Andi Arief Sebut PDIP Dendam pada SBY Karena Menantu Sarwo Edhie

Kamis, 18 Februari 2021 10:16 Reporter : Ahda Bayhaqi
Andi Arief Sebut PDIP Dendam pada SBY Karena Menantu Sarwo Edhie sby mega. rumgapres/abror rizki

Merdeka.com - Ketua Bappilu Partai Demokrat Andi Arief menyerang balik pernyataan Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. Andi menyebut, Hasto mengutip pernyataan hantu eks Sekjen Demokrat Marzuki Alie.

"Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto membuat release menanggapi statement hantu Pak Marzuki Alie. Kenapa hantu, karena Marzuki mengarang bebas," kata Andi melalui akun Twitternya, dikutip Kamis (18/2).

Andi bilang, terkejut melihat ada dendam PDIP terhadap SBY sebagai menantu Jenderal Sarwo Edhie. Ia pun mempertanyakan alasan di baliknya.

"Lebih mengejutkan saya, ternyata ada dendam PDIP terhadap SBY karena sebagai menantu Jenderal Sarwo Edhie Wibowo. Dendam Ideologis?" tulis Andi.

Andi pun meminta Hasto tidak membenturkan SBY dengan Megawati Soekarnoputri. Andi bilang, Demokrat didoktrin tidak menyerang mantan presiden sejak lama.

"Sebaiknya Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto jangan membentur-benturkan mantan Presiden Ibu Mega dan Pak SBY. Biarlah mereka berdua menjadi panutan bersama, sebagai yang pernah berjasa buat sejarah politik kita. Kader Partai Demokrat sejak lama didoktrin untuk tidak membully mantan Presiden," tegas Andi.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto melontarkan pernyataan keras. Menyebut Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono menzalimi diri sendiri demi politik pencitraan.

Hal itu dilontarkan Hasto setelah mendengar pernyataan eks Sekjen Partai Demokrat Marzuki Alie. Marzuki mengungkap pengakuan SBY bahwa Mega kecolongan dua kali saat Pilpres 2004.

Pertama karena SBY mundur dari menteri kabinet Mega kemudian menjadi capres. Kedua, SBY mencalonkan sebagai presiden berpasangan dengan Jusuf Kalla.

Pengakuan itu, menurut Hasto, membuktikan apa yang SBY tuduhkan dizalimi Mega ternyata salah. Hasto mengatakan, masih segar dalam ingatan publik pada 2004 SBY bertindak seolah sebagai pihak yang dizolimi.

"Dalam politik kami diajarkan moralitas politik yaitu satunya kata dan perbuatan. Apa yang disampaikan oleh Marzuki Alie tersebut menjadi bukti bagaimana hukum moralitas sederhana dalam politik itu tidak terpenuhi dalam sosok Pak SBY. Terbukti bahwa sejak awal Pak SBY memang memiliki desain pencitraan tersendiri termasuk istilah 'kecolongan dua kali' sebagai cermin moralitas tersebut," ujar Hasto dalam keterangannya, Rabu (17/2).

"Jadi kini rakyat bisa menilai bahwa apa yang dulu dituduhkan oleh Pak SBY telah dizalimi oleh Bu Mega, ternyata kebenaran sejarah membuktikan bahwa Pak SBY menzalimi dirinya sendiri demi politik pencitraan," kata Hasto.

[rnd]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini