Anak buah SBY galau, bosnya terus diserang di media dan TV

Kamis, 27 September 2012 18:02 Reporter : Parwito
Anak buah SBY galau, bosnya terus diserang di media dan TV SBY. ©rumgapress/abror rizki

Merdeka.com - Untuk menepis isu miring atau negatif tentang kinerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY) selama memimpin negara ini, Sekretariat Kabinet RI secara periodik menerbitkan sebanyak 25 buku. Buku itu untuk menjawab isu miring selama pemerintahan SBY.

Selain untuk memberikan informasi situasi kinerja presiden, Setpres Kabinet RI juga ingin memberikan informasi yang sebenar-benarnya terkait kasus-kasus yang dijadikan isu politik oleh beberapa media. Apalagi marak pemilik media mempunyai kepentingan politik.

Pernyataan itu disampaikan oleh Staf Presiden di Sekretariat Kabinet RI Zaenal A Budiyono. Dalam acara Bedah Buku 'Memimpin di Era Politik Gaduh-Menyikapi Kinerja Pemerintahan SBY-Jika Kinerja Nyata Presiden SBY Dianggap Pencitraan' di Hotel Jayakarta di Jl Laks Adisutjipto, Yogyakarta, Kamis (27/9).

"Media mereka dimiliki oleh konglomerat dan partai tertentu sehingga mereka tidak obyektif. Sehingga dibutuhkan media alternatif. Sebagai presiden SBY tidak punya TV, koran media untuk mengubah isu dan paradoks salah satunya dengan jalan seperti ini," ungkap Zaenal.

Selain Zaenal A Budiyono selaku pembicara, hadir Guru Besar Ilmu Hukum dan Direktur Centre fo Local Law Development Studies (CLDS) Jawahir Thontowi (Pembedah Buku), Dr Eko setyanto dari UII Yogyakarta sebagai Moderator dan Dr Ahmad Yani Basuki Staf Khusus Presiden Publikasi dan Komunikasi yang membuka acara bedah buku itu.

"Pada konteks itu kami berkepentingan menerbitkan ini. Saat ini menerbitkan 25 buku untuk membahasakan pidato SBY untuk dibahasakan dengan bahasa ngepop yang agar bisa diterima oleh seluruh kalangan terutama kalangan remaja dan pemuda," ungkapnya.

Saat ini, Setpres menilai telah terjadi stigma dan masalah informasi yang simpang siur kebenaranya terkait kinerja SBY. Apalagi, beberapa kalangan cendekiawan dan pejabat-pejabat yang memiliki latar belakang intelektual yang tidak diragukan memojokkan dengan memberikan penilaian negatif terhadap pemerintah tanpa pertimbangan dan penilaian ilmiah. Hal itu dilakukan hanya karena pejabat dan para cendekiawan itu mempunyai kepentingan dan interes politik tertentu.

"Tidak adil jika dikatakan tidak ada hasil kepemimpinan. Apalagi ada pejabat di Jakarta menyatakan bahwa negara ini, negara gagal. Yang menyedihkan secara intelektual mereka sangat di hormati. Apakah karena interest politik tertentu mereka bisa mengatakan negara gagal. Bebas ok. Tapi adil dalam pencapaian konteks," jelasnya.

Maka dari itu, untuk menjawab stigma dan dogma negara gagal yang dilontarkan oleh beberapa kalangan pejabat serta cendikiawan yang mempunyai interes politik partai tertentu itu. Maka, Setpres dan Staf Kepresidenan perlu membuat puluhan buku sebagai pemberi informasi, klarifikasi dan duduk persoalan secara utuh.

"Buku itu berfungsi menjawab stigma-stigma serta dogma di masyarakat yang belum tentu kebenarannya. Untuk menjawab stigma dan dogma negara gagal, staf khusus dibentuk untuk ceritakan kebenaran. Seperti yang disampaikan beliau (SBY) katakan yang benar. Jangan malu, jangan takut. Di era sekarang memang ada kesan dari beberapa media membela pemerintah kurang seksi. Tapi menyerang adalah hal yang seksi," tegasnya.

Zaenal menegaskan, jika memang pemerintahan dan negara yang dipimpin SBY gagal, maka SBY tidak akan memperoleh sebanyak 24 penghargaan dari negara-negara lain.

"Ada sebanyak 24 penghargaan yang diterima SBY. Terakhir dan terbaru adalah penghargaan dari Coralty International. Kemudian penghargaan stabilnya di bidang ekonomi. Masuknya Indonesia ke dalam organisasi G-20 itu menunjukan negara yang sudah masuk ke negara menengah dan berkembang," pungkasnya. [ian]

Topik berita Terkait:
  1. Presiden SBY
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini