AHY atau Ibas yang Bisa Kembalikan Kejayaan Demokrat?

Rabu, 19 Februari 2020 08:01 Reporter : Raynaldo Ghiffari Lubabah
AHY atau Ibas yang Bisa Kembalikan Kejayaan Demokrat? AHY dan Ibas. ©Instagram Ani Yudhoyono

Merdeka.com - Suksesi kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Partai Demokrat akan dimulai pada Mei 2020. Demokrat akan menggelar kongres untuk mencari nakhoda baru untuk mengarungi arus politik nasional. Nama-nama calon ketua umum suksesor SBY mulai muncul di permukaan.

Dua putra 'mahkota' SBY, Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhi Baskoro Yudhoyono masuk bursa caketum. Keduanya dinilai kader-kader Demokrat punya peluang sama dan kualitas mumpuni untuk menggantikan SBY.

AHY sudah bergerak mencari modal maju caketum. Dia rajin berkeliling ke seluruh penjuru nusantara. Menyapa dan berkonsolidasi dengan pemilik suara Kongres, yakni DPD dan DPC Demokrat. Sementara Ibas, tentu punya caranya sendiri jika berniat menjadi pesaing AHY.

Achmad Mubarok berbicara kans dua putra SBY memimpin partai bintang mercy. Dan peluang kader lain berstatus kuda hitam merebut takhta pimpinan Demokrat dari trah 'Yudhoyono'. Pendiri partai ini menilai Demokrat memang membutuhkan penyegaran kepemimpinan untuk memantik semangat kader demi mengembalikan kejayaan partai.

Sejarah mencatat, Demokrat pernah berjaya di dua periode pemilu, yaitu Pemilu 2004 dan 2009. Pada Pemilu 2004, Demokrat sebagai partai baru meraup popularitas dengan menduduki peringkat 5. Demokrat mengusung SBY disandingkan dengan Jusuf Kalla. Secara mengejutkan, SBY-JK menang Pilpres dalam dua putaran mengalahkan Megawati-Hasyim Muzadi.

Terpilihnya SBY menjadi Presiden membuat suara Demokrat meroket di Pemilu 2009. Suara Demokrat naik hampir 3 kali lipat dari 7,45 persen menjadi 20,85 persen. Sudah menjawarai Pemilu 2009, SBY pun kembali terpilih menjadi Presiden untuk periode kedua. 1 dekade keemasan Demokrat.

"SBY sepertinya niat mau mundur. Sudah usia, bapak bangsa tidak urusin yang kecil-kecil," kata Mubarok saat berbincang dengan merdeka.com, Selasa (18/2).

Mubarok menilai AHY dan Ibas memiliki kelebihan, kelemahan, peluang dan potensi sendiri untuk menggantikan SBY. Kekurangan AHY hanya minim pengalaman politik, tapi berbakat menjadi pemimpin. Sementara Ibas, unggul pengalaman di dunia politik.

"Kalau AHY punya bakat. Cuma pengalaman kurang, pengalaman politik. Dua-duanya punya kelebihan berbeda. Kecerdasan AHY tapi Ibas lapangan. Pengalaman Ibas di DPR," ujar dia.

1 dari 4 halaman

Peluang Munculnya Kuda Hitam

Bursa caketum Demokrat, kata Mubarok, tidak tertutup peluang munculnya 'kuda hitam' di luar nama AHY dan Ibas. Menurut dia, ada kader Demokrat yang sudah bisik-bisik memberitahukan dan berkonsultasi dengannya untuk maju menjadi caketum. Mubarok menuturkan, si calon ini tahu bahwa maju Kongres Demokrat butuh modal besar. Selain dukungan, salah satunya uang.

Calon ini, kata dia, berkantong tipis. Modalnya hanya idealisme yang tinggi untuk membesarkan partai. Sayang Mubarok enggan membeberkan identitas kader tersebut.

Selain modal besar, dia menyebut banyak tidaknya kader maju caketum juga tergantung suasana dan dinamika politik nasional. Dia beranggapan nuansa politik terkini yang sedang lesu membuat kader Demokrat kurang berminat maju di Kongres.

"Mereka baru bisik-bisik saja. Belum terbuka. Kubu ada beberapa, orangnya konsultasi ke saya. Biasanya calon-calon muncul setengah bulan sebelum kongres," jelas dia.

2 dari 4 halaman

AHY atau Ibas yang Layak?

Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat Max Sopacua ikut memberikan pandangan soal AHY dan Ibas. Max menilai Ibas cukup diunggulkan karena punya pengalaman politik, baik di partai atau DPR. Tanpa ragu, dia menganggap Ibas paket komplet pengganti SBY.

Secara orientasi politik, menurutnya, Ibas tidak menemukan kendala besar. Jabatan sebagai ketua fraksi Demokrat di DPR membuat Ibas piawai membangun komunikasi politik atau berkonsolidasi antarpartai. Modal ini dianggap penting sebagai pemimpin partai.

"Saya lihat Mas Ibas sudah masuk ke wilayah politik. Pernah sekjen, ketua fraksi kebetulan anggota DPR 3 kali. Dia di sana ketua fraksi. Etalase parpol ada di DPR. Saya 2 periode di sana, pernah wakil ketua fraksi. Terjadi komunikasi parpol walaupun tidak semua pimpinan tapi kolaborasi parpol terjadi di DPR. Mas Ibas melakukan itu, dia punya potensi besar mendapat dukungan partai lain di DPR. Punya potensi luar biasa," ucap Max.

Tanpa mengesampingkan AHY yang minim pengalaman politik, Max menyebut putra sulung itu juga tidak bisa dipandang sebelah mata. AHY pernah didaulat menjadi Ketua Kogasma di Pemilu 2019. Posisinya sekarang di partai pun strategis yaitu Wakil Ketua Umum Demokrat.

"Mereka berdua berasal dari sumber sama dari hulu yang sama, Pak SBY. Pak SBY politikus besar menurun ke mereka. Yang terjadi sekarang, praktiknya di lapangan siapa yang in dan out. Dua-duanya tidak diragukan AHY pernah jadi Kogasma. Sekarang Waketum potensi dia besar. Dia berkeliling konsolidasi. Bukan untuk ketum saja tapi untuk Pilkada 2020," kata dia.

3 dari 4 halaman

Tantangan AHY dan Ibas Sebagai Suksesor SBY

Meneruskan tongkat estafet ketum Demokrat dari tangan SBY, diakui Max, memang tidak mudah. Dia mengatakan di balik nama besar SBY sebagai Presiden RI dua periode, muncul tantangan besar bagi AHY atau Ibas.

Pendiri Demokrat ini juga menerangkan, tugas berat dihadapan ketum terpilih adalah mengembalikan kejayaan Demokrat di Pilkada 2020 dan Pemilu 2024. Oleh karena itu, lanjut dia, mengukur keberhasilan seorang ketum yaitu dengan melihat pencapaian suara partai di kontestasi pemilu. Jika tidak menjadi pemenang Pemilu, paling tidak kursi di DPR bertambah.

Dalam dua event pemilu, Demokrat berada pada periode sulit. Pemilu 2014, suara Demokrat 10,19 persen anjlok dari pemilu 2009 yang berada di angka 20,85 persen. Sampai akhirnya hanya mendapatkan 7,7 persen suara di Pemilu 2019.

"Persoalannya keberhasilan menjadi panutan membangun partai di pilkada 2020 ujungnya di pemilu 2024. Menetapkan ketua partai asumsinya dapat apa?. Itu harus dilihat semua pemimpin parpol nuansa keberhasilan ada di tangan ketum. Apa keberhasilan? Menang di pemilu paling tidak menambah kursi signifikan," tegas dia.

Untuk itu, menurut Max, AHY, Ibas atau caketum lain harus memiliki gagasan dan ide untuk membawa Demokrat keluar dari keterpurukan.

"Bagaimana caranya? Ada layout masing-masing caketum. Ilmunya kayak gimana tergantung mereka. Orang yang mau maju menjadi calon pemimpin. Bukan hanya duduk sebagai juru mudi, tetapi kapal dia dibawa ke tempat tujuan dengan selamat. Cita-cita saya itu jadi harapan orang Demokrat, partai ini keluar dari keterpurukan," tandas Max.

4 dari 4 halaman

Pengalaman Politik AHY dan Ibas

Diketahui, AHY memulai karir politiknya saat dicalonkan Demokrat, PAN, PPP dan PKB di Pilgub DKI 2017. Dia diduetkan dengan pejabat SKPD Pemprov DKI Sylviana Murni. Kalah dari Anies-Sandi, AHY didapuk menjadi Komando Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat. Saat ini, dia menjabat sebagai Waketum Demokrat.

Sementara Ibas, sejak awal di Demokrat dipercaya SBY Ketua Komisi Pemenangan Pemilu (KPP) atau yang akrab disebut Bappilu. Bicara soal pengalaman politik, Ibas juga lebih dulu terjun dibanding AHY. Ibas menjadi anggota DPR 3 periode sejak 2009 hingga 2019.

Dia mewakili aspirasi warga Daerah Pemilihan VII Jawa Timur, meliputi Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Magetan, dan Ngawi. Putra bungsu SBY ini menjadi ketua fraksi Partai Demokrat di DPR hingga sekarang. [ray]

Baca juga:
Ketua DPP Demokrat Klaim DPC Se-Indonesia Ingin AHY Jadi Ketum Gantikan SBY
Kongres Demokrat 2020, AHY atau Ibas Paling Layak?
Demokrat: Lucu, Omnibus Law Cipta Kerja Kok Salah Ketik
Sosok Gamal Albinsaid, dari Jubir BPN Prabowo-Sandi sampai Calon Wali Kota Surabaya
Waketum Syarief Hasan Harap Lahir Pemimpin Baru di Kongres Demokrat

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini