4 Politikus Demokrat dan PAN yang Bikin Geram Kubu Prabowo

Jumat, 14 Juni 2019 06:15 Reporter : Syifa Hanifah
4 Politikus Demokrat dan PAN yang Bikin Geram Kubu Prabowo Prabowo Sikapi Penetapan Hasil Pemilu KPU. ©2019 Liputan6.com/Faizal Fanani

Merdeka.com - Koalisi Prabowo Subianto-Sandiaga Uno kerap kali diisukan tidak solid atau setengah hati mendukung Prabowo-Sandi di Pilpres 2019. Partai Demokrat dan PAN menjadi partai koalisi yang dikabarkan setengah hati mendukung Prabowo.

Setelah Pilpres, ketidaksolidan Demokrat dan PAN mendukung Prabowo terlihat dari penyataan-pernyataan sebagian elite politik Demokrat dan PAN yang seolah menyudutkan Prabowo dan kerap kali membuat kubu Prabowo geram. Bahkan isu yang berkembang Demokrat dan PAN akan meninggalkan Prabowo.

Siapa saja politikus Demokrat dan PAN yang membuat kubu Prabowo Subianto geram? Ini ulasannya:

1 dari 5 halaman

Andi Arief

Politikus Partai Demokrat, Andi Arief beberapa kali membuat kubu Prabowo Subianto geram oleh celotehan Andi Arief di media sosial. Contohnya terkait Andi Arief menyebut ada 'setan gundul' memberi informasi sesat ke Prabowo. Kala itu Prabowo mengklaim memenangkan Pilpres 2019.

"Partai Demokrat ingin menyelamatkan Pak Prabowo dari perangkap sesat yang memasok angka kemenangan 62 persen. Setan Gundul ini yang memasok kesesatan menang 62 persen," kicau Andi dalam akun twitternya @AndiArief__, Senin (6/5).

Terkait cuitan Andi Arief terkait setan gundul, saat itu Cawapres 02 Sandiaga Uno meminta Andi menyebutkan siapa sosok yang dimaksud 'setan gundul' yang mendorong Prabowo Subianto mendeklarasikan kemenangan 62 persen.

"Mungkin bisa diklarifikasi ke Pak Andi Arief, ini kan zamannya menggunakan bahasa terang, jangan menggunakan bahasa bahasa abu abu dan gelap bersayap seperti ini, menurut saya sebut nama saja," kata Sandiaga.

2 dari 5 halaman

Ferdinand Hutahaean

Politikus Demokrat lainnya yang membuat geram kubu Prabowo, yakni Ferdinand Hutahaean. Cerita berawal, dari pernyataan Prabowo usai melayat Ani Yudhoyono ke kediaman SBY. Saat itu Prabowo menyampaikan kenangan terhadap Ibu Ani, namun tidak hanya itu Prabowo juga mengatakan sikap politik Ibu Ani.

Kepala Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean mengungkap jika pembicaraan antara SBY dan Prabowo terkait sikap politik mendiang Ani Yudhoyono hanya untuk internal.

"SBY meyakinkan Prabowo bahwa Demokrat tidak setengah hati memenangkan lu Wo (Prabowo). Cuman lu enggak serius menang, bahkan Bu Ani saja memilih lu. Kan kira-kira begitu ya. Tapi hal itu tidak untuk disampaikan ke publik itu adalah perbincangan internal," kata Ferdinand pada merdeka.com, Minggu (9/6).

3 dari 5 halaman

Rachlan Nashidik

Wasekjen Partai Demokrat Rachlan Nashidik juga membuat kubu Prabowo panas. Rachlan meminta capres nomor urut 02 Prabowo Subianto untuk segera membubarkan Koalisi Indonesia Adil Makmur. Alasannya, kata dia, gugatan hasil Pilpres 2019 ke Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai persyaratan partai koalisi.

"Pak @prabowo, Pemilu udah usai. Gugatan ke MK adalah gugatan pasangan Capres. Tak terpilih sebagai anggota Partai. Saya usul, kamu segera bubarkan Koalisi dalam pertemuan yang dijadwalkan," kata Rachlan dalam akun Twitter resminya, Minggu (9/6).

4 dari 5 halaman

Bara Hasibuan

Ada juga politikus PAN yang beberapa kali membuat hubungan PAN dan koalisi Prabowo memanas. Dia adalah Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Bara Hasibuan. Bara Hasibuan menilai, bukti-bukti yang dibawa Tim Hukum Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga untuk sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi kurang valid. Sebab, hanya berupa tautan (link) berita.

"Kalau berdasarkan apa yang kita lihat di laporan media, memang ternyata bukti-buktinya kurang valid ya," ujar Bara.

Kemudian Bara juga menilai partainya lebih baik daripada koalisi pemerintah. Alasannya, secara historis PAN memang selalu berada dalam pemerintahan. "Pertimbangannya macam-macam, kita kan secara historis dari organisasi kita berdiri Agustus 98 sampai sekarang sebagian besar waktu kita ada di pemerintahan. Jadi memang sudah jadi pola dan tradisi dalam PAN buat ada di pemerintahan," kata Bara.

Namun pernyataan Bara, dipatahkan oleh Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno. Ia menegaskan partainya akan tetap berada dalam Koalisi Indonesia Adil Makmur pendukung Capres-Cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

"Saya Sekjen partai, jadi pernyataan saya bisa dijadikan pegangan: Kita konsisten di koalisi parpol pendukung paslon 02 dan PAN sepenuhnya akan memperjuangkan hak paslon kita di MK (Mahkamah Konstitusi)," kata Eddy pada wartawan, Rabu (12/6).

5 dari 5 halaman

Tanggapan Gerindra

Sementara itu, Wasekjen Gerindra Andre Rosiade geram salah satunya terkait pernyataan Politisi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean di media sosial. Andre menilai, pernyataan dilakukan Ferdinand terus menyudutkan Prabowo Subianto. Seolah, apa yang dilakukan Prabowo saat melayat Almarhumah Ani Yudhoyono merupakan hal yang keliru berat.

Andre menyarankan, bila memang Ferdinand atau Partai Demokrat ingin langkah walk out dari Koalisi Indonesia Adil Makmur jangan dibuat keruh.

"Jadi saya saran, kalau mau keluar jangan cari pembenaran, silakan saja, selamat jalan semoga mendapat yang diinginkan di kubu sebelah," kata Andre. [has]

Baca juga:
BPN Minta PAN dan Demokrat Tertibkan Kader Genit yang Ancam Keluar Koalisi
TKN Sebut BPN Prabowo Salah Paham soal Laporan Dana Kampanye Jokowi
KPU Jawab Penggelembungan 22 Juta Suara: Waktu Rekap Kok Enggak Ada Keberatan
Politikus Senior Demokrat Berkumpul, akan Nyatakan Sikap Soal Nasib Koalisi
Siapkan Pengamanan, Kapolri Puji Prabowo yang Minta Pendukung Tak Datang ke MK
TKN Bantah Tudingan BPN Soal Kejanggalan Sumbangan Dana Kampanye Jokowi

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini