Zohri lahir dengan bakat alam

Jumat, 13 Juli 2018 08:34 Reporter : Ali Dungga
Rumah Muhammad Zohri. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Atlet atletik Indonesia, Lalu Muhammad Zohri jadi kebanggaan baru. Usianya menginjak 18 tahun, pemuda asal dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, kecamatan Pemenang, Lombok Utara ini telah mendulang prestasi dunia. Kontras dengan kondisi kehidupannya yang penuh getir.

Muhammad Zohri lahir dari keluarga sangat miskin. Zohri lahir tanggal 1 Juli 2000 silam. Ia adalah anak ketiga (bungsu) dari pasangan L. Ahmad (almarhum) dan Inaq Saerah (almarhumah). Anak pertama dari pasangan AhmadSaerah adalah Baiq Fazilah. Ia ikut berjasa mengantarkan Zohri sampai ke prestasi saat ini.

Dikisahkan Ma'arif, kakak Zohri sebagai anak bungsu cukup kesulitan menghadapi perjalanan masa kanak-kanaknya. Masih duduk di bangku SDN 2 Pemenang Barat, Zohri sudah ditinggal oleh ibunya, Inaq Saerah. Menyusul ia ditinggal oleh ayahnya, L. Ahmad, sekitar Agustus 2017 lalu. Sejak ia dijemput menjadi atlet PPLP, hanya pada saat pemakaman ayahnya lah, ia diperobolehkan pulang.

Menghiasi keseharian Zohri sebelum menjadi atlet berprestasi. Zohri di sekolahnya dicap anak nakal. Namun potensi besarnya sebagai pelari sudah terlihat oleh guru olahraga SMPN 1 Pemenang tempatnya sekolah-. Alasan itulah, pihak sekolah tidak mau menyerah begitu saja saat membujuk Zohri. Membujuk untuk sekolah, dan mau bergabung di PPLP.

"Zohri ini anaknya nakal, sampai pernah dibangunkan oleh guru untuk berangkat sekolah. Saat akan dijemput oleh PPLP, dia tidak mau. Alasannya karena biaya, dan tidak mau membebani orang tua," aku Fatoni.

Zohri akhirnya tak bisa mengelak saat diangkut ke PPLP. Itu berkat dorongan dari masyarakat sekitar kediaman Zohri. Mereka memberi pandangan kepada Zohri bahwa biaya sekolah ditanggung pemerintah. Bagi masyarakat, kesempatan hanya datang sekali.

"Akhirnya Zohri berangkat, tetapi masih dalam keadaan kalut, sampai naik mobil saat dibawa ke PPLP dia tidak mau pakai sandal," imbuh Fatoni.

Sejak kecil, Zohri diakui punya bakat besar dalam olahraga lari. Hobinya sejak masih anak-anak adalah sepak bola. Tidak jarang, ia mengasah kecepatannya dengan berlari di sepanjang sempadan Pantai Bangsal.

Diakui oleh Rosida, guru olahraga dimana Zohri bersekolah, bakat Zohri memang sudah terlihat dan terlahir secara natural. Di usia anak-anak seumuran, Zohri ia lihat memiliki postur tubuh yang tinggi, dan atletis.

Peran besar Rosida dalam mengarahkan Zohri ke dunia atletik, tidak bisa dipandang enteng. Dialah yang pertama menyarankan agar Zohri menekuni olahraga yang bersifat individu. Meyakinkan Zohri mulanya sulit, karena yang bersangkutan terlanjur menyukai sepak bola. Namun pandangan gurunya meyakinkan Zohri untuk turun di gelanggang lintasan.

"Awalnya cukup sulit meyakinkan, karena saat itu alasannya ulangan (ujian) semester. Saya ajak ke ruang guru, kareana dia tidak mau ikut lomba padahal sudah seleksi. Sampai pak Kepala Sekolah menjamin, akan memberi nilai 85 di semua mata pelajaran seandainya menang. Akhirnya feeling kita terbukti," papar Rosida.

Momen Kejurda tingkat Provinsi lah yang menjadi titik tonggak karir atletik Zohri. Bahkan pada 2017 lalu, Zohri seorang diri mampu menyumbang 7 medali emas untuk NTB pada even nasional. Sedangkan pada even tingkat regional di Singapura dan Thailand, Zohri meraih medali Perak. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini