat memaparkan visi/misinya dalam Debat Capres 2019 Putaran kedua tersebut.

Jokowi juga menyebut produksi beras pada 2018 tercatat mencapai 33 juta ton, dengan konsumsi masyarakat mencapai 29 juta ton, sehingga masih ada surplus pasokan.

Calon petahana itu mengatakan meski surplus, impor beras yang dilakukan adalah dalam rangka untuk menjaga ketersediaan stok pangan Nusantara.

Menurut dia, Indonesia harus memiliki cadangan pangan baik untuk bencana maupun cadangan pangan bila mengalami kondisi gagal panen.

"Mengapa kita impor? untuk menjaga ketersediaan stok, untuk stabilisasi harga," kata Jokowi.

Bila melihat data hingga tahun 2015, pernyataan Jokowi benar. Pada tahun 2015, impor jagung sebesar 3,27 juta ton menurut data Badan Pusat Statistik.

Pada 2012 impor jagung tercatat sebesar 1,69 juta ton, kemudian naik menjadi 3,19 juta ton di 2013, sebesar 3,25 juta ton di 2014 dan di 2015 sebesar 3,27 juta ton. Namun pada 2016 impor jagung hanya sebesar 900 ribu ton.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor jagung dari Januari hingga September 2018 mencapai 481.471 ton naik jika dibandingkan posisi yang sama pada tahun lalu sebesar 360.355 ton. Secara nilai, impor jagung tahun ini sampai September mencapai USD 105 juta sementara tahun lalu USD 80 juta.

Sementara itu, impor jagung sepanjang tahun 2018 mencapai 737,22 ribu ton dengan nilai USD 150,54 juta. Meski demikian, tidak ada penjelasan jagung tersebut khusus pakan ternak atau konsumsi, atau bahan baku olahan industri. [ray]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini