Agung Laksono: Golkar-PKC Belajar Tata Kelola Partai, Bukan Ideologi Komunis

Senin, 23 September 2019 16:28 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
Agung Laksono: Golkar-PKC Belajar Tata Kelola Partai, Bukan Ideologi Komunis Politikus China Temui Airlangga Hartarto. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto bertemu dengan Kepala Politbiro Hubungan Internasional Partai Komunis China Song Tao. Pertemuan di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Sabtu (21/9) lalu, membahas misi antara dua negara yang bersahabat, Indonesia dan Cina.

Ketua Dewan Pakar Partai Golkar, Agung Laksono mengatakan, Golkar sebagai salah satu partai terbesar di Indonesia sudah memiliki sejarah panjang dalam hubungan luar negeri dengan partai lain. Bahkan dengan Partai Komunis China (PKC). Hubungan antara Golkar dan PKC sudah berjalan sejak era Presiden Soeharto memimpin Indonesia.

"Dalam pertemuan itu tidak dibahas tentang pertukaran kader, tetapi lebih pada misi kebudayaan, misalnya tukar souvenir. Jangan diartikan yang aneh-aneh. Kedua pihak juga setuju untuk saling berkunjung," kata Agung kepada wartawan, Senin (23/9).

Dia menyatakan, pertemuan antara Golkar sudah sesuai dengan amanat UUD 1945, yakni aktif menjaga perdamaian dunia. Dalam hubungan luar negeri Indonesia dan Golkar berpatokan pada kebijakan luar negeri 'bebas dan aktif' yang bersifat non-blok dengan mencoba mengambil peran dalam berbagai masalah regional sesuai ukuran dan lokasinya.

Kunjungan Partai Golkar ke Partai Komunis China sendiri sudah dilakukan sejak lama. "Bahkan era Pak Wahono menjadi Ketua Umum Golkar saya menjadi perwakilan yang berkunjung ke China, ke PKC," ungkap Agung.

Bahkan Agung menyatakan, tak hanya sekali ia mengunjungi PKC. "Sudah tiga kali saya berkunjung ke PKC, era Pak Wahono, era Pak Harmoko dan era Pak Akbar Tanjung. Yang kami lakukan adalah meninjau sekolah kader di PKC, dan melihat bagaimana mereka mengelola partai dan asetnya. Kemudian jamuan makan malam dan makan siang dengan pejabat di sana," kata Agung.

Agung menyatakan, tidak benar seperti diisukan bahwa pada era Airlangga Hartarto baru ada kerja sama dengan PKC dan tukar-menukar kader.

Agung juga menjelaskan, jika kunjungan dan kerja sama itu tak mengubah dirinya untuk berpaham komunis. Kunjungan itu hanya semata-mata studi banding antara partai.

"Saya tetap antikomunis, saya tetap Golkar," tegas Agung.

Terakhir, Golkar juga mengirimkan kadernya seperti Roro Esty, Sari Yulianti dan Melki Lakanena berkunjung ke China. "Sekarang malah lebih banyak bicara soal ekonomi. Berbicara soal jalur sutera atau One Belt One Road, bahkan saya lihat lebih banyak bicara soal kapitalis," ungkap Agung.

Hal ini tentu menarik karena China yang berpaham komunis, tetapi ekonominya kapitalis.

1 dari 1 halaman

Gerindra dan PDIP juga Bertemu

Agung juga menegaskan, jika kunjungan ke China tak hanya dilakukan oleh Golkar. PDIP, Partai Gerindra, Partai NasDem, PKS dan PPP serta PKB juga berkunjung ke PKC di China. Bahkan saat PKC pekan ini berkunjung ke Indonesia, juga menyempatkan diri bertemu PDIP dan Gerindra.

"Tiga partai itu secara khusus mereka kunjungi. Jadi kenapa diributkan soal Golkar yang aneh-aneh," ujarnya.

"Kita tetap anti komunis, tetapi dari saling kunjung ini, kita tahu apa yang dilakukan PKC untuk negerinya. Ini sifatnya ilmiah. Jadi jangan keliru menterjemahkannya," jelas Agung.

"Sampai-sampai kita terbawa-bawa Golkar dengan PKC yang komunis. Kita kerja sama bukan soal ideologinya. Akan tetapi lebih pada tata cara pengelolaan partai. Saya setuju untuk tetap diteruskan kerja sama ini," tutur Agung.

Agung meminta semua pihak untuk tidak berprasangka buruk atas kunjungan PKC ke Golkar. "Jangan phobia, hubungan kita tetap terbuka dan Golkar selalu menjaga dan menghargai kedaulatan masing-masing. Saya kira PKC juga sama," ucapnya.

Agung merasa perlu meluruskan hal itu karena ada pihak-pihak yang memakai momen kunjungan PKC ini untuk mendiskreditkan Airlangga Hartarto dan Golkar.

"Ini menjelang Munas Golkar, jadi ada yang berusaha goreng-goreng pertemuan seolah-olah Golkar melenceng. Perlu saya tegaskan, Golkar tetap partai moderat siapa pun yang memimpin. Golkar tetap partai tengah, tetap partai kebangsaan dan tetap partai kemajemukan dan ideologi Pancasila," tegas Agung. [rnd]

Baca juga:
Politikus China Temui Airlangga Hartarto, Bahas Kerja Sama Parpol
Ketum Golkar Sepakat Pengesahan RKUHP Ditunda
Airlangga Hartarto Komitmen Tingkatkan Kompetensi Guru
Sebut Airlangga Bawa Banyak Perubahan, Golkar Raja Ampat Dukung Jadi Ketum Lagi
M Qodari: Ketum Golkar Harus Rendah Hati dan Mudah Dihubungi

Topik berita Terkait:
  1. Partai Golkar
  2. Agung Laksono
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini